Abdul Rahman Ahdori
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Ali Yusuf ikut memberikan komentar terkait dengan gempa tektonik yang terjadi di Sulawesi Barat beberapa waktu yang lalu. Gempa merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari. Dia pun menjelaskan bagaimana gempa bumi yang terjadi di Indonesia
Menurut Ali Yusuf, penyebab terjadinya gempa karena pergeseran sesar. Ibarat anatomi tubuh sesar merupakan otot atau urat yang memiliki pergerakan cukup dasyat. Persoalannya, ada beberapa sesar yang tidak diketahui sehingga ketika akan terjadi gempa, tidak ada yang mampu mendeteksi secara dini.
"Bencana alam itu adalah sesuatu yang dari sisi ilmiah atau historis kemungkinannya berulang. Baik banjir atau apa pun terutama gempa. Karena gempa itu kan sudah jelas ada yang namanya sesar, ibarat badan itu otot atau urat," kata Ali Yusuf kepada NU Online, Selasa (19/1).
Ia menerangkan, beberapa kondisi sesar antara lain ada yang aktif, sangat aktif, dan tidak terlalu aktif. Beberapa jenis sesar yang cukup aktif misalnya di Yogyakarta dan di beberapa tempat di Pulau Jawa. Namun, katanya, hampir semua daerah di Indonesia memiliki sesar. Apalagi di Sulawesi Barat, dia temasuk sesar darat yang bisa memunculkan guncangan yang besar.
"Yang menarik adalah fenomena cukup aneh. Gempanya tidak terlalu sering, frekuensinya. Tapi lumayan besar," ujarnya.
Belum ada yang bisa mengetahui bagaimana besaran energi yang ada di dalam perut bumi. Karena itu yang harus dipersiapkan masyarakat adalah menghindari daerah-daerah rawan gempa. Paling penting, katanya, ketika ingin mendirikan bangunan harus diperhitungkan soal kemampuan menghadapi gempa.
Sementara itu, berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa yang mengguncang wilayah Sulawesi Barat dipicu oleh aktivitas sesar aktif Mamuju-Majene Thrust dan Makassar Strait Thrust.
Menurut BMKG, sesar naik Mamuju tercatat memiliki magnitudo tertarget mencapai 7,0 dengan laju geser sesar 2 mm per tahun, sehingga sesar ini harus diwaspadai karena mampu memicu gempa kuat.
Gempa yang terjadi tersebut mengakibatkan 81 orang meninggal dan belasan ribu masyarakat mengungsi. Sampai saat ini kondisi para korban belum pulih total, masyarakat masih banyak yang mengungi di tenda-tenda pengungsian. Mereka juga membutuhkan uluran tangan agar mampu bertahan hidup.
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua