PKB Perjuangkan Anggaran Pendidikan 20 Persen dari APBN
NU Online · Senin, 16 Juli 2007 | 07:17 WIB
Kudus, NU Online
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) siap memperjuangkan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kata Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB, Muhaimin Iskandar.
"Untuk meperjuangkan anggaran tersebut, PKB juga siap mengawal dan memantapkan kebijakan pendidikan nasional. Anggaran pendidikan tersebut merupakan kewajiban bagi pemerintah dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sebab hal itu merupakan amanat UUD 1945," kata Muhaimin di sela-sela melakukan ziarah walisongo dalam rangka hari lahir (Harlah) PKB ke-9, di Desa Colo, Kudus, Jateng, Ahad (15/7) kemarin.
Untuk itu, kata Muhaimin, pihaknya akan memantapkan penyusunan ulang APBN di tahun 2008, agar alokasi dana yang tidak efektif dialihkan ke bidang pendidikan.
Selama ini, yang getol memperjuangkan anggaran sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan adalah PKB, dan salah satu sosok orang PKB yang getol memperjuangkan itu adalah almarhum KH Yusuf Muhammad, yang turut serta memperjuangkan perubahan UUD 1945.
"Kita patut bersyukur, memiliki figur seperti dia. Semoga PKB bisa terus memperjuangkan hal itu," katanya.
Menurut dia, perjuangan dalam bidang pendidikan, terutama tentang amandemen UUD 1945 yang mewajibkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen, itu harus terus diperjuangkan oleh kekuatan seluruh pengurus PKB. Sehingga, penggunaaan anggaran tersebut dapat dimaksimalkan bagi peningkatan kualitas anak didik dan SDM di Indonesia. (man/ant)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
PBNU Bentuk Tim Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU, Sembilan Pesantren Masuk Daftar
3
Khutbah Jumat: Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan yang Meresahkan
4
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
5
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
6
‘Gak Srawung Gak Ditulung’: Etika Bertetangga di Zaman Serba Sibuk
Terkini
Lihat Semua