Ramadhan di Aceh Tamiang: Warga Bertahan di Tenda, Debu Tebal Masih Menyelimuti
NU Online · Jumat, 6 Maret 2026 | 08:01 WIB
Kondisi terkini Aceh Tamiang pascabanjir yang menimpa pada tiga bulan lalu. Gambar ini diambil pada Kamis (5/3/2026). (Foto: NU Online/Suci)
Suci Amaliyah
Kontributor
Aceh Tamiang, NU Online
Tiga bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah Sumatra, kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Debu tebal masih menyelimuti jalanan, membuat warga harus berjuang menghadapi lingkungan yang sulit di tengah bulan Ramadhan.
Pantauan NU Online di lapangan menunjukkan jalanan penuh debu akibat sedimentasi dan pendangkalan sungai pascabanjir. Lumpur yang sebelumnya menutupi permukiman kini mulai mengering. Ketika kendaraan melintas, debu beterbangan dan menyebar ke udara, memaksa warga mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Sejumlah toko kelontong, restoran, hingga kedai kopi memasang tirai plastik di bagian depan bangunan untuk mengurangi debu masuk ke dalam ruangan. Di beberapa titik pinggir jalan, tenda-tenda berwarna oranye masih berdiri sebagai hunian sementara bagi warga yang rumahnya belum dapat dihuni kembali. Beberapa hunian sementara juga dibangun oleh yayasan dan lembaga filantropi untuk menampung para penyintas.
Salah seorang warga menjelaskan, mereka yang rumahnya telah dibangun oleh lembaga sosial tidak lagi menerima bantuan hunian dari pemerintah. Pemerintah hanya memberikan bantuan sebesar Rp15 juta per rumah bagi warga yang belum mendapat bantuan dari lembaga sosial.
"Pencairannya pun dilakukan secara bertahap, yakni 80 persen terlebih dahulu. Sisanya baru diberikan setelah warga menunjukkan bukti pembelian material bangunan," kata A kepada NU Online, Kamis (5/3/2026).

​
Skema ini membuat sebagian warga memilih tidak menerima bantuan dari lembaga sosial karena khawatir tidak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Iya warga pada takut dikasih pemberian hunian sementara," tambahnya.
Selain persoalan debu, warga menghadapi masalah air bersih dan pembakaran sampah di sekitar lokasi pengungsian. Kondisi ini memperberat kehidupan penyintas yang masih bertahan di tenda darurat.
Di Pondok Pesantren Fajrussalam, Desa Menang Gini, Kecamatan Karang Baru, bekas lumpur masih dibersihkan para santri. Beberapa bangunan pesantren belum dapat digunakan sepenuhnya, sehingga sebagian santri dan warga masih tinggal di hunian darurat. Dapur umum juga didirikan oleh Lazisnu Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan logistik warga dan santri.
Sepanjang perjalanan, sisa dampak bencana masih terlihat jelas. Banyak bangunan rusak dan belum diperbaiki. Cuaca terik dan debu pekat membuat aktivitas sehari-hari sulit, termasuk bagi mereka yang berpuasa. Ramadhan kali ini terasa lebih menantang bagi warga Aceh Tamiang.
Â

​
Persoalan lain yang muncul adalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Tim NU Peduli di lapangan sempat mencari solar di sejumlah SPBU, tetapi stok telah habis. Petugas SPBU menyampaikan bahwa pengiriman masih dalam perjalanan.
Situasi ini menyulitkan aktivitas pemulihan, termasuk distribusi bantuan dan mobilitas relawan. Berdasarkan catatan BPBD, ribuan warga masih bertahan di pengungsian. Hingga kini, sebanyak 19.234 penyintas banjir di Provinsi Aceh masih tinggal di tenda darurat karena pembangunan hunian sementara belum rampung.
Pengerjaan hunian tersebut melibatkan berbagai pihak, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum RI, Danantara, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Namun, sebagian hunian sementara masih dalam proses pembangunan.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
3
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Urutan Bulan Haram, Mana yang Pertama?
4
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
5
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
6
Gus Yahya Pilih Jaga Jarak atas Kasus Gus Yaqut, Tak Libatkan NU dalam Urusan Keluarga
Terkini
Lihat Semua