Daerah

Dari Dibakar hingga Berkubah Tujuh: Jejak Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:30 WIB

Dari Dibakar hingga Berkubah Tujuh: Jejak Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Masjid Baiturrahman Aceh. (Foto: acehprov.go.id)

Banda Aceh, NU Online

Hari ini, Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah sebagai ikon Aceh. Tujuh kubah hitamnya membingkai langit Banda Aceh, lima menaranya menjulang anggun, dan halaman luasnya menjadi ruang sujud ribuan jamaah. Ia bukan sekadar penanda kota, tetapi simbol keislaman dan martabat rakyat Serambi Makkah.


Namun, kemegahan itu lahir dari perjalanan sejarah panjang, penuh luka, perlawanan, dan perubahan zaman.


Masjid Kerajaan di Pusat Peradaban

Riwayat awal menyebut masjid ini telah berdiri sejak era Kesultanan Aceh Darussalam. Ada yang menyebut dibangun pada abad ke-13, sementara riwayat kuat lainnya menyatakan pembangunan kembali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), saat Aceh mencapai puncak kejayaan politik dan intelektual.


Sekitar 1614, masjid ini menjadi masjid utama kerajaan. Letaknya di pusat pemerintahan menegaskan peran agama sebagai jantung peradaban. Di sanalah rakyat bersujud, ulama mengajar, dan kebijakan kerajaan berpijak pada nilai Islam.


Arsitekturnya kala itu khas Nusantara: denah bujur sangkar, atap bersusun (tumpang), tanpa kubah dan tanpa menara tinggi. Bentuknya horisontal dan membumi, cerminan Islam yang berpadu dengan budaya lokal.


Terbakar dan Bangkit Kembali

Pada masa Sultanah Nurul Alam (1675-1678), masjid pernah terbakar bersama kompleks istana. Namun ia dibangun kembali di lokasi yang sama.


Tragedi terbesar terjadi pada 1874 saat agresi militer Belanda dalam Perang Aceh. Masjid menjadi pusat konsolidasi perlawanan. Di halaman inilah semangat jihad fi sabilillah dikobarkan, hikayat perang dibacakan, dan rakyat bersatu melawan kolonialisme.


Ketika Belanda berhasil menguasai Kutaraja (kini Banda Aceh), masjid dibakar. Bagi rakyat Aceh, pembakaran itu bukan sekadar penghancuran bangunan, melainkan penghinaan terhadap agama dan martabat. Namun api yang membakar Baiturrahman justru menyulut bara perlawanan yang menyala puluhan tahun.


Dibangun Ulang oleh Kolonial: Awal Kubah

Untuk meredam kemarahan rakyat, pemerintah kolonial membangun kembali masjid pada 1879-1881. Perancangnya adalah arsitek Belanda Gerrit Bruins.


Inilah titik perubahan besar. Untuk pertama kalinya, Baiturrahman memiliki kubah. Gaya arsitekturnya mengusung nuansa Indo-Persia/Mughal, berbeda jauh dari bentuk asli Nusantara. Bangunan baru menggunakan batu dan marmer, serta memiliki satu kubah utama.


Awalnya, rakyat Aceh menolak beribadah di sana karena dianggap simbol kolonial. Seiring waktu, masjid perlahan kembali menjadi pusat ibadah masyarakat. Pada 1936, dua kubah tambahan dibangun, menjadikannya tiga kubah.


Era Kemerdekaan: Menjadi Milik Umat

Setelah Indonesia merdeka, makna Baiturrahman berubah. Pada masa Gubernur Ali Hasjmy, dilakukan perluasan besar pada akhir 1950-an hingga 1960-an. Dua kubah ditambahkan sehingga menjadi lima kubah. Menara-menara baru juga dibangun.


Sejak saat itu, masjid ini sepenuhnya menjadi simbol kebangkitan Islam Aceh, bukan lagi bayang-bayang kolonial.


Perluasan berlanjut pada masa Gubernur Abdullah Puteh dan proyek besar pada era Zaini Abdullah. Kawasan masjid ditata ulang, halaman diperluas, payung raksasa dipasang, dan kubah ditambah hingga menjadi tujuh seperti sekarang.


Dari satu kubah pada 1881, kini berdiri tujuh kubah, melambangkan perjalanan panjang dari luka kolonial menuju kebangkitan umat.


Simbol Jihad dan Martabat Aceh

Perang Aceh merupakan salah satu perang terlama dalam sejarah kolonial Belanda. Ulama besar seperti Teungku Chik di Tiro memimpin perlawanan dengan spirit jihad fi sabilillah.


Masjid Raya Baiturrahman menjadi simbol perjuangan itu. Ia bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat moral dan spiritual perlawanan.


Hari ini, wisatawan dari berbagai negara datang mengagumi kubah-kubah hitamnya. Banyak yang memotret keindahannya, tanpa mengetahui bahwa di balik kemegahan itu tersimpan sejarah darah, air mata, dan keberanian.


Baiturrahman telah berubah rupa, dari atap tumpang masa kesultanan, kubah tunggal era kolonial, hingga tujuh kubah masa kini. Namun ruhnya tetap sama: rumah Allah yang menjaga martabat rakyat Aceh.


Memahami Baiturrahman berarti memahami perjalanan iman dan identitas Aceh. Selama azan masih berkumandang dari menara-menara itu, sejarah jihad fi sabilillah akan terus hidup, menjadi pengingat bahwa iman tidak pernah tunduk pada penjajahan.

 

Helmi Abu Bakar, kontributor NU Online, tinggal di Aceh.