Prof Quraish Shihab: Iman, Amanah, dan Berhenti Zalim Jadi Kunci Meraih Rasa Aman
NU Online · Jumat, 27 Februari 2026 | 19:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Di tengah dinamika zaman yang penuh ketidakpastian, rasa aman kerap menjadi kebutuhan yang sulit diraih. Menanggapi hal tersebut, pakar tafsir Al-Qur’an, Prof M. Quraish Shihab, menegaskan bahwa rasa aman dan ketenangan sejati lahir dari iman, sikap amanah, serta keberanian meninggalkan kezaliman.
Hal itu ia sampaikan dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Mencari Rasa Aman yang disiarkan melalui kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an, Kamis (26/2/2026).
Prof Quraish menjelaskan, kata iman, aman, dan amanah berasal dari akar kata yang sama. Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa keimanan yang benar akan melahirkan rasa aman dan ketenangan dalam diri seseorang.
Menurutnya, rasa takut adalah hal manusiawi. Namun Al-Qur’an memberi panduan agar rasa takut dikelola menjadi energi positif.
“Takut singa, lari atau jinakkan. Takut miskin, kerja. Takut Tuhan, apa? Ibadah, mendekat. Mendekat itu jawaban yang tepat. Takut Tuhan itu mendekat, kalau Anda menjauh itu makin berbahaya,” ujarnya.
Ia menekankan perbedaan antara takut kepada makhluk dan takut kepada Tuhan. Jika takut kepada makhluk membuat seseorang menjauh, maka takut kepada Tuhan justru harus diwujudkan dengan mendekat untuk memperoleh perlindungan-Nya.
Lebih lanjut, ia mengutip ajaran Al-Qur’an bahwa rasa aman diberikan kepada mereka yang tidak mencampuradukkan iman dengan kezaliman. Kezaliman tersebut mencakup perbuatan terhadap Tuhan, sesama manusia, maupun lingkungan.
“Jangan berbuat zalim terhadap Tuhan, puncak kezaliman itu adalah mempersekutukan Tuhan. Jangan berbuat zalim terhadap sesama manusia, jangan berbuat zalim terhadap binatang. Itu Anda akan mendapatkan rasa aman,” tegasnya.
Prof Quraish juga mengingatkan pentingnya optimisme, terutama bagi generasi muda yang kerap dilanda kecemasan. Ia merujuk Surah Al-Insyirah ayat 6 yang menegaskan bahwa bersama satu kesulitan terdapat kemudahan.
Optimisme, menurutnya, menjadi modal penting untuk menghadapi ketakutan terhadap krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, maupun ketidakpastian masa depan.
Selain itu, ia mengajak masyarakat memaknai kembali ucapan salam sebagai komitmen sosial. Ucapan “Assalamualaikum”, katanya, bukan sekadar sapaan, melainkan doa dan janji untuk menghadirkan rasa aman bagi sesama.
“Rasa aman itu harus diberikan oleh manusia kepada setiap manusia yang dia kenal atau tidak kenal. Itu tercermin dalam perintah agama mengucapkan salam,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
2
Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Privasi Anak di Media Sosial
3
Gus Kikin Kenang Perjuangan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid untuk NU
4
Syekh Yusuf al-Makassari: Sufi Nusantara yang Ubah Dzikir Jadi Gerakan Pembebasan
5
Kemenkes Tetapkan Tarif Cek Kesehatan Jamaah Haji, Tertinggi Rp1,3 Juta
6
Subsidi Haji dari APBN, MUI: Tak Pengaruhi Keabsahan Ibadah
Terkini
Lihat Semua