Nasional BANJIR SUMATRA

Krisis Ekologi di Sumatra Belum Tertangani, Ribuan Korban Masih Bertahan di Pengungsian

NU Online  ·  Rabu, 11 Februari 2026 | 21:00 WIB

Krisis Ekologi di Sumatra Belum Tertangani, Ribuan Korban Masih Bertahan di Pengungsian

Salah satu kondisi rumah warga terdampak bencana Sumatra. (Foto: NU Online/Lukman)

Jakarta, NU Online

Hampir tiga bulan setelah banjir besar melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025, ribuan warga terdampak masih menghadapi kondisi pemulihan yang lamban. Laporan Lapor Iklim menilai penanganan pascabencana berjalan tidak terarah, bahkan dinilai gagal sejak fase tanggap darurat hingga masa pemulihan.


Juru Kampanye Trend Asia, Novita Indri, menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah terdampak, rumah warga belum dapat dihuni, mata pencaharian hilang, aktivitas sekolah terganggu, serta trauma masih membayangi, terutama bagi anak-anak.


“Bencana ini bukan semata-mata bencana alam, tetapi bencana ekologis. Kondisi warga saat ini sangat memprihatinkan, padahal Ramadhan sudah di depan mata dan kebutuhan dasar belum terpenuhi dengan baik,” ujarnya dalam Diskusi Lapor Iklim Pascabanjir Sumatra & Jelang Ramadan 2026: Ekonomi, Ekologi, dan Ketahanan Sosial, Selasa (10/2/2026).


Menurut Novita, skala kerusakan tidak hanya menghancurkan permukiman, tetapi juga melemahkan ketahanan energi desa, ketahanan pangan, serta jaring pengaman sosial masyarakat. Hal itu terlihat dari kesulitan warga memenuhi kebutuhan dasar hampir tiga bulan setelah bencana.


Ia mencontohkan kondisi di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Sungai yang sebelumnya dangkal dan penuh endapan tiba-tiba meluap, membawa material kayu berukuran besar dari wilayah Aceh Tengah dan menyebabkan kerusakan luas.


Kerusakan serupa juga terjadi di daerah lain. Di Kabupaten Pidie Jaya, banjir menghancurkan kebun jagung dan menimbun rumah warga dengan lumpur setinggi dua hingga tiga meter. Sementara di Kabupaten Nagan Raya, dua desa di Gampong Betung hampir hilang dan hanya menyisakan atap-atap rumah.


Sebagian warga kini tinggal di pengungsian di kaki bukit dengan fasilitas terbatas, termasuk tanpa akses listrik. Novita menilai lambannya respons pemerintah membuat banyak korban belum mendapatkan hunian layak maupun sarana sanitasi memadai.


“Mereka sedih karena tidak bisa menjalankan tradisi Ramadhan seperti biasanya, berkumpul dan berbagi makanan. Sekarang banyak keluarga bahkan tidak memiliki rumah untuk berkumpul,” katanya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang