Oleh Said Aqiel Siradj[2]
Agama dan kebudayaan masing-masing mempunyai substansi yang berbeda, tetapi keduanya memiliki subjek yang sama yaitu bahw keduanya bertumpu pada praktik-praktik sejarah umat manusia. Praktik sejarah itulah-didasarkan nilai-nilai agama atau tidak -- merupakan rekaman kebudayaan manusia itu sendiri. Begitu juga, praktik-praktik keagamaan merupakan pantulan historis yang senantiasa mengalami transformasi tersendiri ketika kerinduan sejarah akan tampilnya peran-peran agama tidak bisa ditawar lagi.
Rekaman kebudayaan bisa dilihat secara jelas ketika manusia pertama, Adam AS sebagai khalifah pertama di muka bumi yang kemudian beranak pinak dan melahirkan umat manusia. Dalam, rekaman sejarah yang sedemikian rupa itu, agama ternyata begitu dominan dalam mewarnai dinamika kebudayaan. Para filosof dari Yunani Kuno, Mesir Kuno, Abad Pertengahan dan modem berusaha semaksimal mungkin untuk membangun nilai-nilai humanisme universal, ternyata hanya berhasil menembus cakrawala bumi manusia. Tak satu pun di antara mereka yang mampu menciptakan agama. Mereka hanya mampu menciptakan kebudayaan-kebudayaan dan gagal dalam membangun keutuhan eksistensi manusia sebagai insan kamil.
Wajar jika sejak mula agama telah
: Puji Utomo
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama
2
Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
3
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Malam Ini dan Keutamaan Melaksanakannya
4
Sumatra Blackout: Dari Aceh hingga Lampung, Aktivitas Warga Lumpuh
5
NU Care LAZISNU Perkuat Program Ekonomi UMKM di Pringsewu Lampung
6
Alih Fungsi Lahan hingga Konflik Agraria Membayangi 10 Tahun Perjanjian Paris di Pulau Jawa
Terkini
Lihat Semua