Cegah Kekerasan di Pesantren, Mahasina Susun Sistem Pembinaan Santri Berbasis Kasih Sayang
NU Online · Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:30 WIB
Soft launching Buku Nilai-Nilai, Adab, Tata Tertib, dan Sistem Pembinaan Santri dalam acara Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (Foto: NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Bekasi, NU Online
Pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren membutuhkan sistem pembinaan yang tidak hanya menekankan kedisiplinan, tetapi juga mengedepankan pendidikan, pengasuhan, dan kasih sayang. Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, menyusun buku pedoman nilai-nilai, adab, tata tertib, dan sistem pembinaan santri sebagai acuan membangun lingkungan pendidikan yang aman dan berkarakter.
Buku tersebut diluncurkan dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Kamis (22/10/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Nyai Badriyah Fayumi, menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan, pengajaran, sekaligus pengasuhan. Karena itu, pembinaan santri tidak cukup hanya mengandalkan tata tertib, tetapi memerlukan sistem yang menyatukan nilai, aturan, dan pelaksanaannya.
“Pesantren itu sebagai lembaga pendidikan, pengajaran dan sekaligus pengasuhan,” ujarnya saat ditemui NU Online setelah peluncuran buku tersebut.
Menurutnya, pesantren bukan hanya ekosistem pendidikan, melainkan juga ekosistem keluarga. Pendidikan formal, nonformal, dan informal perlu berjalan beriringan dengan pengasuhan yang memperhatikan kehidupan santri secara menyeluruh.
“Sehingga penting ada pedoman nilai-nilai, pedoman adab, aturan, jadi tidak sekadar tata tertib santri. Lebih lengkap lagi,” ujarnya.
Nyai Badriyah menjelaskan bahwa sistem pembinaan dalam buku tersebut bertumpu pada nilai dan norma yang didukung struktur pelaksana, aturan, serta mekanisme yang jelas. Seluruh unsur itu diarahkan untuk membangun budaya santri yang tangguh, santun, tertib, rapi, bertanggung jawab, disiplin, sehat, aman, dan berprestasi.
Filosofi pendidikan dalam buku tersebut, lanjutnya, merujuk pada Surah Ali Imran ayat 159 dan Al-Baqarah ayat 151. Penerapannya didukung oleh Idaro dan Mahkamah Idaro sebagai bagian dari struktur pembinaan di pesantren.
Idaro berperan mendorong santri membiasakan perilaku baik, seperti menjaga ketertiban, kedisiplinan, kebersihan, dan kesopanan. Sementara itu, Mahkamah Idaro menjadi bagian dari mekanisme pembinaan ketika santri belum menjalankan nilai-nilai tersebut dengan baik.
Di tingkat asrama, setiap santri memiliki wali asrama serta musyrif atau musyrifah. Wali asrama berfokus pada pengasuhan yang mencakup keimanan, makan, kesehatan, kebersihan, kerajinan, dan ketertiban. Adapun musyrif dan musyrifah lebih banyak menangani aspek akademik.
“Kalau sistem kan memang semuanya saling terkait ya, satu sama lainnya. Dan pasti harus ada nilai, harus ada nilai-nilai yang menjadi sandaran utamanya,” tutur Nyai Badriyah.
Ia berharap buku tersebut menjadi acuan pembinaan di lingkungan Mahasina sekaligus dapat menjadi rujukan bagi pesantren lain yang ingin mengembangkan sistem pembinaan serupa.
Pengajar Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Nurur Rohmah, mengatakan buku itu disusun untuk menyamakan persepsi mengenai nilai-nilai pesantren, adab santri, tata tertib, poin pelanggaran dan prestasi, pembinaan disiplin, keamanan, kesehatan, serta struktur pembinaan.
Ia menjelaskan bahwa pemberian poin pelanggaran tidak dilakukan secara sepihak. Pengurus terlebih dahulu mengonfirmasi kejadian kepada santri untuk memastikan duduk perkaranya.
“Jadi ketika ada santri yang lalai mengerjakan sesuatu seperti telat jamaah atau sebagainya itu dikasih poin berapa, diberikannya setelah kita klarifikasi dahulu jadi tidak sepihak tapi kita konfirmasi dahulu,” katanya.
Selain mencatat pelanggaran, pesantren juga memberikan poin prestasi kepada santri yang berani tampil dalam kegiatan di dalam maupun di luar pesantren, termasuk mengikuti perlombaan.
Nurur menegaskan bahwa pemberian sanksi harus berorientasi pada pendidikan, bukan kemarahan atau dendam. Pendekatan terhadap setiap santri juga perlu mempertimbangkan karakter dan kondisi mental masing-masing agar pembinaan tidak dilakukan secara seragam tanpa memahami persoalan yang dihadapi.
“Di buku ini ditekankan kalau memberikan sanksi harus yang mengedepankan pendidikan bukan ada unsur marah atau dendam,” ucapnya.
Ia menambahkan, prinsip rahmah (kasih sayang), maghfirah (pemaafan), dan musyawarah menjadi landasan pembinaan. Prinsip tersebut juga diwujudkan melalui pemberian hak kepada santri untuk menyampaikan klarifikasi sebelum pengurus mengambil keputusan.
Sementara itu, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, KH Abu Bakar Rahziz, berharap buku tersebut dapat meningkatkan akhlak dan adab santri serta memberikan manfaat bagi pesantren lain.
“Semoga buku ini dapat meningkatkan akhlak dan adab santri-santri, berguna dan bermanfaat bagi pesantren Mahasina dan pesantren lainnya yang menerapkan dari buku ini,” tuturnya.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
Khutbah Jumat: 6 Teladan Nabi Yahya bagi Generasi Muda
3
Khutbah Jumat: Krisis Integritas, Ketika Dosa Dianggap Biasa
4
Khutbah Jumat: Menjaga Makanan Halal, Menjaga Keberkahan Hidup
5
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua