Pasca Banjir, Harga Daging Naik saat Meugang, Nahdliyin Aceh Utamakan Berbagi
NU Online · Rabu, 18 Februari 2026 | 18:00 WIB
Muhibuddin Penjual Daging Meugang di Ulee Gle dagangannya Sangat Laris di Pidie Jaya (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Harga daging pada tradisi meugang menjelang Ramadhan 1447 H di sejumlah daerah Aceh menembus Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Meski demikian, semangat kebersamaan dan solidaritas warga tetap terjaga.
Di Kabupaten Abdya dan Aceh Selatan, harga daging sapi dan kerbau rata-rata mencapai Rp200 ribu per kilogram. Di Bireuen, harga tercatat Rp180 ribu per kilogram. Sementara di Banda Aceh, Pidie, dan Pidie Jaya, harga berkisar antara Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Kenaikan dipicu tingginya permintaan menjelang Ramadhan serta keterbatasan stok ternak, terutama pasca banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah.
Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan tradisi menyambut bulan suci dengan berbagi dan mempererat silaturahmi.
Di Pidie Jaya, Selasa (16/2/2026), Tgk Masrur mengajak kader Ansor dan nahdliyin menjaga solidaritas di tengah kenaikan harga. “Kalau harga naik, jangan sampai solidaritas kita turun,” ujarnya.
Ia mendorong kader muda untuk peka terhadap kondisi warga kurang mampu, seperti janda dan lansia, agar tetap dapat merasakan kebahagiaan meugang.
Senada, Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A Gani, menyebut meugang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi momentum memperkuat kepedulian.
“Meugang bukan soal seberapa banyak kita membeli, tetapi seberapa banyak kita berbagi,” tegasnya.
Ia mengajak kader Ansor di kabupaten/kota menginisiasi gerakan berbagi daging bagi fakir miskin dan keluarga terdampak kesulitan ekonomi.
Di Abdya, Ketua PC GP Ansor setempat Khairul Huda menyampaikan, meski harga mencapai Rp200 ribu per kilogram, antusiasme warga tetap tinggi. Warga tetap membeli secukupnya tanpa memaksakan diri.
Sementara di Bireuen, kader Ansor mengoordinasikan pembagian daging hasil gotong royong untuk janda dan dhuafa. Warga di sejumlah gampong juga melakukan patungan membeli satu ekor sapi atau kerbau, lalu membaginya sesuai kesepakatan.
Tradisi memasak kuah beulangong dan makan bersama tetap berlangsung di banyak kampung. Di tengah mahalnya harga, nilai kebersamaan tetap menjadi prioritas.
Meugang tahun ini, yang berlangsung pasca musibah banjir, menjadi pengingat bahwa kekuatan sosial masyarakat Aceh terletak pada gotong royong dan solidaritas. Harga boleh meningkat, namun semangat berbagi tetap terjaga.
Terpopuler
1
LF PBNU: Hanya Amerika Utara Berpotensi Mulai Puasa 18 Februari 2026
2
Kemenag dan BMKG Siapkan 133 Titik Rukyatul Hilal Awal Ramadhan 1447 H
3
Perhitungan Hisab Kemenag, Hilal Ramadhan 1447 H di Bawah Ufuk
4
Meski Hilal di Bawah Ufuk, LF PBNU Imbau Perukyah NU Laksanakan Rukyatul Hilal Besok
5
Doa Rasulullah saw Mengawali Bulan Ramadhan
6
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh Kamis 19 Februari 2026
Terkini
Lihat Semua