Daerah

Kiai Kampung Ini Ingatkan Pentingnya Doa dalam Keseharian

NU Online  ·  Sabtu, 17 Maret 2018 | 07:00 WIB

Jombang, NU Online
Ketika mengisi pengajian rutin pada Jumat Kliwon di rumah salah seorang warga di Jombang, KH Nurhadi menjelaskan pentingnya berdoa.Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan. 

"Siap atau tidak, kita akan masuk bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan. Orang yang siap pasti beda dengan yang tidak siap. Salah satu persiapan yang paling utama adalah doa," kata Mbah Bolong, sapaan akrabnya, Jumat (16/3).

Pada saat yang bersamaan, ia lantas mengajak para jamaah berdoa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sa’bana wa ballighna Ramadan.

“Dengan doa itu, niscaya kita diberi Allah taufik dan hidayah sehingga bisa memperbanyak amal shaleh pada ketiga bulan mulia tersebut,” kata pegiat majelis Seribu Rebana atau Serban tersebut. 

Berdoa, kata Mbah Bolong, adalah kunci ibadah. “Makanya kita dianjurkan berdoa dalam segala hal,” jelas alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tersebut. 

Ketika hendak makan, minum maka diperintah membaca doa. Kala mau tidur, bangun juga demikian. “Mau jima baca doa, hajatan juga diperintahkan membaca doa. Bahkan ada peristiwa kehamilan, kelahiran, kematian, serta mendapat nikmat ataupun musibah, juga berdoa,” urainya.

Pada pertemuan tersebut, Mbah Bolong juga mengingatkan bahwa makna shalat adalah doa. Karena itu, orang yang paling baik shalatnya, adalah yang mau berdoa usai shalat. 

“Sebagaimana dalam Tafsir Jalalain, khususnya surat al-Insyirah ayat 7 hendaknya mengikuti kebaikan dengan kebaikan," sarannya.

Karenanya setelah sedekah, zikir, membaca al-Qur'an, shalawat, dianjurkan pula membaca doa wahbah atau doa hadiah yang ada dalam buku tahlil. Sehingga pahalanya dilipatgandakan sebanyak orang yang dikirimi.

Doa, kata Mbah Bolong, merupakan bukti keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa dimintai pertolongan. “Hanya Allah yang bisa menyelesaikan masalah, hanya Allah yang bisa mengubah nasib dan takdir,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia bercerita Nabi Musa pernah munajat kepada Allah meminta ditunjukkan temannya di surga kelak. Ternyata temannya adalah orang biasa yang sangat berbakti, dan orang tuanya mendoakan agar si anak jadi teman Nabi Musa di surga. "Jadi, yang menjadi penyebab bisa menemani Nabi Musa di surga adalah doa,” urainya.

Dalam kisah yang lain, Mbah Bolong ini menceritakan ulama yang hafal al-Qur’an mendatangi suatu kampung. Ketika dia jadi imam shalat, bacaannya sempat keliru. Ternyata yang mengingatkan adalah jamaah paling tua.

“Usai shalat, sang ulama ngobrol dengan kakek tersebut. Usia kakek itu sudah 80 tahun lebih, dan ternyata hafal al-Qur’an. Hebatnya lagi, dia mulai menghapal pada usia 60 tahun,” kisahnya.

Kok bisa? "Orang tua selalu mendoakan saya agar bisa hafal al-Qur’an setiap usai shalat. Juga setiap melihat dan ingat saya,” katanya. Doa doa orang tuanya ternyata dikabulkan Allah SWT.

“Bakti anak, baru akan  sempurna ketika si anak sudah mampu mengikuti kebaikan-kebaikan sang orang tua,” pungkas kiai kampung ini. (Red: Ibnu Nawawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang