Daerah

Dorong Dokumentasi Tradisi dan Budaya Lokal, Mahasiswa Unnes Inisiasi Penulisan Kampung

NU Online  ·  Sabtu, 7 Februari 2026 | 21:00 WIB

Dorong Dokumentasi Tradisi dan Budaya Lokal, Mahasiswa Unnes Inisiasi Penulisan Kampung

Kegiatan workshop penulisan kampung bersama mahasiswa Unnes dan Adin Hysteria (Foto: dok istimewa/Ahdiat Galih)

Rembang, NU Online

Dua mahasiswa magang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar workshop penulisan kampung di Rumah BUMN Rembang, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan tradisi lokal, khususnya sedekah bumi di Desa Sekar Arum, Kecamatan Sumber.


Kedua mahasiswa tersebut, Afrizal Akmal dan Ali Akbar, memaparkan teori serta hasil penelitian mengenai tradisi sedekah bumi yang masih hidup di tengah masyarakat. Mereka menekankan pentingnya pembaruan penelitian (novelty), mengingat budaya bersifat dinamis dan terus berkembang seiring perubahan zaman, teknologi, dan interaksi sosial.


“Penelitian yang diperbarui memastikan pemahaman tentang nilai, tradisi, dan perilaku masyarakat tetap relevan dan akurat,” ujar Afrizal kepada NU Online.


Ali Akbar menambahkan, workshop ini berangkat dari keprihatinan atas mulai terkikisnya tradisi dan budaya lokal di Rembang. Menurutnya, regenerasi pelestari budaya semakin melemah karena minimnya keterlibatan generasi muda.


Melalui kegiatan tersebut, panitia menargetkan luaran berupa buku sebagai arsip dan dokumentasi tertulis tradisi sedekah bumi.


“Harapannya, ada rekam jejak tertulis yang bisa diwariskan dan menjadi pegangan generasi selanjutnya,” katanya.


Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Semarang, Ahdiat Galih, menilai tradisi diskusi di Rembang masih minim sehingga persoalan daerah jarang dibahas secara mendalam, apalagi ditindaklanjuti menjadi gerakan nyata.


“Bagaimana kita mau berubah kalau tidak pernah membicarakan Rembang itu sendiri. Diskusi jarang, eksekusi lebih jarang lagi,” ujarnya.


Menurutnya, workshop penulisan kampung dapat menjadi pemantik semangat kolektif. Ia menekankan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari wacana besar, melainkan dari kampung sebagai unit terkecil dalam sistem pemerintahan.


“Kalau mengurus kampung saja tidak bisa, bagaimana mau mengomentari negara. Selesaikan dulu yang ada di sekitar,” tegasnya.


Senada dengan itu, Akhmad Khairudin atau Adin Hysteria Semarang menyoroti pentingnya penelitian terhadap unsur-unsur dalam tradisi sedekah bumi, seperti punden dan danyang sebagai bagian dari warisan leluhur kampung.


“Pendataan punden dan danyang masih sangat minim. Padahal, dua cagar budaya ini berpotensi hilang jika tidak dilestarikan,” ujarnya.


Ia menilai minimnya penelitian justru menjadi peluang untuk mengembangkan kajian budaya lokal sekaligus memperkaya khazanah pengetahuan yang selama ini terabaikan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang