Gus Faiz Ungkap Hikmah Pentingnya Berbaik Sangka dari Kisah Penjual Rokok di Al-Azhar
NU Online · Ahad, 12 April 2026 | 20:00 WIB
Gus Faiz dalam pengajian yang ditayangkan di kanal Youtube Lentera Ilmu Daarul Rahman, Ahad (12/4/2026). (Foto: tangkapan layar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Jakarta, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz) mengungkap hikmah tentang pentingnya husnuzan atau berbaik sangka kepada sesama melalui sebuah kisah reflektif dalam pengajian kitab Al-Hikam. Kisah tersebut berkaitan dengan seorang penjual rokok di depan Masjid Al-Azhar yang menyimpan pelajaran mendalam tentang kebeningan hati.
“Sering kali kita merasa sudah menjaga lisan, tidak menyakiti orang lain dengan ucapan. Tetapi kita lupa, hati kita belum tentu bersih dari prasangka,” ujar Gus Faiz dalam pengajian yang ditayangkan di kanal Youtube Lentera Ilmu Daarul Rahman, Ahad (12/4/2026).
Dalam pengajian tersebut, Gus Faiz menuturkan kisah hikmah tentang Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan seorang penjual rokok di depan pintu Masjid Al-Azhar bernama Syekh Faragli. Kisah ini disampaikan sebagai bahan renungan akhlak dalam kajian Al-Hikam.
“Ada kisah yang sangat dalam maknanya. Seorang ulama besar bisa saja tergelincir, bukan karena lisannya, tetapi karena lintasan hatinya,” tutur Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta itu.
Ia menjelaskan bahwa penyakit hati yang paling halus sering kali tidak disadari. Seseorang mungkin mampu menjaga lisannya dari celaan, tetapi belum tentu mampu menjaga batinnya dari rasa lebih baik dibandingkan orang lain.
“Prasangka itu sering tidak terasa. Bukan dari kata-kata kasar, tetapi dari rasa kecil dalam hati yang dibiarkan tumbuh menjadi penilaian,” jelasnya.
Dalam kisah tersebut, Imam Ibnu Hajar digambarkan berjalan menuju Masjid Al-Azhar dan melihat Syekh Faragli yang berjualan rokok di depan pintu masjid. Sosok itu dikenal sebagai ahli tasawuf dan orang saleh, namun pekerjaan lahiriahnya menimbulkan pertanyaan dalam hati sang imam.
“Di situ muncul pertanyaan dalam hati, bagaimana mungkin orang yang dekat kepada Allah justru berjualan rokok di depan masjid,” kata Gus Faiz menirukan isi kisah.
Lintasan hati itu, menurutnya, kemudian menjadi sebab teguran ruhani. Saat Imam Ibnu Hajar maju menjadi imam shalat, beliau tidak mampu membaca surah Al-Fatihah dengan sempurna, sehingga membuat jamaah tertegun.
“Itulah teguran yang sangat halus. Allah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hati,” ujarnya.
Setelah shalat, seorang murid yang berani namun tetap beradab mengajak sang guru untuk melakukan introspeksi. Ia menelusuri seluruh aktivitas lahiriah gurunya sejak pagi, tetapi tidak menemukan kesalahan.
“Kalau lahirnya tidak ada masalah, berarti kita harus melihat ke dalam hati. Bisa jadi ada sesuatu yang terlintas,” ungkapnya.
Dari situlah Imam Ibnu Hajar menyadari bahwa dirinya sempat berprasangka ketika melihat Syekh Faragli. Murid tersebut kemudian mengingatkan bahwa suuzan bukan perkara ringan dalam kehidupan spiritual.
“Dalam hikmah disebutkan, berbaik sangka itu tidak akan dihisab. Artinya, kita tidak akan disalahkan karena memilih husnuzan kepada orang lain,” tegasnya.
Gus Faiz menekankan bahwa orang berilmu sekalipun harus terus menjaga kebeningan batin. Ilmu dan ibadah tidak boleh berubah menjadi hijab yang menumbuhkan rasa lebih baik dari orang lain.
“Banyak orang jatuh bukan karena kurang ibadah, tetapi karena diam-diam merasa dirinya lebih bersih,” lanjutnya.
Dalam lanjutan kisah, Imam Ibnu Hajar kemudian mendatangi Syekh Faragli untuk bertabayun dan meminta maaf. Syekh Faragli menerimanya dengan tenang dan mempersilakan Imam Ibnu Hajar duduk di sampingnya.
“Beliau datang dengan rendah hati, menyadari bahwa yang salah bukan orang lain, tetapi prasangka dalam dirinya,” ucap Gus Faiz.
Tak lama kemudian, datang seorang pembeli rokok. Setelah itu, Syekh Faragli mengajak Imam Ibnu Hajar melihat sesuatu. Pembeli tersebut justru tidak jadi merokok, merasa mual, lalu membuang rokoknya.
“Itu terjadi bukan sekali, tetapi berulang. Di situ ada rahasia yang tidak terlihat,” katanya.
Ketika ditanya, Syekh Faragli menjelaskan bahwa dirinya bukan pendakwah yang pandai berbicara atau melarang orang dengan dalil. Namun, ia memiliki cara sendiri untuk mencegah kebiasaan buruk tersebut.
“Saya ini tidak pandai ceramah. Tapi saya tahu ini tidak baik, dan saya ingin orang berhenti,” tutur Gus Faiz menirukan isi kisah.
Ia menjelaskan bahwa setiap malam Syekh Faragli bangun untuk tahajud, lalu mendoakan agar setiap rokok yang dijualnya menjadi rokok terakhir bagi pembelinya.
“Beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikan setiap rokok yang mereka beli dariku sebagai rokok terakhir mereka.’ Itu dakwah yang sunyi, tetapi sangat kuat,” jelasnya.
Gus Faiz kemudian menegaskan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dengan lisan. Setiap orang bisa menjadi jalan hidayah sesuai dengan kemampuannya.
“Tidak semua orang harus berdiri di mimbar. Ada yang berdakwah dengan tulisan, ada yang dengan perbuatan, bahkan ada yang dengan doa di sepertiga malam,” katanya.
Ia menilai pesan ini sangat relevan di era media sosial, ketika orang mudah menilai dan memberi label hanya dari tampilan luar.
“Kita ini sering terlalu cepat menilai. Padahal kita hanya melihat yang lahir, sementara Allah melihat isi hati,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa husnuzan bukan berarti membenarkan semua hal, melainkan menahan diri dari penilaian tergesa-gesa dan menyadari keterbatasan diri.
“Husnuzan itu bentuk tawadhu. Kita sadar bahwa kita tidak tahu sepenuhnya keadaan orang lain,” tegasnya.
Gus Faiz mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati terhadap dosa hati yang halus namun berdampak besar, sekaligus menyadari bahwa kemuliaan seseorang bisa tersembunyi di balik hal-hal yang tidak tampak.
“Jangan mudah meremehkan orang lain, jangan merasa lebih suci, dan jangan batasi jalan hidayah hanya pada apa yang kita pahami,” pungkasnya.
Terpopuler
1
2.500 Alumni Ikuti Silatnas Iktasa di Istiqlal Jakarta, Teguhkan 3 Fungsi Utama Pesantren
2
Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo
3
War Haji, Jalan Pintas yang Berpotensi Sengketa
4
MBG dan Larangan Pemborosan dalam Islam
5
Ketua Umum PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Berlangsung Permanen
6
PBNU Soroti Wacana War Tiket Haji, Harus Dikaji Matang, Tekankan Aspek Keadilan Jamaah
Terkini
Lihat Semua