'Intuisi' Leluhur Bekal Pendidikan Masyarakat Baduy
NU Online · Selasa, 14 Desember 2021 | 08:15 WIB
Kendi Setiawan
Penulis
Penelitian Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) mengemukakan, masyarakat adat kasepuhan merupakan bagian dari masyarakat adat yang berkembang di Provinsi Banten. Ada dua komunitas masyarakat adat di Banten, yaitu masyarakat adat Baduy atau dikenal dengan Kanekes dan masyarakat adat Kasepuhan.
“Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang merupakan satu rumpun dengan kasepuhan adat Banten Kidul. Ada buyut di Citorek, ada pantrang di Cicarucub dan ada pamali di Ciptagelar. Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang berkeyakinan bahwa wilayahnya merupakan wilayah pertama yang dipilih oleh Walangsungsang,” tulis peneliti dalam laporannya.
Sistem pendidikan
Melalui wawancara, pengamatan serta literatur review yang dilakukan, peneliti berhasil menemukan bahwa di dalam tradisi masyarakat adat Cisungsang terdapat sistem pendidikan yang berlangsung sejak berdirinya kasepuhan ini.
Pertama, sistem pendidikan berdasarkan 'intuisi' leluhurnya. Masyarakat mempercayai nasihat ketua adat adalah meneruskan pesan para leluhur. Misalnya, perpindahan wewengkon didasarkan pada 'wangsit' atau pesan (amanat) gaib. Sebagian incu putu melakukan laku spiritual atau tirakat untuk mendapatkan bisikan gaib dari para leluhurnya.
Kedua, teladan. Dalam masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang dikenal dengan nyarita, yang artinya menceritakan maksud dan tujuannya kepada pemangku adat atau perwakilannya di tiap-tiap kampung. Hal yang sama pun dilakukan oleh ketua adat dalam memberikan instruksi/perintah/imbauan kepada masyarakatnya dengan mengumpulkan para perangkat adat dan rendangan kemudian ketua adat bercerita.
Peneliti menyebutkan, semua tradisi yang dilakukan secara turun-temurun tidak boleh dituliskan. Peneliti pernah bertanya, “Siapakah ketua adat tertua?” Narasumber tidak menyebutkan nama kepada orang sembarangan, hanya menyebutkan para leluhur.
Catatan-catatan tentang tradisi, jampe-jampe, pengobatan dan lainnya hampir tidak ada. Padahal itu penting dilakukan dalam rangka mendokumentasikan kebudayaan di tiap masanya.
“Dalam diskusi dengan beberapa rendangan, saya menyarankan untuk mencatat semua aktivitas yang ada dalam tradisi masyarakat kasepuhan dan menyimpannya dengan rapi,” tulis peneliti.
Peneliti menegaskan bahwa tradisi lisan memberikan hal yang positif, menuntut daya ingat masyarakat yang kuat dan dipraktikkan. Semakin banyak masyarakat yang mau mempraktikkan, maka semakin langgeng tradisi itu berlangsung.
Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua