Mendiskusikan 100 Tahun NU ke Depan sebagai Jam'iyah Mandiri
NU Online · Senin, 13 Juli 2026 | 20:00 WIB
Klaten, NU Online
Majelis Musyawarah Taswirul Afkar menggelar diskusi “Menatap NU 100 Tahun ke Depan” di Pondok Pesantren Taswirul Afkar, Bulan, Tlangu Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Ahad (12/7/2026). Acara ini diselenggarakan oleh majlis untuk menyambut Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Pada bagian diskusi melihat 100 tahun NU ke depan, salah satu yang didiskusikan adalah dengan melihat capaian 100 tahun yang sudah berjalan. Forum ini juga meletakkan cita-cita kemasyarakatan baldah thayyibah wa rabbun ghafur dan khaira ummah” sebagai tujuan, yaitu masyarakat sehat dalam berbagai aspeknya, yaitu sehat ekonomi, jasmani, ruhani, dan bidang lainnya.
K Sulhani Hermawan, salah satu peserta musyawarah dari Sukoharjo, menekankan cita-cita masyarakat NU untuk membentuk masyarakat sehat itu perlu diwujudkan dalam banyak kreativitas. Hal ini perlu berpijak pada basis dan kepentingan jamiyah, sesuai dengan kebutuhan lokalnya.
Senada, Saiful Huda Shadiq, peserta musyawarah lainnya, menambahkan bahwa masyarakat yang dicita-citakan NU hanya akan terwujud manakala NU memiliki kemandirian. "Dan itu tidak hanya bermakna kemandirian ekonomi, tetapi juga dalam kebudayaan, dan aspek-aspek lainnya," katanya.
Menjadi masyarakat dan jamiyah yang mandiri itu, menurutnya, akan menjadikan NU bisa menjadi kekuatan jamiyah diniyah Ijtimaiyah yang dirasakan kehadirannya oleh masyarakat basis NU. Hal ini menjadi jangkar bagi kebaikan dan perbaikan keindonesiaan yang ada.
Para peserta musyawarah banyak juga yang mendetailkan contoh-contoh problem aktual NU dan masyarakat Nahdliyin. Mereka masyarakat terbuka di tengah dunia sistem pasar dengan segala konsekuensinya, yang perlu dilihat dengan kritis. Masyarakat sejenis ini telah dirintis sejak tahun 1970-an dan 1980-an.
Dengan mengutip sebagian data dari sebuah penelitian tentang masyarakat NU, sekarang ini disebut oleh Abi S Nugroho yang dibutuhkan dalam 100 tahun itu misalnya bidang kesehatan ekonomi dan pendidikan yang berkualitas.
Dalam musyawarah ini, banyak peserta mengungkapkan bahwa dalam kelembagaannya, NU kini terlalu menjadi subordinat terhadap negara. Mereka juga memandang adanya sebagian tumpang tindih program yang seharusnya bisa bersinergi. Mereka merasa perlu kejelasan aset-aset yang dimiliki milik NU dan transparansi dalam pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Sebab, masih banyak yang belum mempertimbangkan rekam jejak dalam rekrutmen kepengurusan, menurunnya atensi atas otoritas kiai dan elit, hingga minimnya data-data yang dimiliki NU tentang masyarakat basis.
Sementara masyarakat basis NU, mengalami dampak dari berbagai kebijakan politik dan ekonomi negara dan dunia sawasta, yang belum banyak merasakan kehadiran NU. Banyak problem-problem yang semestinya menjadi dan dijawab oleh Jamiyah NU, justru Jamiyah menjadi absen.
Meski begitu, untuk merencanakan dan mengimajinasaikan NU seratus tahun ke depan tetap perlu mempertimbangkan soal-soal yang yang telah tercapai dan apa yang telah mengalami keruntuhan, kerusakan, dan kemerosotan besar; dan apa saja yang perlu dipertahankan, yaitu jangkar nilai-nilai Aswajanya, sementara manifestasinya perlu kontekstualisasikan terus menerus.
Menurut A Dimyathi Ahmad, yang perlu dilakukan dua hal, yakni rekonstruksi kembali sejarah NU untuk membangun kesadaran NU yang berbijak pada kepentingan basis, dan diperlukan koherensi, bukan subordinasi hubungan NU dan negara, agar tumbuh trust dan kepercayaan.
Peserta lain, Hidayatuh Thayyibah menyebutkan perlunya rekonstruksi kembali kesadaran yang dimiliki NU, tentang NU-negara, nilai-nilai yang berubah, dan intrumen-instrumen yang dibutuhkan.
Menurut peserta lain, Budi Santoso dari Jawa Timur, ibarat pohon, dalam seratus tahun ke depan, dalam membenahinya perlu diarahkan pada upaya melihat dan menggerakkan level akar, batang, ranting, dan daun. Akarnya, adalah nilai-nilai tasawuf-tarekat dan kemandirian yang perlu diperkuat, dan ini mengalami kemerosotan.
Tim perumus komisi Menatap Seratus Tahun NU terdiri dari Mariam Vitriati, Saiful Huda Shofiq, Machmud Arsyad, Luthfi Aziz, dan Ghozi Nurul Islam. Menurut hasil rumusan, dibutuhkan masyarakat NU dan tengah mengalami perubahan ini untuk 100 tahun ke depan, yaitu perlunya reaktualisasi nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan modern.
Rumusan juga perlu juga menggerakkan kemandirian tidak hanya bermakna ekonomi an sich dan menghidupkan khazanah pemikiran Islam pesantren untuk civil society. Pada praktiknya, diperlukan penguatan organisasi dan SDM, dan strategi untuk mencapai masyarakat sehat itu, perlu dirumuskan jangka pendek, menengah dan panjangnya, yang perlu didetilkan lebih lanjut.
Menurut Nur Khalik Ridwan, masyarakat NU perlu terus menjadikan cita-cita “masyarakat sehat” dengan segala kualitasnya, dan mengarahkan semua potensinya untuk ke arah sana, agar jamiyah menjadi relevan di tengah bangsa Indonesia dan masyarakat basisnya. Bila cita-cita “masyarakat yang sehat diridhai Allah” ini tidak menjadi konsen dalam 100 tahun NU ke depan, NU akan semakin menjauh dari cita-cita pendiriannya dan kebutuhan bagi masyarakat basisnya.
Bahkan Nur Khalik Ridwan menyebutkan bahwa relevansi NU di masyarakat hanya akan menjadi alat kepentingan elit untuk kepentingan sendiri. "Ini membahayakan bagi kelestarian Aswaja dan bangsa Indonesia, dan bisa menimbulkan perpecahan di kalangan jamiyah," katanya.
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh ‘Turun Gunung’ Jelang Muktamar 1984
2
Kiai Zulfa: Yang Sudah Jadi Pejabat dan Menteri Tak Perlu Dipaksa Mimpin NU
3
BEM PTNU Se-Nusantara Desak DPR RI Evaluasi Menyeluruh Tata Kelola Kejaksaan demi Perkuat Kepercayaan Publik
4
LF PBNU Sebut Suara Dentuman Semalam Berasal dari Meteor Jatuh
5
18 Tahun Bertahan di Tengah Tambang, Warga Kalimantan Selatan Tuntut Keadilan Lingkungan
6
Kalkulator Waris NU Online: Hitung Hak Ahli Waris dalam Sekejap
Terkini
Lihat Semua