PBNU: Syiah Masuk dalam Golongan Al Firaq Al Islamiyyah
NU Online · Rabu, 4 Januari 2012 | 07:56 WIB
Jakarta, NU Online - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menegaskan, aksi pembakaran pesantren di Sampang, Madura, tidak memiliki latar belakang pemusuhan antara aliran Sunni dan Syiah. Bahkan Syiah yang oleh sebagian besar orang dikategorikan aliran sesat, dengan tegas dinyatakan masih dalam golongan Al Firaq Al Islamiyyah.
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj mengatakan, Syiah sebagai bagian Al Firaq Al Islamiyyah sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya semasa menjalani studi di Universitas Ummul Qura', Mekah. Syiah diakuinya masuk dalam mata kuliah Al Firaq Al Islamiyyah atau partai-partai Islam, yang di antaranya meliputi Khawarij, Jabariyyah, Mu'tazilah, Qadariyyah, Murjiah, Asy'ariyyah, Maturidiyyah dan lain sebagainya. Sebagai perbandingannya juga diajarkan Al Firaq Ghairul Islamiyyah, yaitu partai-partai di luar Islam atau perpecahan dalam Islam yang sudah keluar dari ajaran Islam, di antaranya Qadiyaniyyah, Ismailiyyah, dan Bathiniyyah.
"Syiah masih bagian dari ajaran Islam, bagian dari Al Firaq Al Islamiyyah, dan NU tidak gampang memberikan stigma sesat pada aliran lain," tegas Kiai Said di Jakarta, Rabu (4/1).<>
Kiai Said juga mengatakan, NU tidak gampang memberikan stigma sesat pada suatu aliran juga mengacu pada dasar pendirian NU oleh KH. Hasyim Asyari, yaitu ukhuwah Islamiyah, Wathaniyyah dan Insaniyyah. "(Penilaian) Ini juga sesuai dengan sikap NU yang setia mengawal UUD 1945, tepatnya pasal dua puluh sembilan," tandasnya.
Lebih lanjut Kiai yang akrab disapa Kang Said ini juga mengatakan, Syiah sama dengan aliran lain dalam Islam karena bisa didebatkan perbedaan-perbedaan yang ada di antara satu sama lainnya. Khusus mengenai perbedaan ajaran Sunni dan Syiah, dialog-dialog yang tak jarang berujung debat sudah pernah dilakukan di tingkat internasional dan nasional.
"Tingkat internasional pernah digelar di Doha, Qatar. Saat itu dari Indonesia yang hadir saya sendiri dan Pak Nasarudin (Umar). Tingkat nasional pernah digelar di Istana Bogor, yang membuka saat itu bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," ungkap Kang Said.
Untuk aksi pembakaran pesantren di Sampang, Madura, Kang Said juga kembali menegaskan kejadian tersebut berlatarbelakang persoalan keluarga. Penilaian ini juga mengacu pada kondisi penganut ajaran Syiah di berbagai daerah di Indonesia, antara lain Banten, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang selama ini hidup aman berdampingan dengan penganut aliran lain dalam Islam.
"Artinya itu memang karakter masyarakat di sana (Madura) dan ada penyebab lain terjadinya pembakaran itu, salah satunya persoalan keluarga. Kondisinya semakin sulit setelah ada pihak-pihak lain yang memanfaatkannya untuk mencoba menghancurkan kerukunan umat beragama di Indonesia," pungkas Kang Said.
Penulis: Emha Nabil Haroen
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua