Literasi Anti-Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perkuat Keberanian untuk Bertindak
NU Online · Selasa, 10 Februari 2026 | 08:00 WIB
Redaktur NU Online Aru Lego Triono saat menjadi narasumber dalam workshop penguatan literasi anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak di Hotel Grand Orchardz, Kemayoran, Jakarta, Senin (9/2/2025). (Foto: NU Online/Mufidah)
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) menggelar workshop penguatan literasi anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak di Hotel Grand Orchardz, Kemayoran, Jakarta, Senin (9/2/2025).
Sekretaris Umum PP ISNU Wardi Taufik menyampaikan bahwa literasi anti-kekerasan bukan hanya soal pengetahuan, melainkan keberanian untuk mengenali, mencegah, dan bertindak ketika kekerasan terjadi.
“Literasi anti-kekerasan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi tentang keberanian untuk mengenali, mencegah, dan bertindak ketika kekerasan terjadi. Oleh karena itu, kegiatan ini mendorong lahirnya aksi nyata melalui jejaring yang aktif dan berkelanjutan,” kata Wardi.
Wardi menjelaskan bahwa jejaring yang dibangun merupakan jejaring kerja yang nyata dan fungsional, bukan sekadar simbolik. Menurutnya, jejaring tersebut melibatkan berbagai pihak agar upaya pencegahan dan penanganan kekerasan dapat dilakukan secara sinergis sehingga korban tidak merasa sendirian ketika mencari pertolongan.
“Jejaring ini menghubungkan komunitas, pendidik, tokoh masyarakat, layanan kesehatan, pendamping hukum, dan aparat agar pencegahan serta penanganan kekerasan berjalan secara terpadu, sehingga korban tidak kebingungan, tidak takut, dan tidak sendirian saat mencari pertolongan,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Redaktur NU Online Aru Lego Triono sebagai narasumber menjelaskan bahwa sebagai sarjana dan intelektual NU, ISNU memiliki otoritas moral dan akademik, sehingga narasi keagamaan harus menjadi pelindung, bukan justru pembenar kekerasan.
“Pendekatan ilmiah perlu dipadukan dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Konten harus berbasis data, etika, dan perspektif korban. Melawan kekerasan tidak cukup dengan kemarahan, kita butuh narasi yang benar, empatik, dan mencerahkan,” ujar Aru.
Ia menekankan bahwa ISNU dapat menjadi pelopor dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, nilai Islam, dan kreativitas digital untuk melindungi perempuan dan anak serta mendidik generasi muda.
Aru mendorong agar PP ISNU membentuk Tim Literasi Digital Anti-Kekerasan di tingkat pusat, menyusun panduan narasi anti-kekerasan berbasis nilai keislaman dan akademik, serta memperkuat kolaborasi dengan psikolog, pendamping korban, dan lembaga perlindungan perempuan dan anak.
Selain itu, ia juga mendorong kader ISNU di kampus untuk memproduksi konten edukatif dan menggelar kampanye rutin pada momentum strategis, seperti Hari Anak dan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan.
“Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, termasuk di ruang digital. Banyak konten justru menyalahkan korban atau menormalisasi kekerasan. Media sosial menjadi ruang utama anak muda membentuk opini. Literasi bukan hanya soal membaca, tetapi memahami, menyikapi, dan memproduksi pesan. Narasi yang salah bisa melukai korban dua kali,” tutupnya.
Workshop ini juga menghadirkan Rofi Uddarojat dari TikTok Indonesia yang memberikan tips dan trik agar konten dapat muncul di For You Page (FYP). Ia meminta peserta untuk memikirkan ide besar yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana agar mudah diterima oleh warganet.
"Konten itu perlu ada hook-nya. Bisa dengan pertanyaan, ambil kutipan dari akhir, atau dua kalimat yang bisa membuat orang penasaran dan tertarik nonton konten kita. Kuncinya, kita harus konsisten," katanya.
Terpopuler
1
Disambut Ketum PBNU, Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Harlah 100 Tahun NU di Malang
2
Resmi Dikukuhkan, Ini Susunan Pengurus MUI Masa Khidmah 2025-2030
3
1.686 Warga Padasari Tegal Mengungsi, Tanah Bergerak di Tegal Masih Aktif
4
Ratusan Ribu Warga Dikabarkan Bakal Hadiri Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang
5
Pemerintah Nonaktifkan 13,5 Juta Peserta PBI JKN, Mensos Gus Ipul: Dialihkan ke Warga Lebih Miskin
6
Ansor University Jatim Buka Pendaftaran Ramadhan Academy, Tiga Kelas Intensif Gratis
Terkini
Lihat Semua