Guru Besar UGM Beberkan Trik Khusus Menulis Artikel Ilmiah
NU Online · Kamis, 27 Agustus 2020 | 21:00 WIB
Ali Musthofa Asrori
Kontributor
Yogyakarta, NU Online
Menulis artikel ilmiah atau ilmiah popular baik dalam media arus utama maupun jurnal nasional dan internasional memiliki kiat dan trik khusus. Salah satunya adalah menyesuaikan tulisan dengan alur pikir yang runut.
Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Irwan Abdullah mengatakan hal tersebut saat didaulat menjadi narasumber pada kegiatan evaluasi karya tulis tenaga fungsional widyaiswara/peneliti (Academic Writing) di Hotel Phoenix Yogyakarta, Kamis (27/8).
"Alur pikir jurnal setidaknya terdiri dari lima langkah. Pertama, menentukan problem sosial keagamaan. Kedua, respons literatur atas problem itu. Ketiga, argumen atau hipotesis yang akan diuji. Keempat, data untuk pembuktian. Kelima, analisis," ujarnya di hadapan peserta dari sejumlah BDK di seluruh Indonesia.
Menulis sebuah artikel, lanjut Prof Irwan, bisa dimulai dengan menyusun terlebih dahulu satu kalimat utama dalam sebuah paragraf. "Upayakan kalimat ini tidak mati agar kita bisa melanjutkan dalam uraian lebih panjang dan mendalam," tegasnya.
Ia mencontohkan dalam sebuah kalimat, perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Indonesia terdiri dari pulau-pulau. "Nah, kalimat seperti ini merupakan kalimat mati. Kalimat harus dikendalikan. Jangan bikin kalimat mati atau kalimat yang melahirkan penafsiran ganda," ungkap Prof Irwan.
"Buatlah kalimat hidup agar kita bisa meneruskan tulisan. Kalimat hidup seperti: ‘Perubahan sosial selain disebabkan oleh faktor internal, juga oleh faktor eksternal. Nah, dari kalimat ini nanti bisa diurai," terangnya.
"Saya pernah menyelesaikan sebuah tulisan dalam perjalanan dari Yogya ke Gorontalo. Saat naik pesawat, saya menulis di kursi pesawat hingga mendarat di bandara di Makassar. Sambil nunggu saya teruskan hingga boarding. Di dalam pesawat saya lanjutkan hingga turun di Gorontalo. Tulisan bisa lancar dan selesai karena setiap paragraf saya mulai dengan kalimat hidup," sambungnya.
Menurut pria kelahiran Aceh Utara, 8 September 1963 ini, menulis bisa di mana saja, sambil rehat sejenak atau mampir di warung kopi kita bisa menyelesaikan satu bahasan jika selalu memulai paragraf dengan kalimat hidup.
"Kalau menulis kan tiap ada ide bagus langsung taruh di depan, dapat lagi taruh lagi. Jadi, supaya energinya tidak habis. Setiap paragraf kita tulisan kalimat pembuka saja dulu. Setelah itu ditinggal buat paragraf berikutnya juga cukup satu kalimat hidup. Nanti baru kita lengkapi kalimat-kalimat berikutnya untuk menyelesaikan tulisan secara utuh," terang Prof Irwan.
Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua