Abdul Rahman Ahdori
Kontributor
Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurahman Mas’ud, Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag, Amsal Bakhtiar.
Dalam sambutannya, Abdurahman Mas’ud mengatakan jati diri Pesantren adalah Islam Wasathiyah, hampir seluruh Pesantren di Indonesia memahami secara mendalam dalil-dalil gagasan Islam wasathiyah, baik dalil ayat Al-Qur’an maupun Hadits. Sehingga, sangat wajar jika karakter Pesantren adalah Islam wasathiyah.
“Esensi pesantren ya wasathiyah,” katanya dihadapan peserta seminar.
Islam washatiyah kata Alumnus Islamic Studies, Universitas California, AS, tahun 1997 ini adalah Islam yang mengusung arus moderasi beragama. Hal ini dinilai penting apalagi bagi Pesantren, kedudukan Radikalisme harus menjadi tantangan agar Islam Indonesia tetap pada nilai-nilai moderat.
“Apalagi kan jumlah pesantren ini banyak sekali, tapi baru beberapa persen yang terdaftar di Kemenag. Pesantren yang tidak terdaftar di Kemenag itu Pesantren abal-abal,” ujarnya.
Kemenag kata dia, telah banyak melakuan penelitian terkait pesantren, di antaranya penelitian mengenai naskah kitab kuning yang dikaji di pesantren dan fenomena pesantrennya. Bahkan penelitian itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu.
Sementara itu, Gus Rozin menuturkan, Islam Wasathiyah yang dibicarakan pada seminar kali ini yaitu terkait Ahlusunah wal Jamaah An-Nahdliyah. Juga membahas bagaimana posisi pengembangan pesantren untuk puluhan tahun ke depan.
Ia meyakini hadirnya Pesantren di Indonesia telah memperkuat Islam Indonesia atas dasar itulah kata Gus Rozin, tidak menuntut kemungkinan Islam Indonesia akan menjadi rujukan utama Islam dari berbagai belahan dunia.
“Bukan tidak mungkin Islam di Indonesia akan jadi rujukan Islam dunia,” katanya.
Menurut Gus Rozin, konsep Islam di Indonesia banyak disyukuri umat Islam dunia karena dinamikanya yang tidak memunculkan perpecahan. Sementara umat Islam Indonesia sendiri masih ada yang tidak mensyukuri nikmat tersebut itu dibuktikan masih ditemukannya radikalisme beragama. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua