Nasional

Pengajian Ramadhan: Keberanian Bukan Nekat, tapi Maju dengan Akal dan Pertimbangan

Sabtu, 28 Februari 2026 | 18:00 WIB

Pengajian Ramadhan: Keberanian Bukan Nekat, tapi Maju dengan Akal dan Pertimbangan

Pengasuh Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul DIY, KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) dalam pengajian Ramadhan Kitab Mabadi' Khoyri Ummah ditayangkan Youtube Krapyak Official.

Jakarta, NU Online

Pengasuh Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) menegaskan bahwa keberanian bukanlah sikap nekat tanpa perhitungan, tetapi juga bukan ketakutan yang membuat seseorang diam di tempat.

 

Ia menjelaskan bahwa keberanian atau syaja’ah merupakan sifat mendasar yang menyertai manusia dalam seluruh aspek kehidupan.


"Berani itu ukurannya maju. Tapi harus disertai dengan pertimbangan akal,” ujarnya dalam pengajian Ramadhan Kitab Mabadi' Khoyri Ummah yang tayang dalam kanal Youtube Krapyak Official, diakses NU Online pada Sabtu (28/2/2026).

 

Gus Hilmy menegaskan bahwa keberanian diperlukan untuk membela diri maupun memperjuangkan sesuatu yang bernilai dan berharga.


“Tidak ada urusannya laki-laki atau perempuan. Tidak ada urusannya badan besar atau kecil. Keberanian juga bukan monopoli orang yang membawa senjata,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari berbicara di depan umum, mengajak kepada kebaikan, hingga mencegah kemungkaran, semuanya membutuhkan keberanian.

 

Gus Hilmy menekankan bahwa Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk memiliki keberanian yang proporsional. Ia mengutip perintah untuk melawan pihak yang menyerang, namun dengan batasan agar tidak melampaui batas.

 

“Kalau kamu diperangi, jangan mundur. Tapi jangan berlebih-lebihan. Allah tidak menyukai yang melampaui batas,” ucapnya.

 

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad Saw bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Kekuatan yang dimaksud, menurutnya, bukan semata fisik, tetapi juga mental dan spiritual.

 

“Mukmin kuat itu sehat jasmani, rohani, dan mentalnya. Jangan jadi penakut. Kalau tidak salah, kenapa harus takut?” katanya.

 

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menyampaikan bahwa posisi keberanian menjadi jalan tengah di antara penakut (jubn) dan nekat atau ngawur (tahawwur).

 

"Keberanian itu sifat yang moderat, di tengah antara penakut dan ngawur. Kalau penakut itu kebangetan, kalau ngawur itu keterlaluan. Di tengah-tengahnya itulah keselamatan,” ujarnya.

 

Ia mendefinisikan penakut sebagai sikap takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti.


“Takut itu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak semestinya ditakuti. Padahal dia mampu, tapi tidak mau maju,” katanya.

 

Menurutnya, sikap penakut akan berujung pada kehinaan dan kemiskinan. “Penakut itu pasti kedudukannya rendah dan hidupnya miskin,” tegasnya.

 

Sebaliknya, sikap nekat adalah bertindak tanpa pertimbangan dan strategi. “Maju tanpa akal itu junun, edan. Itu bukan berani, tapi ngawur,” ujarnya.


Gus Hilmy mencontohkan seseorang yang tampil tanpa persiapan atau melawan lawan yang jelas lebih kuat tanpa strategi sebagai bentuk kenekatan yang berujung kegagalan.


Ia menekankan bahwa akal dan strategi harus didahulukan sebelum keberanian diwujudkan dalam tindakan. “Yang pertama itu pikirannya, pertimbangannya. Setelah itu baru maju. Kalau dua hal ini berkumpul, akal dan keberanian, orang bisa mencapai tempat tertinggi di mana saja,” ucapnya.

 

Gus Hilmy menyampaikan bahwa keberanian perlu dilatih sejak hal-hal kecil. “Kalau Anda mampu menjadi imam, majulah. Kalau mampu memimpin, jangan takut. Tapi siapkan ilmunya, siapkan strateginya. Berani itu maju dengan akal,” pungkasnya.