Gerakan Nasional Pesantrenku Aman, Gus Yahya Ingatkan Amanah Besar Mendidik Santri
Selasa, 16 Juni 2026 | 21:00 WIB
Lampung Tengah, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengingatkan bahwa mendidik santri di pesantren merupakan amanah besar yang menyangkut masa depan dunia dan akhirat anak-anak yang dititipkan orang tua kepada para kiai.
“Pesantren sejak awal memang harus dimulai dengan isbiru karena berat,” ujar Gus Yahya dalam acara Doa Bersama dan Deklarasi Pesantrenku Aman Roadshow #2 Gerakan Nasional (Gernas) Pesantrenku Aman yang berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, pengasuh pesantren harus siap memikul tanggung jawab tersebut dengan kesabaran, kebersamaan, dan ketakwaan sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam prinsip isbiru, wa shabiru, wa rabithu, dan wattaqullah.
Gus Yahya menjelaskan bahwa keberadaan pesantren sejatinya merupakan bentuk keberanian para kiai dalam mengambil tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak yang dititipkan oleh orang tua mereka.
Padahal, kata dia, tanggung jawab utama pendidikan anak berada di tangan orang tua, baik untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat. Namun, para pengasuh pesantren berani mengambil amanah tersebut demi memastikan para santri memperoleh pendidikan yang baik dan terhindar dari berbagai hal yang dapat merugikan kehidupan mereka.
“Orang tua menyerahkan anak-anak mereka kepada pesantren karena percaya bahwa anak-anaknya akan memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya mengulas sejarah perubahan istilah organisasi pesantren yang dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Menurutnya, pendiri NU tersebut mengganti istilah ittihad menjadi rabithah karena terinspirasi oleh firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 200 yang berbunyi: Yā ayyuhal-lażīna āmanuṣbirū wa ṣābirū wa rābiṭū wattaqullāha la‘allakum tufliḥūn.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pedoman penting bagi para pengelola pesantren. Pertama, isbiru, yaitu bersabar dalam menghadapi beratnya perjuangan mengelola pesantren. Kedua, wa shabiru, yakni saling menguatkan dalam kesabaran dan menjaga kerukunan antarkiai maupun sesama pengelola pesantren.
“Wa shabiru, kiai satu rukun dengan kiai yang lain juga tidak mudah. Harus saling bersabar, saling mengingatkan untuk bersabar, dan saling menyayangi satu sama lain,” ujarnya.
Selanjutnya adalah wa rabithu, yaitu membangun kebersamaan dan perjuangan kolektif. Menurut Gus Yahya, kejayaan pesantren tidak mungkin diraih apabila setiap lembaga berjalan sendiri-sendiri.
“Tidak mungkin berjuang sendiri-sendiri. Maka harus wa rabithu jika ingin berjaya,” tegasnya.
Adapun prinsip terakhir adalah wattaqullah, yakni menjaga ketakwaan kepada Allah dalam seluruh proses pengabdian di pesantren.
Pada kesempatan yang sama, Gus Yahya mengingatkan bahwa semakin besarnya jumlah santri di berbagai pesantren membuat tantangan pengelolaan menjadi semakin kompleks. Ia mencontohkan sejumlah pesantren besar di Pulau Jawa yang memiliki puluhan ribu santri dan harus mengelolanya selama bertahun-tahun.
“Lirboyo santrinya sekitar 52 ribu, Sidogiri sekitar 25 ribu. Bayangkan begitu banyak anak-anak berkumpul dalam satu lingkungan selama bertahun-tahun,” katanya.
Karena itu, menurutnya, potensi persoalan seperti perundungan, kekerasan, hingga penyebaran penyakit menular merupakan hal yang secara logis dapat terjadi apabila tidak dikelola dengan baik.
Selain persoalan sosial, pesantren juga harus menghadapi tantangan kesehatan, seperti ancaman tuberkulosis (TBC), hepatitis, dan berbagai penyakit menular lainnya yang dapat menyebar di lingkungan dengan jumlah penghuni yang besar.
“Kalau disebut ada kekerasan, perundungan, dan lain-lain, itu memang potensi yang logis. Belum lagi penyakit menular yang harus diantisipasi bersama,” ujarnya.
Meski demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa perjuangan mendidik santri harus tetap dijalankan dengan penuh kesabaran dan kekuatan spiritual. Menurutnya, tugas paling berat dalam kehidupan bukanlah pekerjaan yang menghasilkan keuntungan materi besar, melainkan mengajar dan mendidik anak-anak karena menyangkut pembentukan masa depan mereka.
“Berjuang yang paling berat itu mengajar dan mendidik. Yang paling berat adalah mengajar anak-anak kecil karena sedang membentuk masa depannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekuatan utama para kiai dan pengasuh pesantren dalam menjalankan amanah tersebut terletak pada ukhuwah ruhaniyah serta kemampuan menahan diri (imsak) sebagaimana diajarkan para ulama terdahulu.
“Mari kita ingat kembali pesan guru-guru kita. Mereka dulu menerima dan mengasuh santri dengan penuh kesabaran. Kita tinggal meneruskan perjuangan mereka,” pungkasnya.