Nasional

Psikiater Ungkap Pengaruh NPD dalam Kasus Child Grooming

NU Online  ·  Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:00 WIB

Psikiater Ungkap Pengaruh NPD dalam Kasus Child Grooming

Psikiater Kejiwaan FK Universitas Airlangga (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Kasus child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah viralnya kisah nyata yang diangkat selebritas Aurelie Moeremans dalam buku berjudul Broken String’s. Fenomena ini mendorong diskusi lebih luas mengenai faktor psikologis pelaku, salah satunya terkait Narcissistic Personality Disorder (NPD).

 

Psikiater Kejiwaan Universitas Airlangga, Damba Bestari, menjelaskan bahwa gangguan kepribadian bersifat menetap dan membentuk pola karakter seseorang dalam jangka panjang.


“NPD merupakan pola karakter yang ditandai dengan grandiositas atau perasaan superior dibanding orang lain, kebutuhan berlebihan akan kekaguman, serta sifat self-centered yang membuat individu kurang mampu berempati,” ujar Damba kepada NU Online, Sabtu (17/1/2026).


Ia menambahkan, individu dengan NPD kerap memanfaatkan relasi interpersonal untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya. Dalam relasi sosial, mereka sering menunjukkan perilaku manipulatif, eksploitasi emosional, serta kesulitan menjalin hubungan yang setara dan empatik.


“Kabar buruknya, orang dengan NPD cenderung tidak memiliki sifat reflektif atau tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya," imbuhnya.

 

Damba menegaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan narsistik yang sehat. Pada narsistik sehat, individu memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi secara positif, mampu menghargai diri sendiri, serta tetap memiliki empati dan kemampuan mengagumi orang lain.

 

Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak, Damba menyebut hingga kini belum ditemukan data valid yang secara langsung mengaitkan NPD sebagai penyebab utama child grooming. Secara empiris, tidak semua pelaku grooming adalah individu dengan NPD.

 

"Pelaku lebih sering menunjukkan kombinasi antara gangguan kepribadian narsistik dan antisosial atau psikopatik, bukan satu diagnosis tunggal,” tegasnya.

 

Dengan demikian, NPD tidak dapat dianggap sebagai penyebab langsung child grooming. Namun, karakteristik utama dalam NPD dapat menjadi faktor risiko tidak langsung.

 

"Kurangnya empati, kecenderungan mengeksploitasi orang lain, serta rasa entitlement dapat menurunkan nilai moral dan meningkatkan potensi perilaku manipulatif terhadap anak,” jelas Damba.

 

Risiko tersebut semakin meningkat ketika individu dengan NPD memiliki akses terhadap anak, berada dalam lingkungan sosial yang permisif, serta lemahnya pengawasan dan kontrol eksternal.

 

Individu dengan empati rendah cenderung tidak mampu memahami atau merasakan dampak psikologis dari tindakan mereka terhadap korban. Dalam konteks grooming, anak diperlakukan sebagai objek pemenuhan kebutuhan emosional atau seksual, bukan sebagai individu dengan hak dan kesejahteraan psikologis.

 

Kebutuhan akan kontrol dan validasi diri juga memainkan peran penting. Grooming kerap menjadi sarana untuk memperoleh dominasi psikologis, membangun ketergantungan emosional korban, sekaligus mengonfirmasi rasa superioritas pelaku.

 

“Dalam beberapa kasus, kontrol psikologis dan penguatan ego pelaku justru menjadi tujuan utama, bahkan melampaui kepuasan seksual itu sendiri,” paparnya.


Damba menjelaskan, berdasarkan Maryland Coalition Against Sexual Assault, terdapat enam tahap dalam proses grooming, yakni menargetkan anak, memperoleh kepercayaan anak, memenuhi kebutuhan anak, melakukan isolasi, seksualisasi hubungan, serta mempertahankan kontrol.


“Seiring waktu, pelaku mengeksploitasi rasa ingin tahu dan kepercayaan anak, lalu secara bertahap memasukkan unsur seksual ke dalam hubungan tersebut,” ujarnya.

 

Ketimpangan relasi semakin memperparah kondisi korban. Anak dan remaja berada pada posisi yang tidak seimbang karena pelaku umumnya merupakan figur dewasa yang dikenal, bahkan dihormati. Kebutuhan anak akan afeksi, pengakuan, dan perlindungan sering dimanfaatkan untuk membangun ketergantungan emosional.


“Pelaku dengan NPD sejatinya memiliki self-esteem yang sangat rapuh sehingga membutuhkan validasi, kontrol, dan pujian secara berlebihan,” tegas Damba.


Ketika berhadapan dengan anak yang dianggap inferior dan mudah dikendalikan, kebutuhan tersebut terpenuhi. Posisi otoritas pelaku sering kali memberikan legitimasi sosial, akses lebih mudah kepada anak, serta perlindungan dari kecurigaan lingkungan sekitar.


Relasi manipulatif semacam ini juga memperumit proses pemulihan korban. Korban kerap mengalami trauma bonding, kebingungan emosional, rasa bersalah, serta distorsi pemahaman tentang relasi dan kasih sayang.

 

“Rasa bersalah yang muncul, ditambah lingkungan yang tidak suportif, dapat menghambat korban untuk mencari bantuan,” ungkapnya.


Oleh karena itu, pemulihan korban tidak cukup hanya berfokus pada dampak kekerasan seksual, tetapi juga memerlukan intervensi psikiatri jangka panjang yang komprehensif. Pendekatan pemulihan yang trauma-informed dan menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak dalam menangani kasus child grooming.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang