Warta

Juara MTQ Pelajar Didominasi Anak Pesantren

NU Online  ·  Kamis, 23 Juli 2009 | 20:10 WIB

Brebes, NU Online
Kejuaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) bagi Pelajar di Kabupaten Brebes dikuasai anak-anak dari didikan lingkung Pesantren. Terbukti, juara umum diraih pesantren As-Syamsuriyah, Desa Jagalempeni, yang merupakan perwakilan Kafilah Kec. Wanasari dengan 5 emas dan 3 perunggu.

Sementara Juara 2 diraih Kafilah dari Kec. Sirampog dengan 3 emas, 3 perak dan 1 perunggu yang dimotori anak-anak Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog.. Sedangkan juara 3 dari Kecamatan Larangan dengan 1 emas yang juga berbasis pesantren.<>

“Pesantren kini telah mengembangkan pendidikan formal seperti SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, jadi wajar kalau kemudian mendominasi kejuaraan,” ujar Kepala Seksi Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Drs Edi Harjono MM disela-sela lomba di Aula SMA 2 Brebes, Kamis (23/7)

Dia menjelaskan, total jumlah peserta MTQ tahun ini diikuti 272 peserta. Mereka berasal dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK Se Kabupaten Brebes. Para peserta itu sebelum maju ke tingkat Kabupaten terlebih dahulu telah mengikuti seleksi ditingkat kecamatan masing-masing. “Kusus juara 1 akan menjadi wakil Brebes di tingkat Provinsi Jateng pada 3-10 Agustus mendatang di Demak,” terangnya.

Dalam Lomba ini, lanjutnya, terbagi dalam 10 cabang. Diantaranya Cabang tilawah dan Tartil untuk anak SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Sedangkan Haflah 1 Juz  untuk tingkat SMP/MTs dan untuk 5 Juz bagi siswa SMA/MA/SMK.

Salah seorang peserta lomba M. Mufidz Maqi dari MTs Al Hikmah 2 Sirampog yang juga juara 1 Tilawah Tingkat SMP mengungkapkan rasa senangnya menjadi juara. Pasalnya, ikhtiar yang telah dia lakukan selama belajar al quran di pondok telah mendapatkan hasil dan membahagiakan kontingennya. “Alhamdulillah, mudah-mudahan untuk tingkat provinsi, bisa kembali juara,” harap Mufidz.

Mufidz, Putra dari KH Cecep Abdullah M.Pd.I yang juga pengasuh Ponpes Al Falah 2 Bandung Jawa Barat ini mengaku bisa menjadi juara karena mendapat bimbingan dari Ponpes Al Hikmah 2 dan Ayahnya. Anak kelahiran Bandung 31-1-1996 ini, mengaku tak menjadi soal kendati kejuaraanya hanya dihargai dengan sebuah sertifikat dan piala. “Niat saya cuma ngaji. Syukur sih juara,” ungkapnya dalam logat sunda.

Edi Harjono yang juga ketua panitia penyelenggara membenarkan para juara tidak mendapatkan uang pembinaan. Dikarenakan keterbatasan anggaran. “Tahun lalu kami mendapatkan dana 95 juta untuk penyelenggaraan ini hingga pengiriman ke tingkat provinsi. Tapi tahun ini cuma 50 juta rupiah. Jadi tidak menyediakan uang pembinaan bagi para juara,” tandasnya. (was)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang