Pascaiduladha, Harga Cabai dan Bawang Merah Melonjak di Rembang
NU Online · Kamis, 28 Mei 2026 | 14:00 WIB
Rembang, NU Online
Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah terjadi setelah Hari Raya Iduladha, Rabu (27/5/2026). Lonjakan harga dipicu meningkatnya permintaan masyarakat untuk memasak olahan daging kurban yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan.
Kondisi tersebut juga diperparah oleh cuaca buruk yang mengganggu proses panen dan distribusi bahan pangan ke pasar tradisional.
Sri Lestari, penjual sembako di Pasar Kulon Gedongmulyo, Lasem, Rembang, mengatakan harga cabai rawit dan bawang merah yang sebelumnya Rp40 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga dipicu perubahan cuaca dan distribusi yang terhambat. Selain itu, iklim yang tidak menentu juga menyebabkan hasil panen menurun.
Kendala distribusi selama hari libur keagamaan turut membuat pasokan terlambat tiba di pasar. Akibatnya, pedagang mengalami penurunan omzet karena pembeli mengurangi belanja.
“Kalau lagi harga naik seperti ini saya belanja sedikit saja, uangnya tidak cukup,” ujar Sri Lestari kepada NU Online, Kamis (28/5/2026).
Sri menilai kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah tidak otomatis meningkatkan keuntungan pedagang. Meski omzet tampak naik, hal itu sebanding dengan meningkatnya modal yang harus dikeluarkan.
“Daya beli masyarakat justru menurun karena harga kedua sembako itu semakin tinggi. Konsumen cenderung menunda pembelian jika tidak terlalu mendesak,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Mardah, penjual sayur keliling di sekitar Lasem. Ia mengatakan kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah membuat keuntungan pedagang semakin menipis karena daya beli masyarakat ikut turun.
Menurutnya, harga cabai rawit dan bawang merah mengalami kenaikan cukup tajam sehari setelah Iduladha sehingga menyulitkannya memperoleh keuntungan lebih besar.
“Cabai rawit sama bawang merah naik. Harganya Rp60 ribu per kilogram dari kemarin. Pelanggan saya jadi mengurangi belanjanya,” ungkap Mardah kepada NU Online, Kamis (28/5/2026).
Ia mengaku, pada momen Iduladha biasanya permintaan bumbu dapur meningkat. Namun, tahun ini banyak pelanggan memilih membeli dalam jumlah sedikit karena harga dianggap terlalu tinggi.
Mardah mengatakan dirinya hanya mengambil keuntungan sangat tipis agar dagangannya tetap laku. Bahkan, beberapa kali ia harus menanggung risiko barang dagangannya tidak terjual dan akhirnya digunakan untuk kebutuhan sendiri.
“Saya kalau lagi harga naik begini cuma ambil untung seribu saja. Tidak berani banyak-banyak,” imbuhnya.
Ia berharap kondisi serupa tidak terus berulang, terutama saat momentum hari raya ketika kebutuhan bumbu dapur meningkat.
“Harapannya tentu saja harga cabai dan bawang segera stabil kembali. Kalau bisa setiap hari raya tidak naik terus supaya saya tetap dapat untung dan penghasilan tidak terus tergerus,” tutupnya.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian Antarwarga
2
Inilah Lafal Bilal Shalat Idul Adha
3
Petunjuk Pelaksanaan Shalat Idul Adha
4
BGN Bukan Kementerian, Penggunaan Anggaran Pendidikan untuk MBG Dinilai Janggal
5
Tips Mengolah Daging Kurban agar Empuk dan Tidak Alot
6
Boleh Bagikan Daging Kurban untuk Non-Muslim dengan Syarat
Terkini
Lihat Semua