Warta

Kang Said: Masyarakat Eropa Lebih 'Islami' daripada Muslim Indonesia

NU Online  ·  Senin, 1 Juni 2009 | 04:02 WIB

Makassar, NU Online
Masyarakat nonmuslim di sejumlah negara di Eropa lebih 'Islami' daripada muslim di Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya, kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj.

"Kita (muslim) ini muslim secara akidah dan syariat. Artinya, akidah dan syariat kita Islam. Tapi, dari segi nilai dan ajaran-ajaran universalnya, tidak. Buktinya, masih banyak rakyat miskin, tidak berpendidikan, dan lain-lain," jelas Kang Said--panggilan akrabnya--saat berbicara pada forum Rapat Kerja Nasional Muslimat NU di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (31/5).<>

Menurut Kang Said, hal yang sangat jauh berbeda dapat dilihat pada masyarakat di Eropa. Di sana, katanya, kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan rakyatnya lebih terjamin. Mereka lebih beradab, berakhlak, berbudaya, berpendidikan. Hukum pun ditegakkan sungguh-sungguh.

"Untuk urusan kebersihan saja, mereka (sebagian besar masyarakat Eropa) lebih 'muslim'. Tidak ada sampah berserakan seperti di sini. Padahal, kita (muslim mayoritas di Indonesia) mengenal annadlo fatu minal iman (kebersihan adalah sebagian dari iman), tapi tetap saja tidak bisa menjaga kebersihan," jelasnya.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat di sejumlah negara yang menggunakan syariat Islam sebagai hukum negara, seperti Pakistan. Di sana, kekerasan lebih mudah ditemui daripada kedamaian. Padahal, seharusnya merekalah yang lebih beradab.

"Kita malu melihat seringnya bom meledak di Pakistan yang notabene akidah dan syariatnya Islam, tapi mereka jauh dari Islam di sisi perbuatan sehari-hari, dalam mewujudkan kehidupan sosial, politik, ekonomi," terang alumnus Universitas Ummul Qura, Mekah, Arab Saudi, itu.

Sesungguhnya, kata Kang Said, Rasulullah Muhammad ditugaskan Allah untuk membangun umat yang modern, berbudaya, beradab dan berpendidikan, seperti yang terlihat pada masyarakat Eropa saat ini. Istilah umat, ujarnya, tidak hanya berarti umat Islam, melainkan umat manusia pada umumnya.

Rasulullah, imbuhnya, juga tidak ditugaskan untuk mendirikan negara Islam. "Tidak ada perintah untuk mendirikan negara Islam dalam Al-Qur'an, tapi membangun umat manusia yang beradab, modern dan berpendidikan," tandasnya.

"Nah, Eropa secara tsaqafah dan hadarah (peradaban dan kebudayaan), persis seperti masyarakat tamaddun (masyarakat yang dibangun Rasul di Madinah) jaman Nabi Muhammad. Sayangnya, syariatnya orang Eropa itu nonmuslim," jelas Kang Said. (rif)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang