Nasional

118 Ribu Jamaah Haji Indonesia Tiba di Tanah Suci, Intensitas Layanan di Madinah dan Makkah Meningkat

Senin, 11 Mei 2026 | 06:00 WIB

118 Ribu Jamaah Haji Indonesia Tiba di Tanah Suci, Intensitas Layanan di Madinah dan Makkah Meningkat

Jamaah haji Indonesia gelombang 2 yang baru tuba di Makkah, Kamis (7/5/2026). (Foto: MCH 2026)

Makkah, NU Online
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melaporkan, hingga Sabtu (9/5/2026) pukul 09.00 WAS, sebanyakk 118.700 jamaah haji Indonesia atau sekitar 58,37% dari total kuota nasional telah berada di Madinah dan Makkah.


Mendekati fase puncak haji, intensitas operasional di Tanah Suci terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah jamaah yang tiba di Arab Saudi. Gelombang pertama pemberangkatan jamaah yang memulai dari Madinah sebagian perlahan-lahan sudah didorong ke Makkah. Sementara gelombang kedua yang langsung ke Makkah, terus berdatangan tiap hari mencapai 20 kloter.


Untuk menunjang kondisi fisik jamaah di tengah suhu Arab Saudi yang mencapai 38–42 derajat Celsius, Kemenhaj memberikan perhatian ekstra pada gizi makanan. Hingga saat ini, distribusi konsumsi tercatat telah mencapai 2,78 juta box makanan dengan rincian 2.129.003 box di Daker Madinah dan 653.115 box di Daker Makkah.


Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menegaskan bahwa pemenuhan gizi jemaah adalah kunci menghadapi puncak ibadah. "Kebutuhan makan jamaah terus kami pastikan terpenuhi dengan baik, tepat waktu, dan sesuai standar gizi dengan cita rasa nusantara," ujar Ichsan di Makkah, Sabtu (9/5/2026).


Ichsan memastikan bahwa PPIH melakukan pengawasan distribusi secara ketat, mulai dari kualitas makanan, kebersihan, ketepatan waktu distribusi, hingga kecukupan gizi bagi jemaah.


Selain itu, PPIH juga menyajikan menu-menu dengan cita rasa nusantara agar rasa rindu jemaah haji terhadap makanan Indonesia bisa tetap terobati.


Kemenhaj juga menegaskan bahwa penguatan layanan konsumsi menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jemaah di tengah suhu Arab Saudi yang berkisar 38–42 derajat Celsius.


Komitmen pelayanan menjadi identitas operasional di seluruh wilayah kerja. Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, mencatat bahwa aksi petugas yang sigap menggendong dan mendorong kursi roda bagi jemaah lansia serta disabilitas menjadi standar layanan yang dilirik oleh negara lain.


"Aktivitas petugas haji Indonesia saat melayani jamaah ini menyita perhatian negara lain. Nah layanan kita ini mungkin bisa ditiru negara lain untuk melayani jamaah mereka," tandasnya.


Salah satunya, kata dia, layanan terhadap jamaah lansia yang menjadi salah satu tugas utama petugas haji yang seringkali menggendong, mendorong kursi roda, dan memprioritaskan jamaah lansia dan disabilitas.


Sisi kesehatan jamaah juga jadi perhatian penuh petugas. Tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) Daerah Kerja Makkah misalnya bersiaga penuh di titik krusial di Masjidil Haram seperti Terminal Jabal Ka'bah.


Salah seorang petugas medis proaktif memberikan edukasi kesehatan bagi jamaah risiko tinggi (risti) dan melakukan penanganan darurat di tengah kepadatan jamaah di Masjidil Haram.


Sementara itu, Daker Bandara terus memastikan perlindungan jamaah sejak menginjakkan kaki di Tanah Suci. Kepala Daker Bandara, Abdul Basir, menjelaskan bahwa petugas disiagakan 24 jam untuk menangani berbagai dinamika, termasuk pendampingan intensif bagi jamaah yang sempat tertinggal akibat kendala keimigrasian di Jeddah agar dapat segera bergabung kembali dengan kloternya di Makkah. (MCH 2026)