Madzhab Asy’ariyah, Pelanjut Madzhab Salaf dan Sahabat
NU Online · Rabu, 2 Juli 2014 | 23:02 WIB
Jombang, NU Online
Persatuan Alumni Asrama Sunan Ampel (Perkasa) mengadakan Nadwah Ilmiah tentang Sekte-sekte Islam selama Ramadhan. Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan membekali pemahaman Aswaja kepada para santri kelas tiga di tingkat SLTA di Asrama Sunan Ampel Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
<>
“Yang menjadi narasumber kegiatan ini adalah para pakar di bidangnya dan juga beberapa doktor,” ujar Zunin, ketua panitia, yang merupakan pengurus LTN-NU Jombang, Selasa (01/07), kepada NU Online.
“Materi pertama adalah Ghazwul Fikr atau perang pemikiran yang disampaikan Wakil Syuriyah PCNU Jombang, KH. Wazir Ali, dan materi kedua yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah yang disampaikan Ketua Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto," ujar ustadz yang alumni Universitas Al-Azhar Mesir ini.
Sebagaimana terbaca dari TOR, selain ghazwul fikri sebagai pengantar dan Aswaja, materi yang disampaikan juga antara lain tentang orientalisme, oksidentalisme, salafi-wahabi, neo-muktazilah, dan syi’ah.
“Imam Abu Hasan Al-Asy’ari itu pelanjut, yang mensistematiskan ajaran para ulama salaf dan ajaran Rasululluh melalui sahabat, sehingga madzhab Ahlussunnah itu sebenarnya bukanlah madzhab yang baru ada,” demikian dikatakan Ketua Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto dalam Nadwah Ilmiyah pada Selasa malam (01/07) di asrama Sunan Ampel, Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.
Terkait pandangan ulama salaf dalam menafsiri ayat mutasyabihat (yang sukar dipahami; tidak jelas; multi makna), ia menganjurkan untuk mengembalikannya kepada ayat-ayat lain muhkamat (yang sudah tegas maksudnya; mudah dipahami).
Demikian pula hadits, ada hadits yang makna literalnya seolah akan mengesankan bahwa Allah serupa dengan makhluk. Menurutnya, hadits semacam ini mesti dikembalikan kepada al-Quran yang muhkamat dan hadits yang muhkamat.
Yusuf mengatakan, ulama salaf walaupun cenderung menggunakan tafwidl mereka juga menakwil sebagaimana takwil adalah kecenderungan mayoritas ulama khalaf. Menjelaskan definisi tafwidl, mengutip pandangan ulama Ahlussunnah dikatakannya,
“Shorfu al-lafdz ‘an dhohirihi ma’a ‘adamil-ta’arrudl libayanil-ma’nal-murodi minhu bal yutraku wa yufawwadlu ‘ilmuhu ilaLlahi (tafwidl adalah memalingkan teks dari makna dzahirnya serta tidak menyinggung makna yang dimaksud, tapi dibiarkan dan ilmunya diserahkan kepada Allah).”
“Jadi setiap dalil nash yang mengarah kepada penyerupaan Allah dengan makhluk, maka hendaknya kita takwilkan atau serahkan maknanya kepada Allah, dan kita sucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya,” ujar Yusuf. (Fajar Ardana/Mahbib)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
Terkini
Lihat Semua