Nasional

Prediksi Cuaca 12-18 Mei: Monsun Australia Menguat, Hujan Mulai Berkurang di Sejumlah Wilayah

NU Online  ·  Selasa, 12 Mei 2026 | 09:00 WIB

Prediksi Cuaca 12-18 Mei: Monsun Australia Menguat, Hujan Mulai Berkurang di Sejumlah Wilayah

Tangkapan layar prakirawan BMKG, Adelia F.

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi intensitas hujan di sejumlah wilayah Indonesia mulai berkurang pada periode 12-18 Mei 2026 seiring menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari selatan. Potensi hujan mulai berkurang, meski di sejumlah daerah masih mengalami hujan lebat.


Prakirawan BMKG, Adelia F menyampaikan bahwa intensitas gangguan atmosfer tropis mulai melemah, termasuk pengaruh Siklon Tropis Hagupit yang bergerak menjauhi Indonesia.


“Intensitas siklon topis diprakirakan menurun dan bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia,” ujarnya pada Senin (11/5/2026) malam.


Memasuki masa peralihan musim, BMKG mencatat berkurangnya tutupan awan di sejumlah wilayah menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan Bumi secara lebih maksimal. Kondisi tersebut memicu peningkatan suhu udara di berbagai daerah.


Pada awal Mei 2026, suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius hingga 36,5 derajat Celsius tercatat di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Tengah. Meski cuaca terasa lebih terik, pemanasan kuat pada siang hari tetap berpotensi memicu pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan hujan pada sore hingga malam hari.


BMKG juga mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah pada awal Mei 2026. Sulawesi Tenggara tercatat mengalami curah hujan mencapai 146,0 mm per hari, Papua Tengah 143,2 mm per hari, Riau 86,3 mm per hari, Kalimantan Barat 71,4 mm per hari, serta Maluku 72,6 mm per hari. Maluku Utara mencatat curah hujan 67,3 mm per hari, Sumatera Utara 66,0 mm per hari, dan Aceh 63,8 mm per hari.


“Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang aktif secara bersamaan di sebagian wilayah Indonesia,” ujar Adelia.


Ia menjelaskan bahwa Monsun Australia diprakirakan menguat dengan membawa massa udara kering dari Australia yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini menjadi sinyal awal peralihan musim hujan menuju musim kemarau di beberapa daerah.


“Pelemahan angin timuran tetap berpotensi meningkatkan kandungan uap air, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, sehingga peluang hujan masih terbuka,” katanya.


Periode 12-14 Mei 2026

BMKG menetapkan status waspada hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, hingga Papua.


Sementara itu, status siaga hujan lebat hingga sangat lebat berlaku untuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Maluku.


Periode 15-18 Mei 2026

Hujan diprediksi mulai menurun dan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun BMKG tetap menetapkan status siaga di Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.


BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, pohon tumbang, genangan, hingga sambaran petir.


“Masyarakat perlu miningkatkan kondisi tubuh saat cuaca panas dengan menggunakan pelindung dari sinar matahari dan mencukupi kebutuhan cairan, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan,” pungkas Adelia.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang