Ridwan al-Makassary
Kolomnis
Pada 17 Maret 2026, Ali Larijani, Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, meninggal dunia di Pardis bersama putra dan ajudannya dalam satu serangan udara Israel yang mematikan di Tehran. Wafatnya Larijani adalah sebuah pukulan telak bagi infrastruktur politik Iran. Kepergiannya adalah akhir dari sebuah era di mana strategi negara digodok dalam ruang ber-AC oleh para teknokrat yang memahami betul cara bermain catur dengan Barat. Pertanyaannya kini, setelah sang arsitek perang gugur, ke mana arah kompas perang Iran vs Israel-AS?Â
Sebagai negosiator ulung, yang pernah menyamakan iming-iming insentif Eropa dengan “menukar mutiara dengan permen”, Larijani mewakili wajah Iran yang paradoks, yaitu keras dalam prinsip, namun lentur dalam taktik. Dia adalah Ketua Parlemen selama 12 tahun, pengawas negosiasi nuklir JCPOA 2015, serta “jembatan” dengan Oman dan Qatar. Dia adalah arsitek di balik layar yang memastikan agar eskalasi perang tidak pernah keluar dari koridor yang telah ditentukan. Selama berpuluh-puluh tahun, dia mampu merawat apa yang bisa disebut sebagai strategic patience (kesabaran strategis) guna membangun pengaruh tanpa memicu perang total. Namun, kematiannya, yang terjadi hanya beberapa pekan setelah syahidnya Ayatullah Ali Khamenei, secara tak terelakkan, telah mengubah peta kekuasaan di Teheran secara dramatis.
Saat ini, yang kita saksikan bukan lagi sekadar suksesi kepemimpinan, melainkan mutasi struktur dalam tubuh Republik Islam. Dengan wafatnya Larijani, institusi-institusi sipil dan politik kehilangan suara paling vokal mereka di ruang-ruang pengambilan keputusan strategis. Kekosongan ini dengan segera diisi oleh tim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan para jenderalnya.
Indikasi pergeseran ini sudah terbaca sejak kepemimpinan darurat diambil alih oleh Presiden Masoud Pezeshkian. Namun, Pezeshkian, meskipun dikenal sebagai seorang reformis moderat, tidak memiliki bobot politik dan jaringan kekuasaan yang luas seperti Larijani. Dalam kultur politik Iran, pengaruh tidak diukur dari jabatan formal, melainkan dari kedekatan dengan sang rahbar (pemimpin tertinggi) dan sejarah perjuangan. Larijani memiliki semuanya: ia adalah veteran perang, mantan ketua parlemen, mantan negosiator nuklir, dan yang terpenting, orang kepercayaan Khamenei. Tanpa sosok sepertinya, meja diplomasi akan kehilangan kursi terpenting.
Kini, dengan kepemimpinan baru yang lebih dekat dengan lingkaran dalam IRGC, suara-suara yang menginginkan escalation dominance (kemampuan untuk mengendalikan eskalasi) akan tersingkir oleh logika militer murni. Jenderal-jenderal yang kehilangan kolega dan mentor mereka tidak akan berbicara tentang negosiasi, namun, mereka akan berbicara tentang pembalasan dan deterrence.
Sinyal perubahan arah ini segera terbaca dari sahutan Iran atas kematian Larijani. Jika dulu serangan balasan dilakukan dengan perhitungan yang matang, seperti operasi “True Promise” yang terukur, maka kini IRGC meluncurkan lebih dari 100 rudal balistik, termasuk jenis Khorramshahr-4 dan Kheibar Shekan, langsung ke jantung wilayah pendudukan Israel. Ini bukan lagi sekadar serangan balasan, namun, ini adalah deklarasi bahwa era “perang terkendali” telah berakhir. Perang saat ini tampaknya memasuki “perang total”.
Larijani adalah arsitek kebijakan nuklir yang unik, yaitu mengembangkan kemampuan di ambang batas internasional tanpa memicu serangan. Dia percaya pada kekuatan deterrence through ambiguity (membangun daya gentar melalui ambiguitas). Namun, ironisnya, kebijakan yang dia bangun justru berakhir dengan serangan yang merenggut nyawanya sendiri. Kini, dengan kepergiannya, tidak ada lagi suara yang akan mengingatkan bahwa senjata nuklir adalah garis merah yang jika dilanggar akan mengubah perang ini menjadi bumerang peradaban bagi eksistensi Republik Islam.
