Rembang, NU Online
Mimbar khutbah masjid Jami' Lasem diyakini berusia lebih dari420 tahun, kata pengamat sejarah dan sekaligus pengurus masjid jami' Lasem Abdullah Hamid, Jum'at (18/7). Ia menambahkan dari mimbar itu pula, menjadi saksi bisu perlawanan terhadap penjajah Belanda, yang berpusat di wilayah Kecamatan Lasem.<>
Mimbar yang berukuran sekitar panjang 3 meter dan lebarnya 1 meter ini, di tempatkan di sebelah utara pengimaman masjid Lasem dan masih sering digunakan untuk aktifitas khutbah setiap hari jum'ah. jika dilihat dari bentuknya, memang terlihat mulai dari pahatan hingga desain menggunakan alat pada zaman dahulu, yang terbuat dari kayu jati tua, yang dipunuhi dengan motif ukiran.
Menurut Abdullah, masjid Jami Lasem biasanya Masjid kuno memiliki mimbar semacam itu. Kalau Masjid zaman sekarang, bentuknya lain. Ia menganggap mimbar tersebut sebagai salah satu aset peninggalan yang harus selalu dijaga.
Abdullah menambahkan, mimbar telah mengiringi sejarah sejak zaman perang Lasem sampai sekarang. Dalam cerita Babad Lasem dikisahkan Mbah Joyo Tirto atau Kiai Baedlawi kerap berkhutbah di mimbar tersebut, untuk menggelorakan semangat nasionalisme masyarakat, berjihad melawan penjajah Belanda sekira tahun 1742 Masehi.
Puncaknya, pejuang pribumi menyerang markas Belanda di Rembang. Masa telah berganti, mimbar lebih banyak berfungsi untuk mengingatkan keislaman umat. Ulama ulama sekelas Kiai Maksoem, Kiai Kholil, Kiai Imam Sofwan dan Kiai muda Sihabudin Ahmad, pernah berkhutbah dari balik mimbar.
Ketika ada peziarah dari luar daerah singgah ke Masjid Jami’ Lasem, rata rata perhatian mereka tertuju pada mimbar khutbah. Ia mengakui memang tersirat kharisma tersendiri.
Dari kharisma para pendahulu pula, harapannya mampu menular kepada jemaah. Giat memakmurkan masjid dan khusyuk beribadah, menunaikan perintah illahi robbi.
Selain itu, di area masjid ini menjadi area pemakaman para tokoh ulama Lasem tak terkecuali salah seoarang yang merupakan pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) Mbah Ma'soem Lasem. Di sekeliling masjid itu juga terdapat makam para tokoh kerajaan kuno Lasem, Bupati Lasem yang akrap disebut mbah Srimpet. (Ahmad Asmu'i/Anam)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua