Opini

Pesan-Pesan dan Sisi Lain Sang Rahbar Ali Khamenei

NU Online  ·  Rabu, 4 Maret 2026 | 18:00 WIB

Pesan-Pesan dan Sisi Lain Sang Rahbar Ali Khamenei

Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. (Foto: dok. istimewa)

Tanpa menunggu hasil mediasi pertemuan Oman atas konflik Selat Hormuz, Amerika Serikat – Israel langsung menyerang Iran secara brutal. Serangan ini akhirnya memupus semua rintisan dialog yang dikenal dengan diplomasi jalur belakang (backchannel diplomacy) di Muscat, ibu kota Oman.


Serangan yang dinamai Operation Lion’s Roar (operasi auman singa) sama sekali tidak mencirikan kejantanan singa. Diam-diam dua negara sekutu itu meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Teheran dan 24 provisi lainnya di Iran. Salah satu dampaknya adalah wafatnya pemimpin spiritual dan politik tertinggi Iran, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei. 


Wafatnya tokoh agama bukan saja bagi 90 juta penganut Syiah Iran tapi 250 juta pengikut Syiah di dunia, jelas menjadi dilema baru bagi Donald Trump. Komentarnya menghancurkan Iran sebelum perang terjadi mengingatkan pada keangkuhan sosok kaisar Romawi, Domitianus (81-96 M) yang membunuh siapa saja, bahkan Dewan Senatnya sendiri, sebagai motif libidinal kekuasaan.


Perang ini akhirnya menjadi pengabaian atas semua pertimbangan moral, hukum internasional, HAM, dan demokrasi. Hasrat perangnya bahkan tidak disetujui oleh masyarakatnya sendiri sendiri. Sebanyak 43 persen masyarakat AS tidak setuju serangan ke Iran, 29 persen tak yakin tentang perang ini, dan hanya 27 persen yang menyetujui dengan pengetahuan yang minimal (Reuters, “Just one in four Americans say they back US strikes on Iran”, 1 Maret 2026).


Kesembronoan Perang
Pilihan memerangi Iran adalah model kesembronoan AS dalam politik aneksasinya ke negara-negara berdaulat. Sejarah mencatat kesalahan analisis AS ketika memerangi Vietnam (1975), Afganistan (2001-2021), dan invasi pertama di Iraq (1991) berujung berujung kekalahan memalukan. 


Kekeliruan terbesar dalam perang ini adalah target membunuh pemimpin tertinggi Iran, seorang Ayatollah, sosok  yang menjadi pemimpin para mullah atau ahli agama terkemuka berjumlah 12 orang. Konstitusi Iran berubah pasca-penggulingan pemimpin boneka Shah Reza Pahlevi pada 1979, dari negara sekuler satelit AS menjadi negara Islam di Timur Tengah.


Ide itu bersemai melalui dua tokoh yang amat disegani, Ayatollah Rohullah Khomeini dan Ali Syariati. Iran yang sebelumnya negara kapitalis-konsumen miskin menjadi negara industri maju yang ditakuti. Sosialisme-demokratik dan Islam menjadi ideologi biner yang membuatnya tangguh. Kombinasi itu memperkuat “kubah besi” ekonomi-industri militer dengan mekanisme partisipasi-deliberasi berdasarkan nilai-nilai religius yang ketat (L. Esposito, Political Islam: Revolution, Radicalism, or Reform, 1997).


Posisi pemimpin tertinggi agama digabungkan dengan kedaulatan politik menghadirkan sosok yang dihormati secara meluas oleh warga Iran. Meskipun demikian, struktur pemerintahan ad hoc tidak dipegang oleh Ayatullah, tapi oleh presiden yang dipilih melalui tahapan delegasi egaliter dan inklusif. Maka tak heran, ketika musim Pilpres, ratusan orang bisa mendaftar menjadi calon presiden. Ini tidak pernah terjadi di dunia demokrasi manapun. Bahkan pada Pilpres 2021, jumlah calon presiden yang mendaftar mencapai 592 orang!


Sisi Teduh Ali Khamenei
Ali Khamenei di masa mudanya terkenal sebagai sosok militer tangguh dan terlibat dalam perebutan wilayah Iran dari invansi Irak. Ia bahkan terpilih menjadi presiden Iran pada 1981-1989. 


Hingga akhirnya takdir berpihak padanya. Ia terpilih sebagai rahbar atau pemimpin tertinggi (the supreme leader) ketika Ayatollah Musavi Khomeini wafat. Khomeini dianggap sebagai tokoh Islam populer di dunia berkat fatwa hukuman mati kepada novelis Salman Rushdie karena karya The Satanic Verses (1988) dianggap menghina Nabi Muhammad.


Berbeda dengan Khomeini yang berapi-api, Ali Khamenei lebih lembut dan santun ketika menjadi rahbar. Memang perjalanan panjangnya sebagai Ayatollah ditempa semangat keberanian tentara Persia (Artesh) melawan AS. Ia sejak muda terbiasa menangkis serangan “tangan-tangan tak kelihatan” seperti propaganda media, film, “syiar agama”, dan diseminasi nilai-nilai demokrasi dan HAM, atau pun tangan besi Israel melalui strategi pre-emptive strike yang memuakkan. Itu terlihat ketika IDF membunuh mantan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh di ibu kota Teheran (31 Juli 2024) saat tidur atau menjatuhkan 900 kg bom ke markaz pendiri Hezbollah, Hassan Nasrallah di Beirut (27 September 2024). 


