Gus Kautsar Kisahkan Tanda-Tanda Kelahiran Rasulullah: Istana Kisra di Persia Runtuh, Api Majusi Padam
NU Online · Selasa, 24 Februari 2026 | 22:15 WIB
Gus Kautsar dalam pengajian Ramadhan yang mengulas Qasidah Burdah, ditayangkan di Kanal Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) mengisahkan berbagai tanda besar yang mengiringi kelahiran Rasulullah SAW.
Peristiwa tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menandai guncangan besar terhadap peradaban dan kekuasaan dunia saat itu.
Hal tersebut ia sampaikan saat mengulas Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri dalam pengajian Ramadhan yang ditayangkan melalui kanal Youtube NU Online pada Senin (23/2/2026).
Dalam penjelasannya, Gus Kautsar menegaskan bahwa kelahiran Rasulullah merupakan titik balik peradaban. Salah satu peristiwa monumental yang terjadi pada malam kelahiran Nabi adalah keretakan tembok Istana Kisra di Persia.
Ia menjelaskan, Istana Kisra dikenal sebagai bangunan yang sangat kokoh, dengan tinggi mencapai 100 dzira’ atau sekitar 50 meter dan lebar sekitar seratus hasta. Namun pada malam itu, empat belas balkon istana tersebut runtuh. Peristiwa tersebut kemudian dipahami sebagai simbol awal keruntuhan dinasti Persia.
“Kelahiran Rasulullah adalah momentum perubahan era. Tanda-tanda alam yang dibaca oleh para ahli dari kaum Farisi menunjukkan bahwa akan datang masalah besar yang menandai kehancuran kerajaan mereka,” ujarnya.
Selain runtuhnya bagian istana, fenomena alam lain juga terjadi. Gus Kautsar menyebut Sungai Furat dan Danau Sawa mengalami kekeringan secara tiba-tiba.
“Kehidupan yang cukup baik yang dialami oleh ahli Farisi langsung berubah drastis, keringnya sungai Furat yang mengalir mulai Damaskus sampai Irak yang melewati wilayah mereka,” tuturnya.
Ia menjelaskan, kekeringan mendadak tersebut menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat Persia yang selama ini bergantung pada sumber air tersebut untuk menopang kehidupan.
“Hari itu tahu-tahu kering, semua orang yang mencoba mencari air pulang dengan tangan hampa penuh dengan keprihatinan. Imam Bushiri mengesankan bahwa susahnya itu sungai, padahal yang susah ya orang-orang yang ada di sekitarnya,” katanya.
Tak hanya itu, simbol keagamaan kaum Majusi pun turut mengalami peristiwa yang tidak biasa. Api abadi yang telah dijaga dan disembah selama ribuan tahun dilaporkan padam pada malam kelahiran Rasulullah.
“Api itu tidak pernah padam selama ribuan tahun karena banyak petugas yang memastikan terus menyala. Namun malam kelahiran Rasulullah, tahu-tahu padam,” ucap Gus Kautsar.
Ulama kharismatik dari Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur itu menegaskan bahwa rangkaian peristiwa tersebut bukan sekadar kisah historis, melainkan isyarat perubahan besar dalam sejarah umat manusia.
Gus Kautsar mengingatkan agar umat Islam tidak hanya membaca sejarah secara tekstual, tetapi juga menghayati keagungan Rasulullah sebagai sumber keteladanan dan perubahan peradaban.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua