Pakar Parenting Ungkap Cara Mendidik Anak Sesuai Tahapan Usia ala Sayyidina Ali
NU Online · Ahad, 14 Juni 2026 | 22:00 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pakar parenting, Ning Evi Ghozaly membagikan pola pengasuhan anak berdasarkan ajaran Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, pendidikan anak dapat dibagi ke dalam tiga tahapan usia.
"Tahapan dibagi menjadi tiga. Tujuh tahun pertama, tujuh tahun kedua, dan tujuh tahun ketiga. Rumusnya 3 x 7," ujar Ning Evi dalam Serial Cara Mendidik Anak Berdasarkan Usia, Fase Mana yang Paling Menantang? yang diproduksi NU Online dikutip Ahad (14/6/2026).
Tahap pertama berlangsung pada usia 0–7 tahun. Pada fase ini anak dikenal sebagai peniru ulung yang belajar sangat cepat dari apa yang dilihat, didengar, dan diamati. Pengalaman tersebut akan tersimpan dalam memori jangka panjang mereka.
"Pada usia ini sebisa mungkin orang tua menjadi model terbaik karena anak sering meniru," kata Ning Evi.
Ia menjelaskan bahwa anak pada usia dini ibarat mesin fotokopi yang kuat. Karena itu, orang tua perlu memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada nasihat Sayyidina Ali, anak usia 0–7 tahun diperlakukan layaknya seorang raja. Orang tua dianjurkan memenuhi kebutuhan anak dan memberikan perhatian penuh, termasuk mendahulukan anak ketika membutuhkan bantuan.
Dalam menghadapi anak yang tantrum, Ning Evi menyarankan orang tua untuk tetap tenang dan berusaha hadir secara emosional. "Kalau anak mulai tantrum, orang tua perlu memeluknya. Jika tidak mau dipeluk, tunggu saja. Duduk sejajar dengan anak, pandangan mata sejajar, sehingga kita bisa merasakan kegelisahan dan kecemasan yang sedang dialami anak," ujarnya.
Menurutnya, usia dini juga merupakan masa yang penting untuk bermain. Melalui bermain bersama orang tua, anak membangun ikatan emosional (bonding) yang kuat. Sementara bermain dengan teman sebaya membantu mereka belajar bersosialisasi.
"Bermain dengan orang tua akan mempererat hubungan emosional. Dengan teman-temannya, anak belajar bersosialisasi," katanya.
Tahap kedua berlangsung pada usia 8–14 tahun. Pada masa ini perkembangan fisik dan psikologis anak mulai meningkat pesat. Anak juga mulai memiliki dunia sendiri dan tidak selalu terbuka kepada orang tua.
"Kadang anak lebih percaya kepada guru atau teman-temannya. Mereka mulai punya rahasia. Memang tidak semua, tetapi rata-rata seperti itu," jelasnya.
Pada fase ini, orang tua perlu tetap menjadi sosok yang paling dipercaya oleh anak. Salah satunya dengan membangun kedekatan dalam kehidupan sehari-hari. "Sebisa mungkin sebelum tidur yang dilihat anak adalah orang tuanya, dan ketika bangun tidur yang pertama kali dilihat juga orang tuanya," ujarnya.
Pada fase ini, anak juga mulai diberikan tanggung jawab sederhana, seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring, dan membantu pekerjaan rumah lainnya. Selain itu, orang tua perlu mulai menanamkan kewajiban agama, seperti shalat dan puasa.
"Terutama kewajiban agama sudah mulai dikenalkan dan dibiasakan," katanya.
Tahap ketiga berlangsung pada usia 15–21 tahun. Menurut Ning Evi, pada fase ini orang tua perlu memperlakukan anak sebagai sahabat.
Masa remaja hingga dewasa muda merupakan periode penting dalam pembentukan karakter yang akan memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Karena itu, orang tua perlu menyediakan waktu untuk berdialog dengan anak.
"Kalau kita menganggap anak sebagai sahabat, maka yang dibangun adalah dialog, bukan lagi perintah," ujarnya.
Ia menambahkan, anak pada usia ini biasanya mulai sering berargumen. Namun, hal tersebut tidak selalu berarti membantah orang tua. "Kadang orang tua menganggap anak membantah. Padahal sebenarnya mereka sedang belajar memperjuangkan pendapatnya," jelasnya.
Selain pendidikan agama dan tanggung jawab pribadi, Ning Evi juga menganjurkan anak mempelajari tiga keterampilan hidup yang pernah dianjurkan dalam tradisi Islam, yakni berkuda, berenang, dan memanah.
Menurutnya, berkuda melatih fokus, keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian. Jika tidak memungkinkan, keterampilan serupa dapat diperoleh melalui aktivitas lain yang menumbuhkan tanggung jawab dan keberanian, seperti belajar mengemudi pada usia yang diperbolehkan secara hukum.
Sementara itu, berenang merupakan keterampilan penting untuk bertahan hidup (survival skill). "Berenang adalah keterampilan yang tidak bisa diwakilkan orang lain. Dalam kondisi tertentu, kita harus mampu menyelamatkan diri sendiri," ujarnya.
Melalui berenang, anak belajar mengendalikan diri, fokus pada tujuan, dan menghadapi situasi yang menuntut ketenangan.
Adapun memanah dinilai dapat melatih kemandirian berpikir serta kemampuan mengambil keputusan. Keterampilan tersebut menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
"Selain memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, anak juga perlu dibekali keterampilan hidup yang bermanfaat untuk masa depannya," kata Ning Evi.
Ia menegaskan, hal yang tidak kalah penting dalam mendidik anak adalah doa orang tua. Sebagai salah satu amalan, Ning Evi menyarankan orang tua membacakan Surah Al-Fatihah lima kali sehari dan menambahkan shalawat tiga kali.
"Yang terpenting adalah mendoakan mereka setiap saat karena yang menggerakkan hati manusia hanyalah Allah," pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
3
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
4
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
5
Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan
6
TNI-Polri Hadang Massa Aksi BEM UI yang Hendak Menuju Bundaran HI
Terkini
Lihat Semua