Berlari Seperti Arif
NU Online Ā· Sabtu, 16 Mei 2015 | 04:01 WIB
Ā āPas jaman baheula jasa. Allah marentahan Malaikat Jibril supaya ngajemput Nabi Muhammad pang tepang sareng Allah. Jarak yang mereka lalui yaitu dari Masjidil Haram di Mekah. Sampai ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lantas sampai ke Allah.ā Pak Ujang bercerita. Itulah triknya agar pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini lebih menarik. Aku memperhatikan takdzim.<>
āJarakna sabaraha asta?ā Salah seorang teman bertanya.
āTeubih jasa! Tapi, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril hanya butuh waktu satu malam. Wush!! Lebih cepat dari kecepatan cahaya!ā Pak Ujang menirukan gerakan pesawat lewat dengan tangan kanannya. Menambah ketakjuban kami.
āNaek apa, Pak? Kan jaman segitu belum ada pesawat terbang?ā
āPertanyaan yang cerdas! Mereka naik Buraq. Semacam binatang yang seperti kuda, tapi bukan kuda. Badannya panjang. Cepat sekali larinya...ā Tiba-tiba Arif muncul dari pintu kelas sambil terengah-engah. Seragam putih merahnya berantakan. Sepertinya ia berlari dari rumahnya. ā... secepat larinya si Arip!ā Sontak seisi kelas tertawa lepas.
āTos timana anjeun arip?ā
āPunteun, Pak. Hosh...hosh... Rumah abdi jauh. Saya berangkat jam tujuh kurang dari rumah, Pak. Saya sudah berusaha lari. Tapi tetep telat. Maap, Pak!ā Arif bercerita dengan nafas tersengal.
āKalau tak mau telat, berlarilah seperti Buraq!ā Seisi kelas kembali tertawa. Arif dipersilahkan duduk. Ia duduk di sampingku. Wajahnya mengguratkan raut wajah jengkel. Namun, selayaknya anak SD pada umumnya. Jengkel itu pudar selaras dengan berjalannya waktu. Dan benar-benar hilang saat bel istirahat berbunyi.
āBerlari seperti Buraq!ā
***
Padang rumput hijau nan indah terpapar di hadapanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku tak tahu tempat apa ini. Dan akupun tak tahu bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Seingatku, aku masih di kelas bersama Arif. Entahlah. Kawanan binatang sejenis kuda ānamun bukan kuda, berwarna putih dan berkaki empat berkumpul tak jauh dari tempatku berdiri. Entah binatang apa itu. Ada tulisan arab yangĀ tak asing tertulis di kening mereka. Sepayang sayap mengepak tertempel di paha mereka. Unicorn? Pegasus? Entahlah. Mereka tak terlihat seperti binatang mitos itu.
Seekor binatang memisahkan diri dari kawanannya. Ia seperti menangis tersedu. Tak lama kemudian, seseorang berjubah putih menghampirinya. Wajahnya tak terlihat jelas. Terbias cahaya dibelakangnya.
āMengapa kau menangis wahai Buraq?ā dengan halus orang itu bertanya. Seakan bertanya pada anak-anak yang menangis di pinggir jalan kelaparan. āUh! Buraq?ā Batinku. Apa aku tak salah dengar? Inikah Buraq yang diceritakan Pak Ujang?
āAku sering sekali mendengar nama Muhammad bin Abdullah. Namun, tak sedetikpun aku melihat wajahnya. Rindu iniĀ tak terperi padanya wahai Jibril.ā Buraq itu menjawab. āUh! Jibril?ā Batinku. Dunia apa ini? Di mana sebenarnya aku?
āBaiklah. Aku akan mempertemukanmu dengan Muhammad. Aku mendapat tugas bersama Mikail untuk menjemputnya. Kau akan mengantarnya dari Haram ke Aqsa. Kau bisa menjadi tunggangan yang cepat untuknya.ā Mimik wajah Buraq berubah sumringah. Merasa cukup. orang berjubah (Jibril) pergi meninggalkan Buraq.
Namun, sesaat setelah Jibril pergi, Buraq kembali termenung. Ia teringat kata-kata ācepatā yang diucapkan Jibril. Aku mencoba melangkah mendekatinya. Namun, langkahku terhenti karena ada seorang lagi yang menghampiri Buraq tersebut. Aku mengernyitkan dahi saat tahu siapa orang itu. Arif?
āApa yang salah denganmu Buraq?ā Tanya Arif.
āAku akan mengantar Muhammad. Namun, Jibril memintaku untuk menjadi tunggangan yang cepat untuknya. Namun, lariku tak secepat Buraq lainnya.ā Arif tersenyum mendengar jawaban Buraq.
āBaiklah Buraq. Berlarilah bersamaku. Akan kuajari kau berlari sebanding, bahkan lebih cepat dari mereka. Aku biasa melakukannya dari rumah ke sekolah.ā Arif mengambil ancang-ancang.
Awalnya, mereka hanya berlari-lari kecil. Namun, setelah beberapa saat kecepatan mereka bertambah. Sehingga aku tak dapat melihat gerakan mereka .
Wush!!
Suasana kembali gelap.
***
Perlahan, cahaya kembali muncul dan menghiasi penglihatanku. Nampaknya, aku kenal tempat ini. UKS. Bau obat segera memenuhi hidungku.
āKumaha, Ji?ā Arif dengan tenang menanyaiku dari samping tempat tidur.
āSakit sekali kepala ini!ā Aku memegangi kepalaku.
āAnjeun pingsan di kelas tadi. Pak Ujang memintaku untuk membawamu ke UKS.ā
Sesaat, aku teringat sesuatu. āAduh!ā
āAya naon Pauji?ā Arif panik mendengarku mengaduh.
āSurat titipan si ambu kanggo bu guru katinggaleun di bumi. Padahal tadi ntos di duhureun meja.ā Aku mengutuk diriku sendiri. Arif hanya tersenyum melihatku mengaduh.
āTunggu sebentar!ā Arif mengambil ancang-ancang. Dan Wush!! Larinya tak terlihat. Belum habis rasa takjubku, Arif sudah kembali membawa surat yang kumaksud.
āNih suratnya!ā Arif menyodorkan surat itu, āUlah ditinggalkeun deui nya!ā
Aku tercengang. Buraq? Lebih baik aku kembali pingsan. Buk!
Krapyak, 13 Mei 2015
----
Muhammad Alvin Fauzi, Siswa MA Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, aktif di Program Unggulan Menulis di MA Ali Maksum Ā
Terpopuler
1
Hakim Praperadilan Putuskan Polda Metro Jaya Lanjutkan Proses Hukum Andrie Yunus
2
Innalillah Sesepuh Buntet Pesantren dan Rais Syuriyah PBNU KH Adib Rofiuddin Izza Meninggal Dunia
3
Ketum PBNU: Kiai Adib Mewakafkan Diri untuk Jam'iyyah dan Jamaah
4
Munas dan Konbes NU 2026 Digelar di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri
5
Khutbah Jumat: Dua Bekal yang Menyelamatkan Manusia di Akhirat
6
Copot Dadan Hindayana, Presiden Prabowo Tunjuk Naniek S Deyang Jadi Kepala BGN
Terkini
Lihat Semua