Sebagian besar sejarah hidupnya dipenuhi pesan perdamaian dan pro-pluralisme. Seakan kita melihat sisi Paus Fransiskus atau Hans Küng yang juga giat menganjurkan toleransi dan dialog antariman pada diri tokoh Islam Syiah ini.


Namun, ketika ada momen Israel menyerang dan curang kepada negara-negara Timur Tengah Ali Khamenei rutin menyampaikan pesan untuk berperang militer (jihad fil qital) sebagai opsi terakhir. Artinya, jika perang dikobarkan oleh kafir, kaum Muslim tidak boleh surut, harus melawan dengan sikap tegas untuk menggetarkan musuh sebagai wujud ketakwaan (QS At-Taubah ayat 123). Ia berulang kali menyebut Israel adalah negara agresor yang tidak sah, dan pembebasan Palestina adalah salah satu tujuan negara Iran.


Sayangnya, sisi teduh ini jarang “ditelevisikan”. Padahal pesan-pesan Ali Khamenei banyak menyerukan semangat persatuan Sunni – Syiah. Baginya perbedaan aliran dalam Islam adalah rahmah yang harus dipertahankan dan bukan dipertentangkan. “Pada konteks hari ini kita harus tunjukkan bahwa kita umat Islam adalah umat bersatu meskipun berbeda-beda aliran dan organisasi”, ungkapnya dalam sebuah video di media sosial.


Sebagian besar taushiyah yang sempat terekam di media visual menunjukkan semangat Islam yang damai, menghargai golongan berbeda keyakinan, sepanjang dapat bekerja sama. Di kalangan NU dikenal dengan konsep tasamuh atau bermurah hati pada perbedaan. Bagi Ali Khamenei, bersahabat dan kooperatif dengan negara China, Korea Utara, atau Rusia sekalipun adalah wajib ketika memiliki kalimat as-Sawa atau kesamaan prinsip, yaitu melawan kolonialisme dan imperialisme Barat. 


Dalam Al-Qur’an konsep itu diistilahkan dengan ta’awun atau tolong menolong. “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya (azab) Allah sangat berat siksaan-Nya” (QS Al Maidah ayat 2).


Di samping pesan-pesan “syariat” yang disampaikan tanpa menggurui atau mengutip ayat-ayat Al-Qur’an secara literal, seperti menjaga shalat dan menggunakan jilbab bagi perempuan, Ali Khamenei berkali-kali menganjurkan persatuan dalam Islam. Baginya persaudaraan Muslim masih menjadi catatan yang belum selesai (unfinished diary). 


Khamenei juga menegaskan bahwa umat Islam harus menjadi kelompok terkemuka dalam menentukan martabatnya dan melakukan perlawanan (muqawamah) atas sikap arogan Amerika Serikat dan Israel dalam relasi dengan umat Muslim. 


Pesan ini seperti mengingat kembali “skripsi” penulis ketika menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah Program Khusus pada 1993 dengan judul "Kenapa umat Islam Tertinggal, dan Umat-umat Lain Maju?” (لماذا تأخر المسلمون ولماذا تقدم غيرهم) karya Amir Syakib Arslan penulis Lebanon. Arslan menyitir mundur dan kolotnya komunitas Muslim dunia pada awal abad 20, salah satunya karena meninggalkan identitas Islam sebagai agama cinta ilmu dan pengetahuan. 


Namun, ada hal lain belum sempat dibahas, yaitu lemahnya leadership negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania yang membiarkan tanah mereka dijadikan pangkalan militer AS sekaligus selubung konsesi minyak yang dikuasai perusahaan multinasional Paman Sam selama puluhan tahun.


Sangat dipahami jika Iran menyerang pangkalan militer Timur Tengah sebagai upaya pertahanan diri dari misil-misil berbahaya. Tepat seperti ide Vladimir Putin yang menganeksasi Ukraina ketika negara pecahan USSR itu sedikit lagi menjadi pangkalan militer NATO.


Perlawanan atas kolonialisme (Barat -AS) sempat diingatkan penulis poskolonial kelahiran Yerussalem, Edward Said, dalam Culture and Imperialism (1993), bahwa gerakan perlawanan harus dimulai dengan menolak pilinan narasi atas sejarah (intertwined histories) dan selanjutnya menjadi hak penguasaan tanah oleh “orang asing” yang tidak pernah dikenali lagi oleh penduduknya sendiri.


Jejak AS-Israel sebagai negara yang berdarah-darah mudah terlihat. Tidak ada justifikasi etik, moral, dan hukum atas perang yang diinisiasi dua negara itu. Pembantaian 70 ribu warga sipil di Gaza sejak 7 Oktober 2023 dan pengeboman SD Putri Shajaba Tayyiba di Kota Minab 28 Februari 20206 yang menyebabkan 148 siswi tewas adalah “ingatan yang terlupa”, mengutip judul novelis Palestina, Mahmoud Darwish: Memory for Forgetfulness (ذاكرة للنسيان).


Jadi sebenarnya mengenang Ali Khamenei adalah merenung secara saksama keping-keping sejarah kolonialisme yang telah berlangsung lebih 75 tahun (sejak 1948) ketika zionisme menjadi cara menjejakkan kekejaman dan kebrutalan yang tidak pernah terlihat dalam sejarah modern manapun di dunia pasca-Nazisme Hitler.


Teuku Kemal Fasya, dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, ketua Posko NU Peduli Bencana Lhokseumawe
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang