Cegah Child Grooming dengan Optimasi Pendampingan Psikologis
Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:50 WIB
Jakarta, NU Online
Child grooming tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses bertahap yang terstruktur. Pelaku biasanya membangun relasi emosional dengan korban dengan menyamar sebagai teman, sosok peduli, atau figur yang dapat dipercaya. Pola manipulatif ini kerap membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang menjadi sasaran kekerasan seksual.
Psikolog klinis anak dan keluarga, Bianglala menjelaskan dampak awal yang dialami penyintas child grooming umumnya terlihat dari perubahan kondisi psikologis, terutama dalam pengelolaan emosi. Korban kerap menunjukkan respons emosional yang tidak stabil sebagai reaksi atas trauma yang dialaminya.
“Korban akan merasa kebingungan, disertai rasa takut, cemas, malu, dan merasa bersalah. Selain itu, mereka juga cenderung menjadi sangat sensitif, mudah marah, serta mengalami gangguan tidur,” ujar Bianglala kepada NU Online, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, perubahan emosi yang ekstrem merupakan sinyal adanya gangguan psikologis yang tidak boleh diabaikan. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma/post-traumatic stress disorder (PTSD), kecemasan berlebih, hingga depresi berkepanjangan.
"Respons tubuh yang menunjukkan perubahan emosi abnormal perlu segera dikonsultasikan. Tujuannya untuk membangun kembali regulasi emosi yang sehat serta memperbaiki relasi sosial korban,” jelasnya.
Bianglala menambahkan, faktor lingkungan sebelum terjadinya child grooming juga berperan besar terhadap kondisi psikologis korban. Lingkungan keluarga yang tidak aman atau toxic dapat memperparah dampak trauma yang dialami anak.
Selain perubahan emosi, tanda lain yang perlu diwaspadai orang tua adalah munculnya perilaku seksual di usia dini. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa anak mengalami paparan atau manipulasi seksual, terlebih karena pelaku child grooming tidak jarang berasal dari lingkungan terdekat korban.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Bianglala menekankan pentingnya peran orang tua sebagai pendengar yang baik. Orang tua diminta untuk tidak bersikap reaktif, menyalahkan, atau mengintimidasi anak saat mereka berani bercerita.
“Orang tua perlu menunjukkan ketenangan dan keberpihakan pada anak. Dengarkan dulu ceritanya tanpa menghakimi. Yakinkan anak bahwa mereka aman dan tidak sendiri,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan hukuman atau nasihat. Menurutnya, anak umumnya sudah menyadari bahwa apa yang dialaminya adalah hal yang salah karena merasakan dampaknya secara langsung.
Lebih lanjut, edukasi mengenai tubuh dan batasan diri perlu diberikan sejak dini secara bertahap, sesuai usia anak, dengan bahasa yang sederhana dan tidak menakut-nakuti. Edukasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media yang mudah dipahami anak.
"Orang tua bisa memanfaatkan lagu atau media edukatif, seperti lagu Ini Area Privasiku, sambil menjelaskan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain,” tuturnya.
Apabila praktik child grooming masih terus berlangsung, Bianglala menyarankan langkah awal yang harus dilakukan adalah melapor kepada orang tua atau orang dewasa terpercaya. Selanjutnya, pendampingan psikologis menjadi hal yang sangat penting bagi korban.
“Pendampingan psikologis diperlukan untuk membantu anak menata kembali trauma-trauma yang telah dialami, sekaligus mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mentalnya,” pungkasnya.
Pendampingan psikologis korban kekerasan seksual
Studi Deskriptif dimuat di Prepotif: Jurnal Aplikasi Psikologi Volume 1, Halaman 42-52 Tahun 2025 menyebutkan bahwa sering kali terjadi hal-hal yang tidak disangka yang justru menghambat proses pendampingan kepada korban kekerasan seksual anak.
Korban yang tertutup dan enggan dalam bekerja sama dengan pendamping termasuk salah satu hal yang menghambat dalam proses pendampingan.
"Dalam mengatasi hal ini, para pendamping berusaha untuk berbicara mengenai hal-hal yang disukai oleh korban dan juga mengajak korban ke tempat yang lebih sepi agar korban dapat berbicara lebih lega," ungkap Faqih dalam tulisannya.
Pendamping juga memulainya dengan mencari tau dan mengajak sang anak agar menceritakan berbagai aktivitas yang menarik minat mereka ataupun aktivitas yang mana mereka senang dan menikmati momen tersebut.
Hal ini terbukti dalam membuat korban menjadi lebih terbuka ditandai dengan korban dapat leluasa bercerita dan bercanda dengan pendamping dan tidak menutup-nutupi permasalahan yang sedang dialaminya.
Pendampingan juga bisa diinisiasi dengan datang ke rumah korban, sehingga komunikasi antara pendamping dengan korban dan keluarga korban dapat terjalin lebih baik lagi, tidak sekedar hanya melalui gawai.