Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I)
NU Online Ā· Kamis, 16 Februari 2017 | 20:01 WIB
"Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram, ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi narasumber-narasumbernya, beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlussunnah wal Jamaāah. Akhirnya diistikharahilah oleh para ulama Haramain. Lalu mengutus Kiai Hasyim Asyāari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia. Kalau dua orang ini meng-iya-kan jalan terus, kalau tidak jangan diteruskan. Dua orang tersebut adalah al-Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan dan Syaikhuna Mbah Kiai Kholil Bangkalan Madura.
Oleh sebab itu, tidak heran jika Muktamar NU yang ke-5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M, untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thariqah. Tidak heran karena sudah dari sananya. Kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang shaleh, Kiai Irfan.Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi. Kiai Irfan bertanya pada saya: āKamu ini siapanya Habib Hasyim?ā
Yang menjawab pertanyaan itu adalah Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi: āIni cucunya Habib Hasyim, Yai.ā
Akhirnya saya diberi wasiat, katanya: āMumpung saya masih hidup, tolong catat sejarah ini. Mbah Kiai Hasyim Asyāari datang ke tempatnya Mbah Kiai Yasin. Kiai Sanusi ikut serta pada waktu itu. Di situ diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan. Lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asyāari duduk, Habib Hasyim langsung berkata: āKyai Hasyim Asyāari, silakan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Ahlussunnah wal Jamaāah. Saya rela, tapi tolong saya jangan ditulis.ā Begitu wasiat Habib Hasyim.
Kiai Hasyim Asyāari pun merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asyāari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kyai Kholil bilang sama Kyai Hasyim Asyari: āLaksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.ā
Lantas Kiai Hasyim Asyāari bertanya: āBagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?ā
Mbah Kiai Kholil pun menjawab: āKalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.ā
Itu tawadhuānya Mbah Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,ā pungkas Kiai Irfan.āĀ
Terpopuler
1
Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin
2
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Amerika Serikat dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Selama Dua Pekan
5
Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
6
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
Terkini
Lihat Semua