Berbulan-bulan Tinggal di Tenda, Warga Aceh Tamiang Menunggu Huntara dan Dapur Umum
NU Online · Senin, 9 Maret 2026 | 13:00 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Aceh Tamiang, NU Online
Perjalanan Tim NU Peduli menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menyisakan kisah pilu. Seorang ibu dengan empat anak masih harus tinggal di tenda darurat berwarna oranye berukuran 4,5 x 4,5 meter.
Tenda itu menjadi tempat berteduh bagi mereka setelah rumahnya hanyut akibat banjir yang melanda Sumatra pada November 2025 lalu.
Emiliani (45) mengatakan, sejak hampir dua setengah bulan lalu ia bersama keluarganya terpaksa tinggal di tenda darurat. Pada awalnya, mereka membuat tenda sendiri dari terpal dan kayu seadanya bersama warga lain karena rumah mereka tidak lagi bisa ditempati. Setelah kemudian mendapatkan tenda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ia memilih menetap di sana.
“Sudah hampir setengah bulan kami di tenda darurat yang kami buat sendiri. Setelah itu barulah dapat tenda ini dan kami pindah ke sini,” ujarnya kepada NU Online, Ahad (8/3/2026).
Ia masih mengingat jelas peristiwa banjir yang terjadi pada Rabu malam, 25 November 2025. Saat itu hujan turun sangat lebat, sementara tanah di belakang rumahnya yang berada di kawasan pegunungan yang dipenuhi perkebunan sawit mengalami longsor.
Air datang begitu cepat saat warga hendak mengungsi. “Saya ingat suara airnya sampai blebek-blebek,” kata Emiliani, mengulang kembali peristiwa nahas itu sambil menyeka air mata.
Ia bersama beberapa keluarga lain terpaksa berjalan melewati banjir yang sudah setinggi atap rumah untuk mencari tempat yang lebih tinggi. Sekitar sepuluh keluarga akhirnya bermalam di salah satu rumah warga.
Namun menjelang subuh, air kembali naik dengan cepat. “Baru selesai salam shalat subuh, air sudah masuk ke depan kami,” katanya.
Para lelaki kemudian membuat rakit untuk menyelamatkan anak-anak kecil terlebih dahulu. Sementara itu, Emiliani bersama suami dan anak-anaknya mencoba berjalan menembus banjir melewati seng-seng atap rumah. Ia meminta anak-anaknya saling berpegangan agar tidak terlepas di tengah derasnya arus.
“Kami bergandengan tangan. Saya bilang sama anak, pegang kuat-kuat. Kalau ada kayu, pegang. Air sudah dalam sekali,” tuturnya.
Setelah berhasil menyelamatkan diri, mereka berkumpul di rumah kerabat bersama sekitar 13 orang lainnya. Di antara mereka ada bayi berusia satu setengah bulan serta ayah mertua Emiliani yang sedang sakit dan tidak bisa berjalan sehingga harus dibopong.
“Suara minta tolong saling bersautan malam itu. Tapi untuk menyelamatkan diri saja sudah sulit, apalagi harus menolong orang lain,” ujarnya.
Selama dua hari pertama, belum ada bantuan yang masuk. Warga bertahan dengan kondisi seadanya. “Dua hari dua malam kami tidak ganti baju, tidak makan, tidak minum. Minum pun air lumpur,” katanya dengan suara parau.
Ketika anak-anak menangis kehausan pada tengah malam, mereka hanya bisa menyaring air keruh seadanya untuk diminum.
Setelah tiga malam bertahan, pada Minggu pagi air mulai surut meski masih setinggi pinggang. Warga kemudian turun untuk membersihkan rumah kerabat yang menjadi tempat berlindung sementara, terutama bagi ayah mertua Emiliani yang sedang sakit.
Dalam kondisi penuh keterbatasan itu, Emiliani juga harus menghadapi duka lain. Ayah mertuanya yang sakit akhirnya meninggal dunia beberapa waktu setelah bencana.
Kini kehidupan mereka masih jauh dari pulih. Di dalam tenda kecil itu, panas terasa menyengat pada siang hari, sementara ketika hujan turun air kerap menggenang di dalam tenda.
“Kalau hujan deras, kami tidur di atas air karena tanah di sini rendah,” ujarnya.
Ia dan suaminya kini tidak memiliki pekerjaan tetap. Suaminya sesekali mencari sapu lidi dari pelepah sawit untuk dijual sekitar Rp4.000 per kilogram setelah dikeringkan beberapa hari. Sementara Emiliani mencoba berjualan camilan anak-anak.
Sebelum banjir, suaminya bekerja mencari sapu lidi dari kebun sawit, sedangkan Emiliani mengurus rumah tangga. Namun setelah bencana melanda, pekerjaan semakin sulit didapat.
Di tengah keterbatasan tersebut, dapur umum menjadi penopang utama bagi banyak keluarga korban banjir. Emiliani mengaku sangat terbantu dengan keberadaan dapur umum yang menyediakan makanan bagi warga.
“Alhamdulillah kami sangat terbantu. Kalau bisa dapur umum jangan tutup dulu, apalagi bagi yang anaknya banyak,” katanya.
Ia berharap dapur umum tetap berjalan, terutama selama bulan Ramadhan hingga Lebaran, karena banyak keluarga yang belum memiliki penghasilan.
Menurut Emiliani, bantuan memang datang dari berbagai pihak, termasuk relawan dan masyarakat dari luar daerah, bahkan dari Malaysia. Namun untuk hunian sementara dari pemerintah, rumah yang dijanjikan masih belum sepenuhnya siap.
“Katanya sudah boleh pindah, tapi pintu dan jendela belum terpasang. Jadi kami tunggu saja sampai siap,” ujarnya.
Harapan terbesarnya sederhana: memiliki kembali tempat tinggal yang layak agar tidak terus tinggal di tenda. “Sampai kapan kami tinggal di tenda seperti ini? Kalau siang panas sekali,” katanya.
Meski demikian, Emiliani berusaha tetap tabah menghadapi musibah yang menimpa keluarganya dan warga lain di Aceh Tamiang. “Musibah ini bukan hanya kami yang kena, semua kena. Jadi kami harus banyak bersabar,” tuturnya.
Terpopuler
1
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
2
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
3
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
4
Pemerintah Akan Pangkas MBG Jadi 5 Hari, Begini Penjelasan Kepala BGN
5
Israel Tutup Masjid Al-Aqsa, Larang Warga Palestina Shalat Jumat
6
Komnas HAM Desak Penyelidikan Transparan Usai Kabais Mundur Buntut Anggotanya Terlibat Penyiraman Air Keras
Terkini
Lihat Semua