Surabaya, NU Online
Saat mengisi kajian Shubuh di Masjid Al-haq, Rungkut Permai Surabaya, Ahad (18/3), Ustadz Nur Fauzi Ahsan menjelaskan keutamaan Bulan Rajab. Di hadapan jamaah yang terbilang beragam dan multi kultural tersebut, Ustadz Fauzi memaparkan betapa umat Islam semakin dewasa.
“Dewasa ini, pro dan kontra tentang puasa Rajab mulai menurun,” katanya mengawali pengajian.
Dalam pandangan dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut, hal tersebut tidak lain karena dua hal.
“Pertama, umat Islam Indonesia semakin cerdas dan luas dalam mengakses ilmu sehingga pola berpikirnya berdasarkan nilai obyektifitas, bukan subyektifitas yang bermodalkan fanatisme semata,” kata alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan tersebut.
Sedangkan faktor kedua, mereka yang awalnya menentang kesunnahan puasa di Bulan Rajab, sudah mulai dewasa dalam menyikapi perbedaan. “Walaupun berbeda, tetap saling menghargai antara satu dan lainnya,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, anggota Dewan Pakar Pimpinan Wilayah Aswaja NU Center Jatim ini menyampaikan sejumlah dalil Al-Qur’an dan hadits serta ijma’ ulama tentang kekuatan hujjah puasa Rajab.
“Mereka yang ingkar terhdap dalil-dalil puasa Rajab berarti benar-benar dalam kebodohan,” katanya sembari menukil pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Pada kesempatan tersebut, dirinya mengajak agar umat Islam tidak lagi mempertanyakan puasa Rajab itu sunnah atau bid'ah.
“Karena Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yakni ulama Saudi yang kerap dijadikan rujukan telah berfatwa puasa Rajab adalah sunnah,” jelasnya. Kapaupun tidak mengatakan sunnah, berpuasa Rajab tidak ada yg mengatakan haram, paling tinggi adalah makruh, lanjutnya.
Yang pasti, menurut Ustadz Fauzi, dalam bulan Rajab umat Islam dianjurkan memanjatkan doa keberkahan sebagaimana sering didengar di sejumlah surau atau mushalla sebelum pelaksanaan shalat. Allahumma bariklana fii Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhana.
“Ternyata doa keberkahan yang sering menjadi puji-[ijian sebelum shalat itu, merupakan pesan berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh sahabat al-Bazzar dan al-Thabrani,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)