Menulis merupakan aktifitas bermanfaat yang memerlukan perjuangan untuk menghasilkan karya terbaik. Menulis bisa diibaratkan seperti saat seseorang mengungkapkan cinta pertama kepada pujaan hatinya. Awal mulanya penuh perjuangan namun diakhirnya akan merasakan hasil dan kepuasan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Mayoritas kendala yang dihadapi saat mengawali aktifitas menulis adalah keraguan untuk mengawali karena rasa takut membuat kesalahan dan kurang percaya diri terhadap hasil yang nantinya dibuat. Minimnya ide, kesempatan, dan kesemangatan juga sering yang menjadi kendala dalam menghasilkan karya literasi.
Hal ini disampaikan penulis dan motivator, Dudung Nurullah Koswara di depan para guru di Lampung dalam acara Training of Trainer (TOT) Guru Menulis Se-Provinsi Lampung yang diselenggarakan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Lampung, Sabtu (28/7).
"Menulis, menulis dan menulis. Kualitas nomor dua. Jangan ragu-ragu. Jadilah jiwa-jiwa yang produktif jangan menjadi guru pohon pisang di era literasi berbuah hanya sekali setelah itu mati," ajak Ketua PGRI Sukabumi ini pada acara yang diselenggarakan di Hotel Krida Wisata Bandarlampung.
Aktifitas menulis bagi guru, lanjut sosok yang nyentrik dengan kaca mata hitam dan busana bertemakan PGRI ini, juga merupakan pesan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 41 ayat 2 yang menyebutkan bahwa guru didorong terus meningkatkan kompetensi dalam memajukan profesi. Diantaranya adalah dengan mengasah kemampuan menulis.
"Guru ideal itu aktif berorganisasi, berteknologi, berliterasi, bersinergi dan berjejaring. Guru mulia karena karya," ungkap Dudung yang menyebut dirinya bukan penulis tapi 'provokator' menulis pada acara yang mengangkat tema Menulis Meningkatkan Kompetensi Guru Profesional.
Dudung memotivasi para guru di Lampung untuk tidak malu, takut dan menunjukkan keberanian dalam menulis. Memang gangguan kepercayaan diri ungkapnya, merupakan masalah utama yang dihadapi para guru di Indonesia.
"Guru wajib menulis. Jangan berhenti menulis. Tulisan memiliki kekuatan sendiri dan mampu menjadi senjata yang ampuh untuk membuat perubahan," tegasnya kepada guru-guru yang kedepan akan menjadi pioner di Provinsi Lampung untuk meningkatkan motivasi menulis di kabupaten dan kota masing-masing.
Sementara itu, Ketua PGRI Lampung Wayan Satria Jaya mengatakan bahwa menulis memang merupakan hal yang tidak mudah bagi guru. Namun untuk meningkatkan kompetensi pendidik, guru harus mengalahkan keraguan dan terus menjadi jiwa yang produktif khususnya dalam dunia tulis-menulis.
"Kalau dokter menyembuhkan orang sakit maka guru menyembuhkan orang yang tidak tahu. Perlu diingat, tugas guru bukan hanya investasi di dunia. Namun profesi guru juga jadi PMA alias Penanam Modal Akhirat," pungkasnya. (Muhammad Faizin).
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Pelaku Pelecehan Santriwati di Pati Sudah Dinonaktifkan
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama Mei 2026
4
Warga Geruduk Pesantren Ndholo Kusumo Pati, Tuntut Pengusutan Dugaan Pelecehan Seksual
5
PBNU Kutuk Keras Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Pati
6
10 Tuntutan BEM SI dalam Aksi Hari Pendidikan Nasional 2026 di Jakarta
Terkini
Lihat Semua