Di tengah hiruk-pikuk perang, ada pertanyaan penting, yaitu masih adakah yang dapat mengendalikan “Poros Perlawanan”? Larijani, bersama Jenderal Qassem Soleimani sebelum gugur, adalah dua sosok yang menjaga koherensi poros yang membentang dari Teheran hingga Beirut. Ia adalah manajer krisis yang memastikan Hizbullah, Hamas, dan milisi Syi'ah Irak bergerak seirama dengan kepentingan strategis Iran.
Dengan ketiadaan keduanya, poros ini berisiko mengalami fragmentasi (keterpecahan). Hizbullah yang tengah menghadapi tekanan berat di Lebanon selatan mungkin akan mengambil keputusan sendiri. Sama halnya, milisi di Suriah dan Irak yang selama ini lebih loyal pada figur dibanding ideologi. Sentrifugal (gaya semu) politik mulai bekerja, dan tanpa sosok pemersatu seperti Larijani, “poros perlawanan” bisa berubah menjadi sekadar kumpulan aktor non-negara dengan agendanya masing-masing.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, seorang diplomat karir yang kembali memimpin diplomasi Iran, mencoba meyakinkan dunia bahwa “struktur politik Iran kuat dan tidak akan tergoyahkan oleh gugurnya individu-individu kunci”. Ia menyebut bahwa kerja sama dengan Rusia dan China sebagai mitra “strategis” dan mencakup area pertahanan. Namun, pernyataan-pernyataan ini terdengar seperti pengulangan mantra di tengah badai.
Realitasnya, kematian Larijani membuat ruang diplomasi Iran menyempit drastis. Dalam sistem politik yang sedang berperang, suara-suara moderat selalu menjadi korban pertama. Mereka yang berani menyebut kata “kompromi” atau “negosiasi” acap dilabeli sebagai pengkhianat. Kondisi ini diperparah dengan sikap Israel yang secara terang-terangan menyatakan tujuan perang mereka adalah “menghancurkan rezim teokratis di Teheran”.
Di sinilah letak tragedi terbesar bagi Republik Islam. Mereka harus berperang di saat instrumen-instrumen diplomatik terbaiknya telah berkalang tanah. Larijani, yang masih sempat mengirim pesan duka cita bagi 80 pelaut yang gugur di kapal IRIS Dena beberapa jam sebelum kematiannya, adalah gambaran sempurna dari pemimpin yang tetap hadir bahkan di saat-saat tergelap. Kini, generasi baru harus belajar berjalan di tengah medan perang tanpa bimbingan dari para sesepuh.
Menurut penulis, arah dan akhir perang Iran pasca-Larijani akan ditentukan oleh dialektika antara doktrin militer yang menginginkan pembalasan setimpal dan realitas pahit kapabilitas negara. Iran kalah dalam peralatan tempur mesti diakui. IRGC mungkin akan terus menerus meluncurkan rudal dan drone dengan maksud menunjukkan bahwa mereka masih eksis, dan juga mampu menembus pertahanan lapis baja musuh. Namun, tanpa arah strategis yang jelas, serangan-serangan ini hanya akan menjadi panggung teater untuk konsumsi domestik dan pendukung di negara-negara Muslim lainnya yang simpatik, tanpa kemampuan mengubah realitas di medan perang.
Pelajaran penting dari sejarah panjang revolusi menunjukkan bahwa Iran selalu bangkit dari keterpurukan. Namun, kali ini tantangannya berbeda. Jauh lebih sulit. Mereka tidak hanya akan kehilangan wilayah atau sumber daya; mereka kehilangan generasi emas para pengelola negara. Ali Larijani adalah kombinasi yang langka. Dia adalah pemikir (filusuf) yang menulis buku mengenai Immanuel Kant, filosof Jerman, dan juga seorang praktisi; negosiator dan juga pejuang.
Pungkasannya, merujuk pada kitab klasik strategi perang bahwa “jenderal yang baik harus tahu kapan harus berperang dan kapan harus berdamai”. Larijani adalah seorang tokoh dari sedikit orang di Iran yang memahami keduanya. Dengan kepergiannya, Republik Islam Iran mungkin masih akan bertahan, namun, perang sedang menuju satu perang total yang menghancurkan.Â
Ridwan al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
Terpopuler
1
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
2
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
3
Momen Warga Aceh saat Hendak Tabarrukan Idul Fitri dengan Mustasyar PBNU Abu MUDI
4
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
5
Kerugian Terbesar Seorang Muslim: Punya Waktu Luang tapi Tak Mendekat kepada Allah
6
Ribuan Paket Bantuan NU untuk Warga Palestina pada Ramadhan 1447 H
Terkini
Lihat Semua