Nasional

Sebulan Mengabdi di Aceh Tamiang: Kisah Relawan NU Care-LAZISNU Jatim Dampingi Korban Banjir Sumatra

NU Online  ·  Selasa, 10 Maret 2026 | 22:06 WIB

Sebulan Mengabdi di Aceh Tamiang: Kisah Relawan NU Care-LAZISNU Jatim Dampingi Korban Banjir Sumatra

Relawan NU Care LAZISNU. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

 

Bencana banjir yang melanda Aceh Tamiang menyisakan luka panjang bagi warga. Rumah hanyut, aktivitas ekonomi terhenti, dan banyak keluarga harus bertahan hidup di tenda-tenda darurat. Di tengah kondisi itu, para relawan kemanusiaan hadir membawa bantuan sekaligus harapan bagi masyarakat.

 

Di antara mereka adalah Adhitya Arya Putra Udana dan Mustafa Asim, relawan NU Care-LAZISNU Jawa Timur yang mengabdikan diri selama satu bulan untuk membantu warga terdampak banjir di Aceh Tamiang.

 

Bagi keduanya, menjadi relawan di Aceh merupakan pengalaman yang tidak mudah. Adhitya mengaku keterlibatannya berawal dari panggilan hati untuk membantu sesama.

 

"Ini sebenarnya pertama kali saya ikut kegiatan seperti ini. Tapi dari awal memang ada dorongan dari hati untuk berangkat dan membantu warga di sini,” ujarnya kepada NU Online, Senin (9/3/2026).

 

Selama satu bulan penugasan, para relawan NU Care-LAZISNU Jatim terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Mereka membantu pembangunan fasilitas umum, mendirikan dapur umum, serta mendistribusikan berbagai kebutuhan dasar bagi warga terdampak.

 

Di Aceh Tamiang, relawan membantu pembangunan di empat titik lokasi. Selain itu, dapur umum juga didirikan di empat titik untuk memenuhi kebutuhan makan warga.

 

Sementara di wilayah Aceh Utara, tim relawan juga membantu pembangunan fasilitas di tiga lokasi. "Di sini ada lima tim relawan yang ditugaskan dan ditempatkan di beberapa wilayah terdampak,” kata Adhitya.

 

Selama berada di lokasi bencana, para relawan juga hidup dengan kondisi yang sangat sederhana. Mereka harus tinggal di tenda atau rumah kayu, pesantren dengan lingkungan yang masih dipenuhi lumpur dan debu

 

Untuk kebutuhan makan, relawan dan warga banyak bergantung pada dapur umum dengan persediaan yang terbatas.

 

"Kami mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Tidur di tenda, makan dari dapur umum seadanya,” tuturnya.

 

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat para relawan tidak surut. Bagi mereka, membantu warga yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk pengabdian kemanusiaan.

 

Hal serupa juga dirasakan Mustafa Asim, relawan NU Care LAZISNU yang turut bergabung dalam tim kemanusiaan di Aceh Tamiang. Ia mengaku sebelumnya pernah terlibat dalam kegiatan relawan saat erupsi Gunung Semeru di Lumajang pada 2021.

 

Namun pengalaman di Aceh Tamiang terasa berbeda karena masa tugasnya lebih lama. "Kalau waktu di Lumajang hanya beberapa hari. Di sini saya ditugaskan selama satu bulan,” ujarnya.

 

Selama berinteraksi dengan warga, Mustafa menyaksikan langsung betapa berat kondisi yang mereka alami setelah banjir.

 

Menurutnya, sebagian besar rumah warga rusak atau hanyut terbawa arus. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tenda darurat.

 

"Sekitar 70 persen rumah warga bisa dibilang hilang atau hanyut karena banjir,” katanya.

 

Cerita-cerita warga juga meninggalkan kesan mendalam bagi para relawan. Salah satu kisah yang paling membekas bagi Mustafa ketika seorang warga menceritakan bagaimana mereka bertahan hidup di atas pohon sawit selama dua hari saat banjir datang.

 

"Warga itu bertahan di atas pohon sawit selama dua hari. Mereka menahan lapar dan haus karena saat itu belum ada bantuan yang datang,” tuturnya.

 

Cerita tersebut menjadi pengingat bagi para relawan tentang betapa beratnya perjuangan warga saat bencana terjadi.

 

Selama bertugas di Aceh Tamiang, para relawan tinggal di Pondok Pesantren Fajrussalam Desa Menang Gini, Kecamatan Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka menjalani aktivitas bersama para santri dan masyarakat sekitar.

 

Kehadiran mereka bertepatan dengan bulan Ramadan, yang membuat pengalaman kerelawanan terasa semakin berkesan. Para relawan tetap menjalankan ibadah bersama warga, seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan buka puasa bersama.

 

"Ramadan kali ini terasa sangat sederhana karena kondisi di sini. Untuk berbuka dan sahur kami juga seadanya,” kata Mustafa.

 

Selain membantu kebutuhan warga, para relawan juga berusaha memberikan semangat bagi masyarakat agar tetap kuat menghadapi situasi pascabencana.

 

Bagi mereka, kehadiran relawan bukan hanya soal bantuan materi, tetapi juga tentang menghadirkan empati dan solidaritas.

 

Meski berbagai tantangan harus dihadapi mulai dari jalan yang berdebu hingga kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi para relawan.

 

Mustafa bahkan sempat mengalami sakit mata pada minggu pertama karena debu yang beterbangan di jalanan. "Di sini hampir semua jalan berdebu. Minggu pertama saya sempat sakit mata karena debu,” ujarnya.

 

Namun bagi mereka, semua pengalaman itu terasa sepadan dengan kesempatan untuk membantu sesama. Kedua relawan tersebut berharap pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan bagi masyarakat yang terdampak banjir, terutama dalam penyediaan tempat tinggal dan pemulihan ekonomi warga.

 

"Harapannya pemerintah bisa lebih cepat membantu, terutama rumah dan kebutuhan dasar warga,” kata Adhitya.

 

Mustafa juga memiliki harapan sederhana: suatu hari dapat kembali ke Aceh tanpa harus menghadapi situasi bencana.

 

"Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke sini, tapi bukan karena ada bencana. Hanya untuk bersilaturahmi dengan warga yang pernah kami temui,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang