Daerah

LBM PCNU Banjar Gelar Muzakarah Tematik Rutin Khusus Perempuan

NU Online  ·  Jumat, 13 Februari 2026 | 13:00 WIB

LBM PCNU Banjar Gelar Muzakarah Tematik Rutin Khusus Perempuan

Muzakarah bahtsul masail perempuan LBM PCNU Banjar. (Foto: istimewa)

Banjar, NU Online

 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banjar melalui Lembaga Bahtsul Masail (LBM) melaksanakan muzakarah khusus putri. Hal tersebut bertujuan untuk melahirkan kader putri unggulan dalam berbahtsul masail.

 

Kegiatan tersebut berlangsung secara rutin setiap pekan di Aula Guru Tuha, Kantor PCNU Kabupaten Banjar, setiap hari Ahad siang, pukul 13.30 - 15.00 WITA.

 

Sekretaris LBM PCNU Banjar Anwar Syarif mengatakan muzakarah ini menjadi upaya menghidupkan tradisi kajian kitab kuning yang selama ini melekat dalam kultur keilmuan Nahdlatul Ulama.

 

“Tujuan utamanya sebagai wadah belajar dan mengkaji kitab kuning. Bagi warga nahdliyyin, ini merupakan tradisi dasar dalam ke-NU-an,” katanya saat ditemui pada hari selasa, (10/2/2026) di Kantor PCNU Kabupaten Banjar.

 

Sementara itu, Koordinator dan Penggagas muzakarah Hasna mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wadah bagi mahasantriwati dan mahasiswi untuk mempertajam nalar keilmuan keislaman.

 

"Muzakarah tersebut merupakan wadah bagi perempuan, khususnya perempuan NU untuk meningkatkan kompetensi keilmuan keislaman, khususnya ilmu fikih," tuturnya di hari yang sama.

 

Mengenai konsep muzakarah yang dipakai, yaitu menggunakan sistem kajian tematik, dipimpin satu sampai dua narasumber. Narasumber tersebut bergantian setiap minggunya dengan satu moderator yang memandu jalannya muzakarah.

 

"Adapun konsep muzakarahnya, kita memakai sistem tematik. Dipimpin oleh narasumber dan dipandu oleh moderator. Setiap minggu narasumbernya kita roling. Jadi, semua peserta akan menjadi narasumber sesuai gilirannya," sambungnya.

 

Setelah penyampaian materi selesai, dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi. Tak jarang, para peserta saling berdebat satu sama lain tentang tema yang sedang dibahas.

 

Hasna juga menyampaikan terkait bahan utama dalam muzakarah tersebut. Selain itu, ia jua mengatakan kitab-kitab lainnya sebagai penunjang yang wajib di muthalaahi.

 

"Adapun bahan utama dalam muzakarah tersebut adalah kitab Fathul Qorib dan Hasyiah Bajuri. Ditambah dengan kitab penunjang lainnya yaitu Nihayatuzein, Mughnil Muhtaj, I'anatu Thalibin, Kifayatul Akhyar dan Al-Iqna," jelasnya.

 

Ia berharap kegiatan ini tidak hanya sebagai pembentukan kader bahtsul masail putri, tapi juga sebagai wadah lahirnya dan kokohnya keilmuan-keilmuan yang sudah mulai ditinggalkan pemudi.

 

"Ulun berharap semoga kegiatan muzakarah ini tidak hanya sebagai titik awal kaderisasi bahtsul masail putri. Tapi juga merupakan wadah menghidupkan kembali keilmuan-keilmuan yang sudah mulai ditinggalkan pemudi, khususnya pemudi banjar. Bahwa Ilmu Fiqih bukan sebatas kenangan yang tertulis rapi di dalam kitab, melainkan sebuah warisan intelektual yang harus kita lestarikan," harapnya.

 

Sementara itu, Ruqayah, salah satu peserta muzakarah, mengatakan bahwa ia sangat bersyukur dengan diselenggarakannya muzakarah tersebut. Pasalnya, muzakarah ini merupakan wadah yang ia rindukan selama ini. Mengkaji fikih secara mendalam dan kritis dengan tetap menjaga adab.

 

"Ulun (saya) bersyukur ada muzakarah ini. Kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi ulun selaku mahasiswi. Karena di sini kita tidak hanya sekedar mendengarkan narasumber, tetapi juga aktif dalam berpendapat. Di sini kita diskusi secara mendalam, mengkaji persoalan fiqih secara kritis dan bertanggung jawab, melatih keberanian kita dalam berargumen dengan tetap menjaga adab," ungkapnya saat diwawancarai pada Selasa, (10/2/2026) via daring.

 

Ia juga berharap semoga muzakarah ini menjadi pilar keilmuan putri NU, dan merupakan sebuah wadah untuk mengokohkan peran perempuan dalam kajian keislaman.

 

"Harapan ulun semoga muzakarah ini mampu menjadi pilar keilmuan perempuan NU. Juga sebagai wadah berporses mengokohkan peran perempuan dalam kajian keilmuan keislaman tanpa kehilangan nilai-nilai ketawadhuan santri. Menjadi rujukan dan tempat kaderisasi perempuan yang berintegritas dan berwawasan luas," harapnya.

 

Muzakarah tersebut diikuti sebanyak 10 sampai 15 orang. Peserta tersebut berasal dari Ma'had Aly Darussalam, Institut Agama Islam Darussalam, dan juga diikuti oleh IPPNU Kabupaten Banjar.

 

Kontributor: Muhammad Fahrie

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang