Potensi UMKM dan Peluang Ekonomi Haji dan Umrah Dihubungkan
NU Online · Ahad, 11 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Denpasar, NU Online
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menghubungkan potensi 58 peserta dari berbagai sektor usaha dengan peluang ekonomi haji dan umrah melalui agenda Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 kedua yang diselenggarakan di Bali (Bali Expo 2026). Berlangsung pada 10-11 Oktober 2026 di Masjid Agung Sudirman, Kota Denpasar, kegiatan ini menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan membangun peluang kerja sama.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah membutuhkan keterlibatan pelaku usaha dalam negeri agar potensi pasar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, expo tidak hanya menjadi ruang promosi, tetapi juga sarana mempertemukan UMKM dengan dunia usaha, perbankan, dan calon mitra.
“Expo UMKM yang digelar di Bali kali ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk membangun kolaborasi, memperluas kemitraan, dan membuka peluang transaksi. Dengan begitu, ekosistem ekonomi haji dan umrah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi dan kemaslahatan masyarakat,” ujar Jaenal di Denpasar, Sabtu (10/10/2026).
Dari 58 peserta yang terlibat, sebanyak 43 tenant menghadirkan produk dan layanan dalam kategori perlengkapan haji dan umrah, kebutuhan bekal jamaah, penyelenggaraan jasa haji dan umrah, perbankan syariah, busana muslim, serta produk olahan dan unggulan. Sementara itu, 15 peserta lainnya bergerak di bidang makanan dan minuman. Keragaman peserta tersebut menunjukkan keterlibatan berbagai sektor usaha yang berpotensi mendukung kebutuhan jemaah sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Selain sebagai ruang promosi, Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjajaki transaksi bisnis, akses pembiayaan, dan investasi. Kegiatan ini juga memanfaatkan platform digital Haji dan Umrah Store sebagai salah satu kanal pemasaran produk, sehingga pelaku usaha dapat memperluas jangkauan pemasaran melalui perdagangan digital.
Jaenal menegaskan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, UMKM, komunitas, dan masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan untuk menghubungkan potensi produk dalam negeri dengan kebutuhan pasar serta memperluas keterlibatan pelaku usaha dalam rantai ekonomi haji dan umrah.
“Ekosistem ekonomi haji dan umrah harus dibangun melalui kolaborasi yang berkelanjutan. Kami berharap dari pameran lahir kemitraan, dari kemitraan tercipta transaksi, dan dari transaksi tumbuh kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Jaenal.
Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 yang kedua mengusung tema “Dari Bali, Haji Sukses Ekonomi Tumbuh” dan dirangkaikan dengan Kick Off Manasik Haji Provinsi Bali Tahun 2026. Rangkaian kegiatan ini melibatkan calon jemaah haji tahun 2027–2029, Duta Jemaah Haji periode 2024–2026, organisasi kemasyarakatan Islam, pelajar, mahasiswa, serta peserta lomba.
Melalui agenda ini, Kemenhaj berupaya memperkuat keterhubungan antara pelaku usaha dalam negeri dan peluang pasar haji dan umrah. Upaya ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi usaha yang berkelanjutan serta memperluas peran produk dalam negeri dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Dorong UMKM tembus pasar global
Perputaran uang dari haji dan umrah harus memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat Indonesia. Peluang itu didorong Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf dengan mengajak UMKM Bali masuk ke rantai pasok kebutuhan jamaah saat membuka Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah Tahun 2026 di Masjid Agung Sudirman, Denpasar, Sabtu (10/10/2026).
“Presiden Prabowo meminta kami agar perputaran uang di haji dan umrah sebagian bisa tertinggal di Indonesia, bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, terutama para pelaku UMKM,” ungkapnya.
Menhaj menilai kekuatan budaya, kreativitas, dan inovasi usaha Bali menjadi modal untuk merebut peluang pasar haji dan umrah. Kemenhaj mendorong kebutuhan jemaah semakin banyak dipenuhi produk dalam negeri agar belanja haji dan umrah turut menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Bali bukan saja destinasi wisata, tetapi daerah dengan kekuatan budaya, spiritual, keramahan, dan terutama kreativitas di bidang usahanya. Saya berharap para pelaku UMKM di sini bisa cukup kreatif untuk mengisi ceruk-ceruk pasar haji maupun umrah di Indonesia,” ujar Menhaj.
Untuk memperluas akses pasar, Kemenhaj terus mengembangkan ekosistem perdagangan, termasuk melalui platform belanja digital yang memungkinkan jemaah membeli kebutuhan dan oleh-oleh tanpa membawa langsung barang dari Arab Saudi. Menhaj mencontohkan boneka unta dan berbagai pakaian yang dijual sebagai oleh-oleh haji ternyata diproduksi UMKM Indonesia, antara lain dari Sidoarjo, Tulungagung, dan Tasikmalaya.
“Kalau kita beli di sini, di Indonesia, tidak ada tambahan biaya pengiriman. Dan yang jelas, uangnya pun tetap berputar di Indonesia. Itulah yang diharapkan oleh Presiden Prabowo,” jelas Menhaj.
Peluang tersebut harus diikuti kesiapan pelaku usaha. Menhaj menekankan pentingnya standar kualitas, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, serta sertifikasi agar produk UMKM Bali mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“UMKM Bali yang sangat kreatif harus naik kelas, dari lokal menjadi nasional, dan dari nasional menjadi global. Dorong produk-produk Bali memenuhi standar kualitas,” tegasnya.
Dukungan peningkatan daya saing akan didorong melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU), termasuk akses sertifikasi halal. “Halal menjadi salah satu hal yang insyaallah akan dibantu oleh Dirjen PE2HU. Kita punya hubungan komunikasi yang sangat bagus dengan badan halal,” ujarnya.
Menhaj berharap expo menjadi pintu masuk bagi UMKM Bali untuk memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok haji dan umrah. Langkah ini menjadi bagian dari Tri Sukses Haji, khususnya sukses ekosistem ekonomi, agar penyelenggaraan ibadah turut membuka pasar bagi produk Indonesia dan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua