Guru Besar UI Jelaskan Alasan PM Israel Benjamin Netanyahu Tak Kunjung Ditangkap
NU Online · Kamis, 17 April 2025 | 12:30 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Hikmahanto Juwana menjelaskan alasan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tidak kunjung ditangkap atas tuduhan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat soal genosida kepada Bangsa Palestina sejak 7 Oktober 2023.
Bahkan Prof Hikmahanto mengungkapkan, International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat penangkapan untuk Netanyahu. Hal itu, menurutnya, sebagai masalah yang perlu dihadapi oleh proses hukum internasional.
"Ini menunjukkan bahwa hukum internasional tidak sama seperti hukum nasional," katanya dikutip NU Online melalui keterangan resmi di Instagram pribadinya, pada Kamis (17/4/2025).
Prof Hikmahanto mengungkapkan bahwa dalam konteks hukum, satu fakta bisa dilihat dari dua perspektif yang berbeda. Ketika Mahkamah Pidana Internasional menganggap Netanyahu ini sebagai pelaku kejahatan, tetapi di negara asalnya di Israel, Netanyahu ini dianggap sebagai pahlawan.
"Karena apa? Dianggap bahwa Netanyahu melakukan serangan balasan terhadap serangan dari Hamas pada 7 Oktober 2023. Nah karena Netanyahu dianggap sebagai pahlawan atau bukan pelaku kejahatan sehingga ketika surat penangkapan dikeluarkan oleh ICC maka polisi Israel tidak mau mengirim yang bersangkutan," jelasnya.
Meski begitu, lanjutnya, terdapat pengecualian kalau Perdana Menteri Netanyahu sedang berpergian ke luar negeri yang kemungkinan bisa ditangkap dan diserahkan kepada Mahkamah Pidana Internasional.
"Negara tersebut beberapa waktu yang lalu misalnya Hongaria mau untuk menyerahkan Perdana Menteri Netanyahu ke ICC tetapi kenyataannya tidak karena apa Netanyahu dianggap sebagai tamu di Hongaria memang ini permasalahan yang sangat pelik yang tidak bisa mendapatkan jawaban yang tuntas," ungkapnya.
Meski banyak yang kecewa atas kejadian itu, Prof Hikmahanto mengungkapkan bahwa alasan lain susahnya menangkap Perdana Menteri Netanyahu yaitu apabila suatu negara dalam situasi kalah perang maka akan mudah untuk diambil.
"Tetapi kalau dia masih menang perang, maka akan sulit. Saya rasa itu," katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa masyarakat internasional sedang cacat secara kemanusiaan karena masalah Palestina tak kunjung usai hingga kini.
Gus Yahya menyinggung kecacatan kemanusiaan itu sebagai kegagalan dunia jika gagal menemukan solusi yang manusiawi bagi masalah-masalah akibat peperangan di Palestina.
"Selama ini saya selalu mengartikulasikan melihat masalah Palestina ini sebagai masalah kemanusiaan bukan sekadar masalah politik, bukan sekadar masalah kepentingan-kepentingan ekonomi dan militer," terangnya.
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Terkini
Lihat Semua