Nasional HAJI 2026

Menhaj Gus Irfan Sampaikan Inovasi Strategis Pelayanan Haji 2026

NU Online  ·  Rabu, 11 Februari 2026 | 20:12 WIB

Menhaj Gus Irfan Sampaikan Inovasi Strategis Pelayanan Haji 2026

Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf (Foto: Humas Kemenhaj RI)

Jakarta, NU Online 
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf memaparkan sejumlah penguatan kebijakan dan inovasi penyelenggaraan haji tahun 1447 H/2026 M dalam kegiatan Bimbingan Manasik Haji Nasional yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/02/2026). Kegiatan ini diikuti jamaah haji 2026 dari seluruh Indonesia, baik secara langsung maupun daring melalui zoom meeting.


Menhaj yang akrab disapa Gus Irfan tersebut menegaskan bahwa pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan bentuk kehadiran negara yang lebih fokus dan terarah dalam memberikan layanan khusus bagi jamaah haji Indonesia. Penyelenggaraan haji diposisikan sebagai layanan publik yang harus menjamin keamanan, ketertiban, dan martabat jamaah sejak tahap persiapan hingga kembali ke tanah air.


“Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah adalah wujud kehadiran negara untuk melayani jamaah haji Indonesia secara lebih fokus, terarah, dan berkelanjutan,” ujar Menhaj.


Salah satu inovasi yang disampaikan Menhaj adalah penguatan pelayanan yang berpusat pada jamaah. Seluruh kebijakan haji dirancang dengan mempertimbangkan kondisi riil jamaah Indonesia, termasuk usia, kesehatan, serta kebutuhan pendampingan selama beribadah.


Menhaj juga menyampaikan penguatan program strategis penyelenggaraan haji, antara lain penurunan biaya haji, penyamarataan daftar tunggu yang lebih berkeadilan, serta optimalisasi peran haji dalam mendorong ekspor produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan jamaah di Arab Saudi. Selain itu, konsep Kampung Haji terus dikembangkan sebagai bagian dari layanan jamaah yang terintegrasi.


Dalam aspek layanan, Kementerian Haji dan Umrah menegaskan komitmen terhadap haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan melalui penguatan pendampingan, perhatian pada keterbatasan fisik dan kesehatan, serta perlindungan keamanan dan kenyamanan jamaah.


Menhaj juga menekankan pentingnya manasik haji sebagai bekal utama jamaah dalam mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Tanah Suci.


“Manasik haji menjadi ruang untuk menyiapkan pemahaman ibadah, kesiapan mental, kedisiplinan, dan kebersamaan agar jamaah dapat menjalankan haji dengan tenang dan tertib,” katanya.


Lebih lanjut, Menhaj menjelaskan konsep istithaah kesehatan yang meliputi kemampuan finansial, kesehatan, dan pemahaman syariat sebagai dasar kesiapan jamaah.


“Ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan pemahaman ibadah yang dibangun sejak dini, karena haji adalah ibadah yang sakral dan memiliki waktu tunggu yang panjang,” tegas Menhaj.


Melalui berbagai penguatan dan inovasi tersebut, penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M diarahkan untuk mencapai Tri Sukses Haji, yakni sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi melalui pemberdayaan umat, serta sukses peradaban dan keadaban melalui pembinaan karakter jamaah.


Menhaj berharap jamaah haji Indonesia dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan membawa nilai-nilai haji dalam kehidupan bermasyarakat sepulang dari Tanah Suci.
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang