Nasional

RMI PBNU: Pesantren Ramah Anak Perlu Diperkuat dengan Kesadaran Batiniah

NU Online  ·  Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:00 WIB

RMI PBNU: Pesantren Ramah Anak Perlu Diperkuat dengan Kesadaran Batiniah

Ketua RMI PBNU KH Hodrie Arif. (Foto: NU Online/Ali Fauzi)

Malang, NU Online 

 

Gerakan Nasional Pesantrenku Aman menjadi salah satu ikhtiar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU untuk mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman, ramah, dan melindungi seluruh warga pesantren. Upaya tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan kesadaran batiniah para pengasuh dan pengelola pesantren.

 

Hal tersebut disampaikan Ketua RMI PBNU KH Khodri dalam kegiatan Gerakan Nasional “Pesantrenku Aman” Roadshow Ke-23 yang digelar RMI PBNU, SAKA Pesantren PBNU, dan RMI PCNU Kota Malang di Ma’had Al-Qalam MAN 2 Kota Malang, Rabu (12/8/2026).

 

Kiai Khodri mengatakan, penguatan sikap istiqamah dalam menjalankan fiqih menjadi salah satu hal penting dalam mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan pesantren. Menurutnya, prinsip-prinsip fiqih tidak cukup hanya dipahami secara lisan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

 

Ia mencontohkan keteladanan sejumlah ulama yang berpegang teguh pada prinsip fiqih, termasuk dalam menjaga batas-batas pergaulan. Menurutnya, kemerosotan sikap istiqamah terhadap prinsip tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mencegah kekerasan, termasuk pelecehan seksual, di lingkungan pesantren.

 

“Dan persis itu yang banyak hilang di banyak masyarakat kita, itu yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak terjadi kekerasan di pesantren,” ujarnya.

 

Ia juga menyoroti perkembangan teknologi informasi yang menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan pesantren. Kemudahan akses terhadap berbagai informasi dan konten melalui perangkat digital, menurutnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama oleh seluruh elemen pesantren.

 

"Karena itu, campaign Pesantren Ramah Anak tidak cukup hanya dilakukan melalui langkah-langkah teknis. Diperlukan pula penguatan kesadaran spiritual agar para pengasuh, ustaz, musyrif, dan seluruh warga pesantren memiliki kontrol batin dalam menjalankan amanah," katanya.

 

Kiai Khodri kemudian mengajak warga pesantren melihat perlindungan terhadap manusia sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.

 

Ia mengibaratkan manusia dan anak-anak yang dilahirkan sebagai ayat-ayat kauniyah yang harus dijaga, dirawat, dan dilindungi. Karena itu, menurutnya, kekerasan terhadap santri tidak semestinya dipandang sebagai persoalan yang terpisah dari keberagamaan.

 

“Maka kalau kita marah ada Al-Qur’an diinjak, kalau kita marah ada Al-Qur’an dibakar, mengapa kita tidak akan marah kalau ada manusia dianiaya? Mengapa kita tidak akan marah kalau ada para santri yang dibully, ada santri yang disakiti?” katanya.

 

Menurutnya, pandangan tersebut penting dikembangkan sebagai sikap batiniah dan rohaniah. Dengan demikian, upaya menciptakan pesantren aman tidak hanya dilakukan melalui aturan dan sistem perlindungan, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan kesadaran spiritual.

 

“Nah, ini menurut saya sangat penting untuk kita kembangkan sebagai sikap batiniah, sebagai sikap rohaniah agar kita tidak hanya melakukan ikhtiar-ikhtiar lahiriah, tetapi ikhtiar batiniah penting untuk kita perkuat,” jelasnya.

 

Ia menilai tasawuf juga memiliki peran dalam penguatan aspek batin warga pesantren. Menurutnya, penguatan spiritual dapat membantu seseorang mengendalikan diri sekaligus mencegah potensi kesalahan dalam menjalankan peran di lingkungan pesantren.

 

Enam klaster transformasi pesantren

 

Lebih lanjut, Kiai Khodri menjelaskan bahwa Gerakan Pesantren Ramah Anak merupakan bagian dari respons taktis terhadap berbagai persoalan yang muncul di lingkungan pesantren. Sementara dalam jangka panjang, RMI PBNU telah menyiapkan agenda transformasi pesantren yang mencakup enam klaster.

 

Pertama, transformasi pengasuhan, yakni memastikan fungsi dan peran pengasuh, kiai, ustadz, ustadzah, musyrif, dan musyrifah berjalan dengan baik.

 

Kedua, transformasi kurikulum, dengan tetap menjaga tradisi pesantren sekaligus merespons kebutuhan dan perkembangan zaman.

 

“Di satu sisi kita memastikan muhafazhah ‘alal qadimis shalih, tetapi pada saat yang sama kita berusaha untuk mewujudkan al-akhdzu bil jadidil ashlah. Ini memang bukan pekerjaan mudah, tetapi sangat penting untuk kita mulai,” ujarnya.

 

Ketiga, transformasi sumber daya manusia. Keempat transformasi tata kelola. Kelima transformasi kelembagaan pesantren. Keenam transformasi infrastruktur.

 

Khusus tata kelola, ia menekankan pentingnya pengelolaan pesantren yang akuntabel dan transparan. Menurutnya, tata kelola yang baik dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus membuka ruang bagi pesantren untuk mengakses berbagai fasilitas yang tersedia dari pemerintah.

 

Kiai Khodri berharap Gerakan Nasional Pesantrenku Aman tidak berhenti sebagai kampanye, tetapi menjadi bagian dari proses transformasi pesantren secara berkelanjutan.

 

Dengan penguatan sistem, sumber daya manusia, tata kelola, infrastruktur, serta kesadaran spiritual, pesantren diharapkan semakin mampu menjadi ruang pendidikan yang aman sekaligus menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai luhur pesantren

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang