PC Lakpesdam NU Sumenep mulai membuka pendidikan kader dengan tajuk “Madrasah Aswaja”. Untuk tahap pertama madrasah Aswaja dibuka khusus untuk aktivis Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat dan PAC Fatayat Kecamatan Gapura (6/3). Badan onotomi di NU itu juga sekaligus sebagai panitia.
Peserta yang hadir sebanyak 70 orang yang terdiri dari perwakilan ranting Muslimat dan Fatayat di Kecamatan Gapura yang berjumlah 17 desa, perwakilan PAC Muslimat dan PAC Fatayat Kecamatan Batang-Batang, Kecamatan Dungkek dan Kecamatan Batu Putih, serta perwakilan pengurus MWC NU Kecamatan Gapura.
>
“Pengkaderan ini digagas untuk menyebarkan ajaran Aswaja ala thariqati nahdlatil 'ulama dan menguatkan faham Aswaja yang saat ini tengah menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok tertentu,” jelas Yuli, Koordinator madrasah Aswaja.
Menurutnya, madrasah Aswaja bagi perempuan penting dilakukan, karena perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan kader. “Tantangan Aswaja dan NU sudah merambah kemana-mana termasuk organisasi perempuan,” lanjutnya.
Dalam madrasah Aswaja, kader NU diberi bekal tentang sejarah NU, Qonun Asasi, ahlussunnah wal jama’ah serta keorganisasian. Hadir juga dalam kegiatan ini, pengurus PCNU Sumenep, pengurus MWC NU Kecamatan Gapura, dan pengurus badan otonom di lingkungan MWC NU Gapura. Para fungsionaris NU bertindak sebagai pembicara, di antaranya KH Ilyas Siradj, K Hafidzi Syarbini dan lain-lain.
”Madrasah Aswaja akan dilanjutkan dengan workshop-workshop keorganisasian agar terjadi penguatan dan dinamiasi di tubuh NU,” ujar Yuli.
Penggerak NU
Di Jakarta, mantan aktifis Lakpesdam NU Helmi Ali, memberi apresiasi atas diadakannya madrasah Aswaja di Sumenep, Jawa Timur.
”Tugas Lakpesdam NU memang bertugas menggerakkan NU, baik secara jamiyah ataupun jamaah, agar bisa menjalankan khittahnya, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai yang dianutnya. Salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang ada di NU, dalam bentuk pendidikan kader itu,” jelas Helmy yang terkenal dekat dengan anak muda.
Dia menyarankan, proses pendidikan kader perlu ada beberapa penekanan dalam materi NU.
”Saya kira kader harus paham kenapa yang namanya NU ada, ada situasi sosial politik, budaya, ekonomi yang mengharus NU lahir. Mulai dari tingkat lokal, nasional, sampai kepada tingkat global,” teranganya. (dr/hh)
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
2
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
3
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
4
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
6
Soroti Penilaian Juri LCC di Kalbar, KPAI: Mental dan Kepentingan Anak Harus Diutamakan dalam Kompetisi
Terkini
Lihat Semua