Nicolas Anelka: Islam Memberikan Ketenangan Hidup
NU Online · Senin, 31 Agustus 2009 | 06:30 WIB
Menjadi seorang Muslim adalah menjadi pribadi yang pribadi yang tenang dan matang. Islam menuntun umatnya untuk tetap bersikap arif, termasuk saat berlaga di lapangan sepak bola.
Demikian dinyatakan oleh Nicolas Anelka stricker Salah satu klub raksasa Inggris, Chelsea. Menurut Anelka, Isalm banyak membawa perubahan positif dalam hidupnya. Sejak menyatakan diri memeluk agama Islam tahun 2004 lalu, Anelka juga menyandang nama Islam, yakni Abdul Salam Bilal Anelka.<>
"Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi. Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,'' tutur Anelka kepada majalah berbahasa Arab, Super Magazine.
Diyakini kepindahan Anelka memeluk agama Islam ini, terjadi ketika dia membela raksasa Turki, Fenerbahce, setelah tiga musim bermain untuk Manchester City, Inggris. hal itu terjadi saat dirinya baru berusia 16 tahun.
Bagi Anelka, Islam merupakan sumber kekuatan dan petunjuk dalam hidupnya.
Meski demikian, Anelka menganggap urusan agama sebagai masalah pribadi.
"Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya saat ini. Tapi, ini masalah pribadi dan itu mengapa saya tidak membicarakan hal itu selalu sering. Itu adalah sisi pribadi saya,'' terangnya.
Sebelumnya, Anelka sempat menyembunyikan identitas keislamannya dari hadapan publik. Bahkan, tak seperti rekannya Franck Ribery, pemain FC Bayern Muenchen, Jerman, asal dari Prancis, yang selalu berdoa ketika pertandingan akan dimulai. Anelka justru diam saja dan benar-benar menyembunyikan identitas Muslimnya.(min)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
3
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
Terkini
Lihat Semua