Daerah

Takjil di Kampung Ramadhan Rembang Tak Lagi Laris karena Ekonomi Lesu dan Daya Beli Melemah

Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:00 WIB

Takjil di Kampung Ramadhan Rembang Tak Lagi Laris karena Ekonomi Lesu dan Daya Beli Melemah

Suasana Kampung Ramadhan di Rembang Jawa Tengah, Jumat (27/2/2026). (Foto: Fajar Musthoffa)

Rembang, NU Online

Aneka takjil yang dijual pedagang asli maupun pedagang musiman di Kampung Ramadhan Rembang Jawa Tengah tahun ini tak selaris tahun lalu. Fenomena ini terjadi lantaran lesunya ekonomi masyarakat.


Romlah Dwi, salah satu pengunjung yang membeli beberapa takjil di Kampung Ramadhan mengaku, suasana Kampung Ramadhan tahun ini lebih tertata rapi. Yang awal mulanya berada di Jalan dr. Soetomo, kini beralih di Jalan Subroto atau biasa disebut area CB.


"Di sana tempatnya lebih luas dan strategis, tidak ada kemacetan yang begitu padat seperti tahun kemarin," ujar Romlah saat diwawancarai NU Online, Jumat (27/2/2026).


Selama mengunjungi Kampung Ramadhan, Romlah kerap membeli dimsum, sebab menurutnya paduan bumbu dan daging yang lumer disertai keju yang sangat menggugah selera saat buka puasa.

 

"Sebenarnya banyak yang saya beli karena suka kalap kalau sudah di sana, cuma yang sering di beli dimsum sama es buah," tambahnya.

 

Berdasarkan pengamatannya, ia menyampaikan bahwa secara umum harga takjil mengalami kenaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya 


"Ya mungkin karena harga bahan pokok juga yang naik, namun yang pasti pedagang pasti juga berusaha menjaga harga supaya tetap terjangkau misalnya es buah, es kuwut masih di harga Rp5 ribu, Rp10 ribu juga sudah dapat dimsum yang enak," paparnya.

 

Kata dia, harga saat ini memberatkan pembeli di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak baik-baik saja.

 

"Terasa berat kalau yang beli orang kalangan menengah ke bawah terutama pembelian yang dilakukan setiap hari selama bulan Ramadhan dengan harga segitu," tandas Romlah.


Di sisi lain, ia juga menyoroti bagaimana kondisi ekonomi yang sedang sulit selama bulan Ramadhan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi penjual jajanan takjil supaya cepat laris.

 

"Untuk tahun ini mungkin bisa melakukan strategi yang lebih kreatif, entah itu bikin promosi bundling dengan harga hemat," sahutnya.

 

Namun, ia juga menekankan, bahwa hal yang paling penting yakni memanfaatkan media sosial untuk dijadikan sebagai tempat promosi. "Apalagi sekarang banyak orang dapat mengakses informasi terbaru dari sosial media. Jadi bisa sangat membantu," ungkapnya.

 

Baginya, keberadaan Kampung Ramadhan membantu perputaran ekonomi warga sekitar, apalagi kampung ramadhan ini dapat dikatakan sebagai momen yang ditunggu tunggu pedang kecil, UMKM, dan warga sekitar. "Sekaligus bagi perputaran uang yang di dapat lebih cepat karna pedagang takjil dapat tambahan penghasilan, walaupun ini skalanya lokal, tetapi efeknya lumayan terasa buat ekonomi masyarakat sekitar," tuturnya.

 

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa mondisi ekonomi yang sedang lesu di bulan Ramadan ini cukup terasa, sebab dilihat dari pola masyarakat yang mungkin bisa dibilang lebih selektif dalam berbelanja dan menyesuaikan pengeluaran kebutuhan yang lebih diprioritaskan.


Meski kondisi ekonomi lesu sangat mempengaruhi daya jual beli, masyarakat masih antusias untuk memeriahkan dan berkumpul serta menikmati suasana ngabuburit bersama keluarga, teman dekat, maupun pasangan.

 

"Walaupun tidak semeriah tahun lalu, tapi warga sekitar tetap memeriahkan kampung ramadhan, apalagi detik-detik berbuka puasa, serta area kampung Ramadan juga dijadikan sebuah emtempat berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati suasana ngabuburit bersama keluarga, kerabat dekat, teman-teman maupun pasangan," pungkas Romlah.


Hal itu menunjukkan bahwa nilai sosial dan spiritual di bulan Ramadan itu tetap kuat meskipun kondisi ekonomi terbilang sedang tidak stabil.


Sementara Najehwa Pramesti, salah satu mahasiswa Universitas Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia Rembang (UYR) menilai, kampung ramadhan tetap ramai meski ekonomi sedang sulit.


"Keberadaan Kampung Ramadhan sangat membantu perputaran ekonomi warga sekitar. Banyak warga yang bisa membuka lapak takjil, makanan, minuman, bahkan parkir dan jasa lainnya. Jadi meskipun kondisi ekonomi sedang lesu, tetap ada pemasukan tambahan bagi masyarakat sekitar," kata Pramesti.

 

Di sisi lain, harga takjil di Kampung Ramadhan tahun ini masih ada yang terjangkau, walaupun beberapa makanan naik dibanding tahun lalu. Dengan kondisi ekonomi yang sedang lesu, daya beli masyarakat sedikit menurun, serta orang jadi lebih selektif saat belanja

 

"Mungkin karena harga bahan pokok juga naik. Tapi sejauh ini masih bisa disesuaikan dengan kemampuan pembeli, apalagi kalau pembeli bisa memilih menu sesuai pendapatan," tutupnya.