FGD Muslimat NU Bersama Pemerintah Rumuskan Langkah untuk Atasi Problem Pengangguran Terdidik
NU Online · Selasa, 21 April 2026 | 23:00 WIB
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) melalui Bidang Ketenagakerjaan dan Pelatihan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI di Kantor PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk merumuskan langkah konkret dalam mengatasi problem pengangguran terdidik di Indonesia.
FGD bertajuk Ruang Kolaborasi dengan Pemerintah untuk Perluasan Kesempatan Tenaga Kerja Mengurangi Pengangguran ini melibatkan sejumlah mitra, di antaranya Koperasi Merah Putih Nasional Pesantren, Apernu (Advokasi Pemberdayaan Nusantara), pelaku usaha dan UMKM seperti PT Djago dan NU Kita, serta Djarum.
Baca Juga
Pengangguran Terbuka Capai 8,5 Persen
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengangguran terdidik masih tergolong tinggi. Banyak lulusan baru (fresh graduate) yang menghadapi kesulitan dalam memasuki dunia kerja.
Berdasarkan data Tingkat Pengangguran Terbuka 2025 menurut tingkat pendidikan, persentase pengangguran tercatat sebagai berikut: tidak/belum pernah sekolah atau belum tamat dan tamat SD sebesar 2,30 persen, SMP 3,80 persen, SMA umum 6,88 persen, SMA kejuruan 8,63 persen, Diploma I/II/III 4,31 persen, dan universitas 5,39 persen.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya strategi pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja secara berkelanjutan, agar lulusan baru tidak hanya menambah angka pengangguran, tetapi juga dapat segera berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.
Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian RI, Erdiriyo, menyampaikan bahwa pemerintah menawarkan solusi jangka pendek melalui pembukaan peluang kerja di luar negeri bagi lulusan baru melalui program migrant worker. Program ini mencakup pelatihan bagi pemuda untuk bekerja di sektor formal di negara seperti Jepang dan sejumlah negara Eropa, dengan potensi penghasilan yang tinggi.
“Yang pertama yang paling memungkinkan dalam jangka waktu yang istilahnya itu jangka pendek kita berikan kesempatan kepada adik-adik kita itu kita lakukan apa yang disebut dengan migrant worker jadi kita melakukan pelatihan-pelatihan kepada pemuda-pemudi kita untuk bekerja di sektor formal tapi di luar negeri,” ujar Erdiriyo kepada NU Online.
Selain itu, katanya, pemerintah mendorong pelatihan kewirausahaan di bidang ketahanan pangan melalui konsep smart farming, yaitu pelatihan yang terintegrasi dengan teknologi tepat guna. Program ini memanfaatkan lahan yang tersedia serta menjalin kerja sama antara klaster pertanian dengan perusahaan offtaker, seperti supermarket, agar hasil panen dapat langsung terserap pasar.
"Yang kedua yang kita bisa dorong adalah pelatihan-pelatihan perwirausahaan di bidang ketahanan pangan,” katanya.
Lebih lanjut, Erdiriyo menekankan pentingnya pemanfaatan peluang ekonomi digital dengan melatih lulusan baru menjadi agen laku pandai. Melalui peran tersebut, mereka dapat memperoleh penghasilan dari berbagai layanan keuangan, bahkan ada yang mampu meraih lebih dari Rp40 juta per bulan.
“Yang ketiga yang tidak kalah pentingnya juga yaitu dengan digital. Digital ini bisa menjadi kepanjangan tangan lembaga keuangan, sehingga adik-adik kita ikut tumbuh bersama industri keuangan digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketiga strategi tersebut dapat dijalankan tanpa membebani APBN karena mengedepankan kolaborasi multipihak. Dalam hal ini, Muslimat NU dinilai memiliki posisi strategis sebagai organisasi masyarakat Islam besar yang mampu mempercepat implementasi program dan membuka peluang kerja sama produktif ke depan.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Pelatihan PP Muslimat NU Hj Ariza Agustina menyatakan bahwa Muslimat NU memiliki potensi besar, khususnya dari kalangan perempuan yang sebenarnya memiliki kapasitas, meskipun belum seluruhnya terlibat dalam pasar kerja.
Menurutnya, langkah yang perlu dilakukan adalah meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan melalui kemitraan dan sinergi lintas sektor.
“Kita ingin meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan dengan mencari mitra untuk kolaborasi dan sinergi,” ujarnya.
Ia berharap ke depan akan terbentuk berbagai skema business matching yang mampu memperkuat kerja sama dan memberikan manfaat nyata, terutama di tengah tantangan krisis global yang berdampak pada rantai pasok.
“Mudah-mudahan ada bentuk-bentuk bisnis matching yang lain yang memungkinkan terjadinya kerjasama dan sinergi yang bisa memberi manfaat ya, apalagi di tengah krisis global saat ini ya, harga tidak melonjak terlalu tinggi,” pungkasnya.
Kontributor: Ahmad Syafiq S
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
3
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Urutan Bulan Haram, Mana yang Pertama?
4
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
5
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
6
Gus Yahya Pilih Jaga Jarak atas Kasus Gus Yaqut, Tak Libatkan NU dalam Urusan Keluarga
Terkini
Lihat Semua