Trend Asia Sebut Biomassa untuk PLTU Hanya Solusi Palsu Transisi Energi
NU Online · Selasa, 12 Mei 2026 | 21:00 WIB
Direktur Program Trend Asia, Ahmad Ashov Birry dalam Dialog Publik bertema Transisi Energi, Keadilan Ekologis dan Masa Depan Hutan Indonesia di Kantor LP3ES. (Foto: NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pemerintah terus mendorong penggunaan biomassa atau pelet kayu sebagai bahan bakar pendamping batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kebijakan cofiring biomassa tersebut dipromosikan sebagai bagian dari transisi energi dan upaya menekan emisi karbon di sektor ketenagalistrikan.
Direktur Program Trend Asia, Ahmad Ashov Birry, menilai langkah tersebut justru menyimpan persoalan baru dan berpotensi menjadi solusi semu bagi krisis iklim.
Ashov mengatakan, penggunaan biomassa sebagai pendamping batubara tidak menyentuh akar persoalan transisi energi yang sesungguhnya. Menurutnya, kebijakan tersebut hanya memperpanjang umur operasional PLTU batubara dengan label energi hijau.
“Pemerintah sangat gencar mempromosikan biomassa atau pelet kayu sebagai solusi pendamping batubara. Tapi ini hanya solusi palsu karena tetap mempertahankan ketergantungan pada PLTU batubara,” ujarnya dalam Dialog Publik bertema Transisi Energi, Keadilan Ekologis, dan Masa Depan Hutan Indonesia di kantor LP3ES, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).
Ia menegaskan bahwa biomassa tidak otomatis menjadi energi ramah lingkungan hanya karena berasal dari bahan organik.
Dalam praktiknya, kata dia, kebutuhan biomassa dalam jumlah besar berpotensi memicu ekspansi lahan industri kayu energi dan meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan.
“Kalau kebutuhan biomassa terus meningkat, maka akan ada kebutuhan lahan yang besar untuk memasok bahan bakunya. Ini berisiko memicu deforestasi, konflik lahan, hingga mengancam kehidupan masyarakat adat dan lingkungan sekitar,” katanya.
Ashov menilai kebijakan cofiring biomassa juga berpotensi mengalihkan fokus pemerintah dari pengembangan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan, seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi. Di sisi lain, penggunaan biomassa pada PLTU dinilai tetap menghasilkan emisi karbon sehingga efektivitasnya dalam menekan polusi dipertanyakan.
Ia menegaskan pemerintah seharusnya mulai serius mempercepat penghentian bertahap PLTU batubara, bukan justru mencari cara mempertahankan operasionalnya melalui campuran biomassa.
“Transisi energi semestinya diarahkan untuk meninggalkan energi fosil secara bertahap, bukan memberikan napas baru bagi industri batubara lewat cofiring biomassa,” ujarnya.
Ashov menekankan bahwa narasi biomassa sebagai energi hijau perlu dikaji secara kritis agar publik tidak menerima begitu saja klaim transisi energi yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Terpopuler
1
Innalillahi, Pengasuh Pesantren Tambakberas KH M Fadlullah Malik Wafat, Sosoknya Dikenal Organisatoris
2
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
3
Wapres Gibran Ajak Santri Teladani Mbah Wahab, Gerakkan Persatuan
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan ModernÂ
6
Soroti Penilaian Juri LCC di Kalbar, KPAI: Mental dan Kepentingan Anak Harus Diutamakan dalam Kompetisi
Terkini
Lihat Semua