Sejumlah literatur yang memuat sejarah tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyebut nama-nama pendirinya. Sebut saja Almanak Sewindu PMII yang diterbitkan PC PMII Ciputat pada tahun 1968, misalnya, Fragmen Seperempat Abad PMII (Dinamika Study Club PMII Surakarta, 1985), dan Pemikiran PMII dalam Berbagai Visi dan Persepsi (Majalah NU Aula, 1991).
Literatur terlama yang penulis miliki, yakni buku Almanak Sewindu PMII, memuat artikel salah satu pengurus PP PMII kala itu, Chotibul Umam. Dalam artikel berjudul Sewindu PMII, ia mengulas sejarah PMII, dari masa sebelum didirikan hingga kemudian lahir pada 16 April 1960, berikut perkembangannya hingga tulisan tersebut dicetak, yakni tahun 1968.
Baca Juga
Sejarah Lahirnya PMII
Tak lupa, ia juga mencantumkan sejumlah dokumen-dokumen penting dalam sejarah PMII, antara lain Deklarasi Tawangmangu, Sepuluh Kesimpulan Ponorogo, Penegasan Djogdjakarta, Pernjataan Djogdjakarta, Gelora Megamendung, dan Pantja Norma PMII Putri.
Ulasan Chotibul Umam ini yang kemudian menjadi banyak rujukan utama dalam penulisan terkait PMII, selain buku Lima Tahun Sejarah Perjalanan PMII (PP PMII, 1965) dan Sejarah Singkat Berdirinya PMII dan Perkembangannya (1967) yang ditulis oleh Wail Haris Sugianto, adik dari pendiri PMII Cholid Narbuko dan putra dari Rais PWNU Jateng KH Zubair. Pun menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam tahap pengkaderan formal PMII.
Baca Juga
Makna di Balik Nama dan Lambang PMII
Salah satu bagian penting dalam tulisan Chotibul Umam, yakni ketika ia memaparkan 13 nama, yang ia sebut sebagai sponsor pendiri organisasi mahasiswa NU, berikut asal daerah kampusnya, yakni:
Baca Juga
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
- A Chalid Mawardi (Jakarta)
- M Said Budairy (Jakarta)
- M Sobich Ubaid (Jakarta)
- M Mahmud Syukri (Bandung)
- Hilman Badrudinsyah (Bandung)
- Ismail Maky (Yogyakarta)
- Munsif Nachrawi (Yogyakarta)
- Nuril Huda Suaidy (Surakarta)
- Laily Mansyur (Surakarta)
- Abd. Wahab Djaelani (Semarang)
- Hizbullah Huda (Surabaya)
- M Cholid Narbuko (Malang)
- Ahmad Husaen (Makassar).
Ketiga belas nama tersebut, yang kemudian dikenal sebagai para pendiri PMII. Nama mereka kerap disebut dalam buku-buku yang membahas tentang PMII, pun dalam setiap tahapan pengkaderan PMII. Para pendiri PMII tersebut, juga tak lupa untuk disebutkan dalam tawasul doa, yang dipanjatkan para kader dan alumni PMII, setidaknya satu tahun sekali setiap momen harlah.
Namun, yang menjadi pertanyaan penulis sejak lama. Benarkah PMII hanya didirikan oleh tiga belas orang tersebut? Kemudian adakah dokumen asli yang memuat nama atau tanda tangan tiga belas tokoh tersebut, pada saat peristiwa deklarasi lahirnya PMII di Surabaya tahun 1960?
Adakah nama lain?
Menurut hemat penulis, ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tentu hal ini berdasarkan beberapa temuan fakta dan alasan. Pertama, dari hasil wawancara dengan salah satu nama yang tercantum dalam 13 tokoh tersebut, yakni KH Munsif Nachrawi (wafat 2024), penulis mendapatkan keterangan bahwa selain 13 sponsor pendiri PMII, ada nama lain yang tidak tercatat.
Salah satunya yakni Abdullah Alwi (AA) Murtadho. Mengenai tokoh ini, penulis pernah mengulasnya dalam artikel berjudul AA Murtadho Deklarator PMII yang Sempat Terlupakan (NU Online, 2020). Menurut Kiai Munsif, AA Murtadho memiliki peranan penting dalam musyawarah mahasiswa NU di Surabaya tersebut. Kiai Munsif mengungkapkan:
“Sebenarnya ada satu yang rupanya ditinggalkan. Namanya biasa dikenal dengan A.A. Murtadho. Beliau waktu itu merupakan perwakilan dari PP (Pimpinan Pusat) IPNU di Jakarta. Beliau beberapa kali memimpin sesi pada waktu pertemuan (lahirnya PMII, pen) di Surabaya. Juga pemegang andil dalam berdirinya PMII," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Munsif menerangkan tentang A.A. Murtadho yang kala itu masih berstatus sebagai mahasiswa ADLN (Akademi Dinas Luar Negeri), yang kini dikenal sebagai Sekdilu (Sekolah Dinas Luar Negeri), yakni program pendidikan dan pelatihan fungsional diplomat dasar pada Kementerian Luar Negeri RI.
Testimoni dari Kiai Munsif, sebagai salah satu saksi sejarah lahirnya PMII ini tentu tidak dapat dikesampingkan. Ibarat harta karun yang masih tersimpan dalam khazanah sejarah PMII, pernyataan ini menjadi temuan penting nan bersejarah, yang mestinya membuka ruang bagi interpretasi sejarah PMII.
Kedua, dalam sebuah wawancara dengan salah satu mahasiswi angkatan awal (tahun 1958) UNU Surakarta, Hj Aminatun. Penulis mendapatkan beberapa keterangan terkait acara musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di gedung Madrasah Mualimat NU Wonokromo Surabaya pada tanggal 14 – 16 April 1960.
"Saya waktu itu ikut datang ke Surabaya, waktu itu banyak yang datang ke sana. Saya datang bersama rombongan dari Solo, naik kereta api dari Stasiun Balapan," (Wawancara Hj Aminatun, 15 Januari 2025)
Menurut penjelasan dari Hj Aminatun tersebut, kita dapat membayangkan banyaknya mahasiswa NU yang hadir dari berbagai daerah, memenuhi area sekitar lokasi gedung Madrasah Mualimat NU Wonokromo Surabaya. Ada yang hanya kemudian ikut terlibat aktif dalam proses berdirinya PMII, ada pula yang hanya sekadar menyaksikan.
Seperti halnya peristiwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, tidak hanya Soekarno dan Hatta semata, tetapi juga banyak orang yang hadir di sana. Selain duo proklamator, masih banyak tokoh lain yang berjasa, baik sebagai penulis dan yang mengetik naskah proklamasi, pengibar bendera, penjahit bendera, dan lain sebagainya. Nama-nama mereka juga disebutkan dalam sejarah berdirinya bangsa ini.
Oleh karena itu, penting untuk kembali mengingat para tokoh-tokoh yang memiliki jasa besar dalam momen lahirnya PMII. Dalam amatan penulis, belum ada lagi buku terbaru atau terupdate, yang memuat perkembangan sejarah maupun gagasan baru seperti paradigma, yang ditulis oleh PB PMII. Terakhir, nama-nama para tokoh tersebut, selain untuk dicatat dalam buku sejarah PMII, tentu juga untuk dilantunkan dalam doa-doa. Lahumu al-Fatihah
Ajie Najmuddin, Alumni PMII Kota Surakarta